Copeeet!

Biasanya itu teriakan wajib para wanita yang sudah atau sedang mau dicopet.

“HEH!” Itu teriakan spontan saya. Beberapa hari yang lalu saya menggertak seorang pencopet yang sedang berusaha merogoh tas saya. Hanya satu gertakan namun dengan pandangan sadis dan menusuk tajam, plus aura evil saya yang membara, cukup membuat si pencopet gemetar dan mematung beberapa saat.

Hanya karena menjaga gengsinya sebagai pencopet ia kemudian berusaha berteriak “APA?!” Namun, tampaknya sang pencopet akhirnya sadar, saya bukan sasaran empuk, walaupun benar-benar tampak empuk. Ia pun memilih pergi.

Saya ini bukan preman. Saya cuma orang biasa. Dan saya selalu percaya orang-orang dengan pakaian rapi bisa lebih psikopat dibandingkan para preman kacangan tak tahu diri ini.

Why?

Soalnya kita-kita ini masih punya keluarga yang kita sayangi, yang apapun akan kita lakukan demi kebahagiaan mereka. Kita masih punya kehidupan yang kita cintai. Jadi lebih gahar dalam bertindak terkait dengan survival matters in life.

Jadi, percayalah para preman itu tak segahar anda sebenarnya. Bukan, bukan berarti saya menyuruh anda melawan mereka, toh saya juga lebih suka menghindari mereka, tapi bertindaklah seberani dan sebijak mungkin saja. Pun saya berdoa semoga saya ataupun anda enggak perlu mengalami kejadian seperti itu lagi.

So, just make it sure that the world under your control! ;)

Siapa yang beruntung? – Jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.03

Kata ibu saya, yang nantinya menikah dengan saya akan merasa beruntung, sementara saya berpikir sebaliknya.

Ibu saya berkomentar terus menerus bahwa saya ini sebagai wanita pekerja sangat sensitif dalam hal terkait urusan rumah tangga – saya belum menikah so it refers to nurturing, kitchen matters and so on, sehingga ibu saya menilai saya tahu apa yang harus saya lakukan demi memenuhi kebutuhan bersama.

Saya tidak terlalu bangga dengan pujian itu, karena saya malah berpikir sebaliknya. Ya barangkali nurturing people for only a few days berbeda dengan yang harus ngurusin tiap hari dengan komitmen seumur hidup. Itulah mengapa saya tampak sempurna di mata ibu saya, yang saya kunjungi hanya di saat-saat saya cuti dan libur hari raya.

Kalau mau berbesar rasa sedikit, barangkali saya ini punya bakatlah untuk bisa menjadi pendamping yang okay, tapi apalah arti bakat tanpa kemauan.

Saya ini wanita aneh yang bisa menjadi sangat entertaining dan nurturing, tapi saya wanita tanpa garansi yang bisa pergi kapan saja dan butuh waktu untuk diri sendiri.

Saya bukan tipe wanita normal yang bisa berbasa-basi di acara keluarga terlalu sering, tidaklah seorang wanita yang selalu bisa jadi konyol dan meracau dengan suara aneh di depan anak kecil, bukan anak berbakti yang bisa selalu mendengarkan keluh kesah begitu saja, suka menghabiskan waktu di kedai kopi mahal, dan begitu banyak kekurangan yang merupakan dampak dari kesenangan saya memuja-muja apa yang namanya privacy.

Tapi bukan berarti saya tidak mau menikah dan bertoleransi.

Setelah melihat film I Don’t Know How She Does It, saya makin tahu bahwa kehidupan pernikahan itu memang butuh komitmen tingkat tinggi, untuk itu diperlukan tak sekedar kekasih, gigolo, atau lelaki mapan, namun seorang partner untuk bisa bahu membahu dalam komitmen tersebut.

Saya pun jadi sadar bahwa keanehan yang ada pada diri saya, barangkali halĀ  umum, toh manusia memang tidak ada yang sempurna bukan? Toh banyak orang yang memiliki kekurangan namun tetap terlihat seksi, seperti Johny Depp yang cool tapi creepy, Shak Rukh Khan dengan tariannya yang kadang agak bikin doi norak, dan banyak lainnya. Mungkin saja Susi, si isteri Tukul, memang menganggap bibir suaminya seksi.

Pada akhirnya, beruntung atau tidak beruntung, kitalah yang menentukan. Toh kita tak lagi hidup di jaman Siti Nurbaya, atau memilih jodoh layaknya kucing dalam karung, atau memilih dari daftar nama yang disodorkan orang tua kita seperti lotere dan ketika membukanya kita mendapat pilihan ‘anda kurang beruntung’.

Sebagai wanita masa kini, saya enggan bersembunyi di balik karier saya untuk menutupi status jomblo saya. Saya tidak takut menikah. Saya hanya seperti layaknya seorang pengunjung di theme park, yang harus mengukur nyali sendiri sebelum naik roller coaster.

Barangkali sekarang saya belum beruntung mendapatkan partner dalam hidup saya, tapi paling tidak perbolehkan saya merasa beruntung karena tidak terjebak dalam omongan tetangga atau tuntutan sosial.

Are you lucky?