12 MEGAPIXEL [10]

Oktober 1, 2009

Rasaku padanya sekarang ini cuman salah satu bentuk dari varian pengalaman perasaan terhadap masa lalu.Tidak perlu dianalisa lebih jauh.

Di titik ini, akhirnya hantu bertemu dengan alien. Istri mantan cintaku menyebutku hantu di sepanjang hidup pernikahannya. Sementara dulu ketika mereka menikah, aku menyebut istrinya itu alien, karena ia mendadak datang dan menculik cintaku.

Istri mantan cintaku itu menatapku takjub, dan aku tidak tahu kenapa. Sementara aku masih sering nanar dan tetap menganggapnya alien, karena sekali lagi dia menyeruak hadir dengan tiba-tiba di dalam hidupku.

Sementara calon suamiku mendadak bertindak sebagai wasit.

‘Tenang, semua tenang ya.’ Katanya lirih namun tegas.

Aku tahu dia juga berkata seperti itu untuk dirinya sendiri. Lalu ia menoleh kearahku dengan tatapan bingung sekaligus berusaha memberitahuku bahwa ia mengerti semua kebingungan ini. Dan walau aku tak mau sendirian menghadapi penculik cinta di masa laluku, tapi aku tahu aku harus melepaskannya.

‘Pergilah. Kamu benar, kamu pasti perlu waktu untuk berpikir. Kalau kita berjodoh, kita akan tahu dan saling mencari.’ Kataku tegas sekaligus pedih.

Kemarahan di wajah istri mantan cintaku mendadak sirna mendengar perkataanku barusan. Sementara calon suamiku segera memelukku sesaat sebelum akhirnya ia berlalu pergi.

‘Silahkan duduk.’ Kataku tenang pada istri mantan cintaku.

Lalu kami duduk berhadapan. Diam membisu. Suara detik jam semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda suasana semakin larut dalam kebosanan dan keheningan yang terlalu menekan.

‘Saya… saya… ‘ Kata mulai meluncur dari mulutnya walau hadir dengan tergagap.

Lalu aku memberi senyuman manis padanya, berharap dengan begitu kata-kata yang mengalir darinya bisa mengalir lancar. And here you go.

‘Saya… pengin tahu bagaimana saya menurut mbak.’ Lanjutnya. Lalu ia tertunduk.

Sementara aku terperangah mendengar pertanyaannya.

‘Tolong jawab saya, ya mbak.’ Lanjutnya memohon.

‘Oh… baiklah. Saya akan coba menjawab.’ Kataku tegas menggantung.

Ia mendongak dan menatapku sungguh-sungguh.

‘Kamu adalah orang yang tepat untuknya. Bukan orang lain, bukan pula saya. Dulu saya pernah punya keinginan untuk sedetik saja bisa seperti kamu dengan begitu barangkali saya bisa sedetik juga memilikinya. Tapi saya bukan kamu, dan kamu bukan saya.’ Jelasku tenang.

Dia memandangku tak percaya.

‘Kenapa mbak ingin seperti saya? Toh suami saya selalu menginginkan saya menjadi seperti mbak!’ protesnya pilu.

Aku mendesah dan menggerutu dalam hati karena tiba-tiba masa lalu meminta penjelasan panjang lebar dariku.

‘Kamu mencintai dan memujanya. Saya tidak. Saya menyayanginya, tapi tidak lebih dari itu. Itulah kenapa dia lebih membutuhkan kamu, daripada saya.’ Jelasku makin singkat.

Sekali lagi, ia tampak tak percaya, dan makin terlihat luka di matanya yang bening.

‘Tapi dia mencintai dan memuja, mbak.’ Katanya lirih dan bergetar.

Kata-katanya menghujamku. Aku tidak bisa mendefinisikan perasaan yang tiba-tiba muncul di ruang benakku. Tapi aku tahu pasti bahwa aku harus mengakhiri pertemuan ini dan memberi jawaban pasti yang diharapkannya.

‘Sekarang apa yang mbak rasakan padanya?” tanyanya was-was.

‘Segala hal yang berkaitan dengan rasa yang pernah ada di masa lalu, pastilah akan mudah teraduk pun terurai. Tapi bukan berarti mudah untuk terjalin kembali. Dan dalam kisah ini, tidak mungkin lagi terulang dan terjahit kembali. Saya harap kamu juga mau menghargai perasaan saya. Dan kalau terjadi sesuatu dengan kalian, cobalah kalian menyelesaikannya sendiri. Barangkali saya hanya kambing hitam dari hubungan kamu dan dia. Maaf.’ Jelasku panjang lebar dan penuh emosi.

Aku tiba-tiba benci dan marah bukan karena cinta atau tetek bengeknya, tapi aku marah karena tiba-tiba ada yang merobohkan pintu salah satu bilik dalam hatiku. Hatiku yang dari dulu mengharap sebuah jawaban. Dan kini jawaban itu terucap dari seseorang yang pernah mencurinya dariku.

Aku berpaling menahan air mata. Istri mantan cintaku pun beringsut pergi, mungkin menahan air mata juga.

‘Maafkan saya.’ Itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia beranjak pergi.

Apakah dengan permintaan maafnya itu berarti dia akan ikhlas mengembalikan apa yang telah dicurinya dariku? [To be continued]


12 MEGAPIXEL [8]

Juli 25, 2009

Kesepian ini terlalu gaduh, membuatku tak tenang. Sakit ini tak lagi menyiksa, tapi menetap. Kejujuran ini terucapkan, namun hanya suara trompet kematian yang menyambutnya.


Harus kuacungkan jempol pada calon mertuaku atas sindiran-sindirannya yang sangat mengena, tatap tajam matanya yang menyelidik sekaligus kebijaksanaannya untuk tidak melemparkan pertanyaan to the point padaku.

Acara mengambil foto hasil pre-wed pun berjalan lancar, kalau kepalsuan bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk kesopanan yang sempurna. Lalu saat aku, calon mertuaku dan mantan cintaku keluar dari studio, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang tak kukenali berhenti di lobi tepat di depan kami.

“Nak, mama dijemput temen, tadi lupa bilang sama kamu. Mobil mama kamu pake aja dulu. Gapapa kan, nak?” Tanya calon mertuaku dengan suara penuh penekanan dan senyum maut.

Oh gosh, rencana apa lagi ini? Erangku dalam hati.

Aku mengangguk dan menjawab dengan basa-basi sampai calon mertuaku masuk ke dalam mobil temannya dan berlalu pergi. Lalu aku menoleh pada mantan cintaku yang sudah menatapku lekat-lekat sambil tersenyum manis. Memuakkan.

“Aku perlu bicara sebentar, boleh?” Tanyaku dingin padanya.

“Tanpa kamu ngomong, aku tahu ada yang mengganjal dihatimu, miss.” Jawabnya sok tahu.

Ruang kerja mantan cintaku dipenuhi dengan foto-foto pasangan bermuka bahagia hasil jepretannya, menambah nuansa tegang dan ironis pada suasana hatiku yang keruh menjelang hari pernikahanku. Sementara mantan cintaku duduk manis di depanku.

“Aku gak liat foto kamu dengan wanita itu.” Aku melancarkan sebuah prolog.

“Foto pribadiku bukan untuk konsumsi publik atau materi promosi kepiawaianku.” Jawabnya cool.

What about your children?” Tanyaku ringan.

Mantan cintaku lalu tertawa terbahak-bahak, sementara aku mendadak tersihir jadi patung, tak berekspresi dan membatu, sama sekali gak tertarik dengan pancingan sense of humor-nya yang dibuat-buat.

“Aku menikah dan kami masih bersama sampai saat ini, kalau memang itu jawaban yang sebenarnya kamu cari, miss.” Lanjutnya (sok) tenang.

Kali ini aku yang tertawa terkekeh. Ia mengernyit.

“Senang bisa melihatmu salah membacaku.” Jelasku dengan tenang masih sambil tertawa.

Tiba-tiba kamu menjadi marah dan bingung, walau kamu berusaha menyembunyikannya dariku.

“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.” Lanjutku dengan suara renyah dan hangat sebagai tanda euphoria-ku membuka kartu truf-mu.

“Dia jawaban pencarianku selama ini.” Jawabmu seketika dengan tone defensif.

Aku tersenyum, “Lalu kenapa kamu menciptakan permainan picisan ini?”

Mantan cintaku hanya tersenyum kaget penuh sangkal dan mengangkat bahu.

Aku masih tersenyum dan lanjutku, “Fotografer sekelas kamu gak semestinya jadi bagian dari paket hemat acara pernikahan. Dari job ini, aku yakin kamu hanya ingin mendapatkan momen untuk menuang sirup merah di segelas air putih. Mengaduk-aduk hidupku dengan brutal, sementara istri dan anakmu menunggu dengan was-was. Apa? Apa yang kamu cari?”

Mantan cintaku terperangah mendengar ulasan dariku, lalu terdiam menunduk. Sementara aku beranjak berdiri untuk bersiap pergi.

“Tolong hargai rasa sakitku di masa lalu sebagai bentuk keinginanku melihatmu bahagia bersamanya, sekaligus akhir dari permainanmu ini.” Aku memberi epilog dan berbalik pergi.

“Aku tidak pernah siap dengan pilihan ‘take it or leave it’ darimu, miss.” Jawabmu buru-buru, berharap dengan begitu kamu bisa mengubah pemikiranku.

Aku menghentikan langkah dan berpaling kearah mantan cintaku, kali ini aku membalas tatapannya, bukan dengan binar-binar cinta, tapi tatap hangat sebentuk persahabatan.

“Berhentilah mencariku dan kamu akan akan tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.”

Aku memalingkan muka tepat disaat kamu hanya bisa terdiam dan matamu mulai berkaca-kaca. Lalu aku berlalu pergi, dan kali ini langkahku kembali terasa ringan. Dan dengan sebal harus kuakui kalau calon mertuaku memang ahli berstrategi.

Tiba-tiba terdengar ring tone hpku disusul suara omelan ibuku yang panik.

‘Kamu dimana? Aduh ibu bingung nih! Masmu, calon suamimu itu, masak menahan semua proses persiapan pernikahan, tapi calon mertuamu bilang pernikahan terus berjalan! Yang mana sih yang bener? Kalau ada apa-apa, bilang dong sama ibu, masak ibu jadi orang terakhir yang tahu, gimana sih kamu ini? Bla bla bla…’

Omelan ibuku mulai terdengar sayup-sayup, karena selanjutnya yang kutahu hanyalah jantungku berhenti berdetak seiring derap langkahku yang melaju kencang. [To be continued]


DIALOG DINI HARI [8]

Juli 2, 2009

Aku bukan pencinta komitmen, tapi aku tahu apa yang aku inginkan saat ini tentang kita.


Suamiku mendesah kuat dalam ketidakberdayaannya membaca pikiranku. Sementara aku sengaja menatapnya lekat-lekat, memberinya kesempatan untuk merasa yakin bahwa aku serius dengan perkataanku.

‘Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu?’ Sekali lagi kuulang pertanyaanku.

Tiba-tiba kamu marah, matamu memerah, seringaimu memberangas, dan nafasmu tak beraturan dalam ritme cepat. Kamu mendekatiku dengan langkah goyah.

‘Kurang ajar! Kamu sudah mempermainkan aku! Kamu membolak-balik perasaanku! Melukai egoku!  Kamu kira aku sebodoh itu untuk bisa mempercayaimu lagi?’ tanyanya garang.

Aku sudah tahu dari dulu bahwa suamiku tidak pernah benar-benar siap berselingkuh. Ia selalu mencari kambing hitam dan cuci tangan setiap kali rahasianya nyaris terbongkar. Suamiku hanyalah laki-laki dengan kodrat dan sifat kelaki-lakiannya yang berada dalam garis sangat normal. Makhluk berego dan berhasrat besar. Lalu aku tertawa terbahak sendirian di ruang imajinasiku. Satu hal yang membedakan aku dengannya adalah aku wanita dengan perasaan sensitif.

Dan hidup berkutat dengan perasaan mengajarkanku untuk menata perasaan seperti meracik sushi. Semua harus dalam porsi kecil, detail rumit yang imut, dan sensasi rasa yang hanya boleh meledak sesaat. Dan sebaiknya disajikan dingin saja, karena sushi bukanlah dimsum dengan asap mengepul. Itulah mengapa aku tidak pernah menjadi korban dalam setiap cerita perselingkuhanku.

Lalu suamiku menghentakkan kaki, membuatku tersadar dan spontan menjawab pertanyaannya yang menjadi memori remeh berumur pendek dalam otakku.

‘Aku hanya mengutarakan fakta.’ Jawabku datar.

Suamiku mengatupkan rahangnya dan menggeretakkan giginya dengan keras. Suara dari mulutnya mampu mengeluarkan suara-suara tak jelas yang menyebalkan. Mungkin begitulah suara gertak sambal.

‘Kenapa kamu mau kembali padaku?’ Tanyanya lagi dengan kemarahan yang nyaris tak terbendung.

‘Dalam kisah Cinderella, tidak ada perselingkuhan ataupun perceraian. They just live happily ever after.’ Jawabku sedikit dengan tone komedi satir.

‘Kamu bukan Cinderella! Dan kisah kita bukan hanya dongeng pengantar tidur!’ Raungmu membahana.

Aku tersenyum manis pada suamiku. Suamiku mengernyitkan kening padaku, makin tak memahamiku.

‘Kalau memang kisah kita lebih nyata dan berharga, kenapa selama ini kamu tidak menjaganya?’ Tanyaku menjawab protesmu.

Lalu matamu berkaca-kaca. Ingin sekali aku bertanya alasanmu sebenarnya hingga kali ini kamu rela meneteskan air matamu di hadapanku. Namun, aku sudah terlalu jengah bermain seribu satu tebak-tebakan denganmu.[To be continued]


DIALOG DINI HARI [7]

Maret 30, 2009

Dia tampan dan manis. Wajahnya eksotis. Cowok banget. Tutur katanya lembut. Ia mampu membuaiku hingga langit ketujuh. Auranya seksi. Menggoda. Apalagi? Apalagi yang ingin kamu ketahui tentang dia?

Pertanyaanku kamu jawab dengan pertanyaan, ‘apa kelebihan dia yang pernah membuatmu jatuh hati padanya?’ Dan walaupun aku benci dengan pertanyaan itu, aku menjawabnya.

Tapi kamu seolah tak puas dengan jawabanku. Kamu resah dan takut dengan perasaanku. Seolah aku ini manusia yang tak punya prinsip dan asal –asalan dalam hal cinta.

Akhirnya aku memilih diam ketika aku tak mampu lagi membungkam gelisahmu. Sementara kamu masih berperang dengan rasa tak percayamu padaku.

“Ketika kamu tahu aku selingkuh, kenapa kamu selingkuh?” Tanyanya kalut. Seolah ia tak sadar ia baru saja mengakui rahasia yang selama ini dia simpan dariku.

Aku tersenyum, mengagumi diriku yang sekali lagi berhasil membuat hidup ini sesuai dengan skenario yang sudah aku ciptakan sebelumnya.

“Apa itu salah?” Tanyaku balik padanya.

Suamiku terdiam dan akhirnya menggeleng-geleng perlahan. Ia menunduk dan sangat bingung.

“Sayang, aku gak pernah selingkuh, kalo selingkuh itu berarti berpaling pada orang lain dan memberi hati pada orang itu.” Jawabku tenang.

“Tapi kebersamaan diantara kalian, apa itu bukan suatu perselingkuhan?” Ia makin kalut.

“Aku hanya bermain api. Tapi aku tahu kapan aku harus memadamkannya. Sementara kamu, kamu bermain air, dan memilih menceburkan diri sampai tenggelam. Tapi sudahlah, sayang. Aku gak mau kita saling menilai begini.”

Kamu marah dengan jawabanku. Kamu merasa aku mempermainkanmu. Sementara itu, aku merasa sangat lelah. Tahukah kamu, aku sekarang sangat kesakitan?

Sekali lagi, ia membuat ruang kata menjadi pengap sekaligus hambar. Ia membuang kata-kata dalam diam. Dan aku muak dengan situasi tak menentu dan stagnant ini.

“Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu dengannya?” Tandasku dingin.

Ia menatapku dengan berkaca-kaca, ‘Dia cantik. Pintar, walau tak sepintar dirimu. Raut wajahnya ada kemiripan dengan wajahmu. Ia tegar dan mandiri, persis seperti kamu. Seksi dan lembut, sama juga kan denganmu? Tapi dia mampu kutaklukkan, dan kamu tidak.’

Diam-diam aku tersenyum, karena aku tahu dia akan berkata seperti itu. Tanpa sepengetahuannya, aku sudah tahu siapa wanita itu. Dan tanpa melihat wanita itu pun, aku tahu dia akan mencari sebuah replika diriku, yang mampu ia taklukkan, persis seperti kata-katanya itu.

Suamiku nanar menatapku, mencoba membaca isi hatiku melalui raut wajahku, tapi sia-sia.

Aku memilih untuk menyiratkan kekosongan dan kehampaan, walau hatiku bergejolak ingin mengatakan segalanya dengan jujur dan meneriakkan perasaan dengan logika tumpul.

Bagiku penjelasan tak lagi penting kalau hanya mengaburkan maksud yang sesungguhnya. Jadi sekali lagi, aku bertanya, ‘Kapan?’ [To be continued]


12 MEGAPIXEL [7]

Maret 27, 2009

Aku mencintaimu…


Dia beranjak pergi. Memalingkan wajahnya dari wajahku. Raut wajahnya pun tak terbaca. Aku pun tak kuasa untuk menahannya.

Air mataku mengering seiring dengan malam yang semakin gelap. Sementara kantuk tak juga menyergap, membuat pedihnya hati ini makin meraja. Kalau kamu berpikir aku sedang menghadapi dilema antara mantan cintaku atau calon suamiku, kamu salah besar. Tapi bagaimana aku meyakinkan semua ini padanya?

Pagi menjelang. Kali ini hujan turun dengan deras, membuat suasana keruh semakin terasa keruh. Calon ibu mertuaku pagi-pagi menjemputku untuk mengambil foto pre-wedding di studio mantan cintaku. Aku merasa kejadian ini bukanlah suatu kebetulan.

Di dalam mobil yang bergerak lamban, ibu mertuaku tampak puas membaca raut wajah dan suasana hatiku yang aku tahu tak mungkin kututupi darinya.

“Kira-kira hasil foto pre-wed kalian bagus gak, nak?” tanyanya tegas tapi lembut.

“Bagus dong, ma. Moga-moga aja ntar mama suka.” Jawabku berusaha tenang.

“Ya semoga gitu. Lagian mama denger fotografernya kan temen kamu kan? Pasti dia bakalan bikin yang terbaik buat kamu kan?”

Pertanyaan retorikkah ini? Atau pertanyaan pancingan? Ah, semoga pertanyaan biasa yang retorik. Jadi, aku hanya tersenyum sekilas lalu berpura-pura serius memandangi jalan dan memegang erat setirku.

“Nak, ini bukan pertanyaan retorik.” Jelas calon mertuaku dengan tenang, namun tatapannya menghunjamku.

Aku gelagapan.

“Tapi juga bukan berarti kamu harus jawab. Mama gak maksa kamu jawab kok.” Katanya sambil tersenyum manis.

Aku tersenyum datar, mencoba tidak memikirkan apa-apa dan memilih tidak menjawab. Kesunyian mengisi perjalanan selama beberapa saat. Sampai akhirnya, aku tersenyum manis juga pada calon mertuaku.

“Mama akan dapat jawabannya sendiri nanti.” Kataku tenang.

Studio foto tempat mantan cintaku adalah gedung minimalis yang walaupun tidak besar tapi sangat artistik. Ruangannya pun selain didesain artistik, juga dibuat sedemikian rupa sehingga para pengunjung bisa mendapatkan cita rasa seni yang tinggi sekaligus homy.

Tapi saat ini, ruangan itu terasa dingin.

Mantan cintaku memperlihatkan hasil foto-foto pre-wed pada calon mertuaku dan aku dengan sangat profesional, yang makin membuat calon mertuaku curiga.

“Katanya temen lama, kok kalian saling jaga jarak sih?” tanya calon mertuaku sambil terus ngeliat foto-foto.

Aku dan fotografer mantan cintaku berpandangan sekilas. Terdiam.

“Foto-fotonya bagus nih. Coba anakku bisa motret kayak gini…” kata calon mertuaku. Dan kata-katanya menggantung. Ini bukan pernyataan asal omong. [To be continued]


12 MEGAPIXEL [6]

Maret 25, 2009

Salahkah aku jika kamu tak mampu mencintai dan memilikiku?


Pagi terasa suram tepat disaat mentari bersinar cerah dan seluruh keluarga berkumpul dengan wajah berbinar-binar, siap menjelang hari pernikahanku beberapa minggu lagi.

Kejadian dini hari tadi menjadi rahasia antara aku, fotografer mantan cintaku, calon suamiku, dan calon kakak iparku.

Tidak ada diskusi, perdebatan, ataupun penjelasan. Diam adalah pertanyaan sekaligus jawaban yang tepat untuk saat ini. Tak peduli ada hati yang menyakiti atau disakiti.

“Si anak bungsu akhirnya mau menikah!” Teriak ibuku senang pada saudara-saudaranya. Lalu ibuku berpaling pada seorang wanita berwajah baik hati disampingnya, “Gak nyangka ya jeng, akhirnya kita besanan juga.”

Wanita itu adalah sahabat dekat ibuku. Wanita baik hati yang mampu membaca hati orang hanya dengan tatapan lembutnya. Kali ini aku memilih untuk menghindarinya.

Tapi calon suamiku tak melepasku sedikit pun dari sisinya. Walau aku melihat pedih di sinar matanya.

KLIK!

Ya, aku marah, sakit hati, dan merasa bersalah. Untuk apa dan siapa, aku tak tahu. Dan hanya fotografer mantan cintaku yang sekali lagi mampu membidik perasaanku yang sebenarnya melalui lensa kameranya.

Kali ini, ia berusaha untuk tidak banyak melepas kamera dari wajahnya. Ia tetap bekerja professional. Walau aku tahu, kali ini ia pun tak mampu lagi menutupi sejuta rasa yang terlukis di parasnya yang tampan itu. Seolah kamera adalah topeng sempurna.

Hari berlalu dengan permainan drama yang menuai tepuk tangan meriah dan aku pun semakin terjebak dalam ketakutanku menjelang malam.

“Please say something.” Harapku lemah saat menatap calon suamiku yang duduk di jendela dengan pandangan menerawang.

“Kata-kata apa yang kamu harapkan keluar dari mulutku?” Tanyanya datar.

“Penjelasan isi hatimu.” Jawabku nothing to lose.

Calon suamiku mendesah berat, lalu berpaling menatapku dengan tajam.

Aku menunduk.

“Apa yang membuatmu berani meminta hal itu padaku?” Tanyanya tegas.

Diam membekukan suaraku, namun membuat gema pertanyaannya tak berhenti cepat. Terus menggaung, merongrong hatiku.

“Cinta. Aku berani mencintai, maka aku tak segan untuk memberi, dan meminta.” Jawabku tak kalah tegas. Kali ini aku menatapnya.

Kami bertatapan beberapa saat. Tangannya kemudian membelai pipiku lembut.

“Apakah itu juga berarti kamu berani untuk terluka?” Tanyanya lagi.

Aku tak mampu lagi menahan air mata. Isak tangisku memburamkan ruang kata diantara kami. Ketidakberdayaanku mengukir kekecewaan yang teramat dalam di dirinya.

Ia beranjak perlahan, dan entah kekuatan dari mana, aku meraih tangannya. Langkahnya terhenti. Kami berpandangan lagi sesaat. Kali ini tatapan tanpa kata, tanpa maksud, dan tanpa perasaan. Lalu aku melepas tangannya perlahan dan menunduk, tak tahu akankah ia bergeming, atau tidak. [To be continued]


DIALOG DINI HARI [6]

Maret 25, 2009

Tatap mata dan sentuhannya berbicara lebih. Suaranya terdengar jarang, namun mampu luluhkan hatiku. Adrenalin memuncak disaat kutahu ini adalah cinta terlarang.


Aku benci harus mengakui kenyataan yang selama ini kutakutkan akhirnya harus menjadi kenyataan. Aku membuka sebuah apartemen mewah di ibukota. Membuka pintu apartemen itu sendiri lalu menatap ke dalam apartemen yang kosong, sunyi, dan hampa itu. Tidak ada teriakan menyuarakan kerinduan ataupun lengan terbuka dan senyum merekah sebagai sambutan.

Aku tak mampu lagi menghitung hari dan aku tak peduli lagi akan waktu. Kulangkahkan kakiku menuju apartemen lamaku dan membanting pintunya keras-keras.

Saat matahari tenggelam, seseorang itu datang, mengetuk hidupku. Ia menawarkan kehangatan sekaligus tantangan maut. Ia pria beristri yang sangat percaya diri bahwa ia akan menjadi pemain sekaligus pemenang dalam permainan cinta. Sekarang ia menawarkan dadu untukku.

“Pernikahan hanyalah obat penenang untuk ketakutan manusia menjelang hari tua, sayang. Gak ada orang yang ingin sendirian menghitung keriput di wajahnya dan mengumpulkan kepingan untuk membeli peti matinya sendiri.”

Aku tersenyum dan memejamkan mata, sembari menikmati belaian tangannya di kepalaku.

“Lalu apakah arti perselingkuhan buatmu, Arjuna?” Tanyaku lembut.

Pria bernama Arjuna itu tergelak dan menjawab “Perselingkuhan adalah realita.”

Hahahahaha……

Derai tawa kami berdua lenyap ketika aku memutuskan untuk beranjak. “Aku membutuhkan obat penenangku sekarang.” Kataku tenang. Ia nanar menatapku. Aku tak peduli.

Aku menatapnya dengan senyum. Pria yang telah menikahiku 2 tahun yang lalu. Ia tampak terkesiap melihatku terbaring di bed kami. Lalu wajahnya membeku dingin, memilih menatap benda-benda di kamar daripada melihat wajahku.

“Mau sampai kapan kita begini?” tanyaku santai.

“Kupikir kamu udah gak peduli dengan kita.” Tandasnya dingin.

“Apartemen lamaku masih jadi tempat pelarianku. Tapi aku berniat menjualnya dalam waktu dekat ini.”

Suamiku kali ini menatapku kaget bercampur heran.

“Aku gak ingin lari lagi.” Jelasku singkat.

Suamiku terus menatapku seolah tak percaya. Raut wajahnya tak tertebak. Dan aku bosan dengan keadaan dan situasi membeku seperti ini.

“Kamu?” Tanyaku. [To be continued]


DIALOG DINI HARI [5]

Juni 2, 2008

Pengorbanan itu tak sebanding dengan keindahan dirimu yang selalu ingin kureguk tiap hari. Jangan pergi!

 

Suamiku pulang dengan wajah suram. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun, diam yang dihadirkannya seolah menjadi cover yang sempurna untuk egonya yang terurai berkeping-keping. Aku selalu tak mampu melihatnya hancur.

 

Seperti biasa, kudekati ia kemudian kuraih ia dengan peluk dan tatapan mengertiku. Hanya saja kali ini ia meronta dan berteriak lantang.

 

“Kamu nggak pernah tahu aku yang sebenarnya! Kamu selalu membuatku terlena, dan aku menikmati itu! Tapi kamu sudah membuatku makin melemah!”

 

Mataku nanar menatap suamiku. Aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku berharap tatapanku cukup menyuarakan pertanyaan kenapa dalam hatiku. Sesaat kemudian, seolah harapanku terkabul, ia menjawab. Kali ini dengan suara melembut.

 

“Sejak awal aku tahu, kamu adalah kamu. Kamu tidak pernah berubah. Kamu yang selalu kuat dan buatku selalu memujamu. Tapi aku tahu, aku bukanlah apa-apa untukmu. Aku hanya seseorang yang perlu kamu tolong, aku nggak berarti buatmu, iya kan, babe?”

 

Penjelasan dan pertanyaannya membuatku membeku. Aku tahu semua ini pada akhirnya akan terkuak. Hanya saja, aku tidak pernah berharap hal ini akan sampai di permukaan di saat aku ingin mengucap kata pisah padanya. Aku berharap nanti, nanti saja.

 

“Kenapa kamu diam, babe? Benar kan apa yang kubilang tadi?”

 

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan dan tersenyum satir. Mataku pun mulai meneteskan air mata. Entah air mata sedih atau air mata senang karena kebenaran telah terucapkan dengan telak.

 

“Apakah indahnya diriku juga cukup untuk dijadikan pembenaran atas perbuatan selingkuhmu selama ini?” aku balik bertanya dengan suara tenang namun gemetar.

 

Suamiku menatapku dengan sekilas. Kekagetan tak mampu ia sembunyikan lagi dari wajahnya. Yup, aku tahu ia tak mampu lagi melawanku, dan seperti biasa aku yang akan memberikan epilog. Epilog-epilog yang selama ini menjadi saksi bisu kelemahan suamiku.

 

“Dulu aku menikahi seseorang yang alive dan cair, seseorang yang tidak mengkotak-kotakkan seseorang menjadi sebuah keranjang berisi kelebihan dan kekurangan. Kini kamu tak lebih dari seorang hakim yang hanya mengenal hitam dan putih dengan absolut.”

Suamiku terdiam dan tertunduk. Kini saatnya aku pun mengatakan satu hal (lagi) yang sudah lama kupendam selama ini.

 

“Aku sudah kehilangan dirimu, jauh sebelum kamu sadar kamu telah kehilangan dirimu sendiri.”

 

Tiba-tiba aku merasa sesak dan hanya ingin melarikan diri. Tak peduli apakah perbincangan kami kali ini akan menjadi yang terakhir atau tidak. [To be continued]


12 MEGAPIXEL [5]

Juni 2, 2008

Foto-foto kamu hanyalah sebuah kejadian yang direkayasa untuk menjadi lebih indah daripada realitanya. Kamu memang ahlinya untuk memotret sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Namun, semua itu tak lebih dari potongan peristiwa. Kamu sendiri tak mampu menciptakan realita berkesinambungan tentang kita.

 

 

Malam makin membuatku kalut. Kesibukan pernikahan kali ini tidak membuatku tidur pulas. Aku sadar aku harus segera meyakinkan diriku sendiri tentang cinta dalam hatiku dan pernikahan ini tentunya.

 

Saat orang tertidur, aku menyelinap pergi dan membawa mobilku membelah jalanan malam menuju ke kedai kopi kesayanganku. Di kedai kopi itu, aku menyesap cappucino favoritku dan merenung.

 

Di tempat ini pula, aku mempunyai banyak kenangan manis dengan fotografer mantan cintaku sekaligus kenangan sedih ketika kami mengakhiri kisah kami. Namun calon suamiku tak pernah tahu semua itu, ia hanya tahu bahwa kedai kopi ini adalah tempat favoritku. That’s it.

 

Tiba-tiba segelas frappucino mendarat di mejaku. Aku tahu dia akan datang malam ini tanpa kuundang sekalipun. Mantan cintaku segera duduk dan menaruh perlengkapan kameranya di meja. Tak ada senyum sedikit pun di wajahnya, hanya tatapan tajam mewakili sebentuk sapaan untukku.

 

“Udah lama aku nggak liat kamu disini.” Kataku sambil lalu.

 

“Aku travelling dan lagian aku bosan ngelihat kamu sama calon suami kamu sering minum disini.”

 

“Aku nggak mau ngejadiin tempat ini a monumental place buat kita berdua.”

 

“So, calon suami kamu cuma pengganti aku?”

 

Aku menatapnya tajam.

 

“Hahahaha… kamu beneran mencintai calon suamimu itu, ya?”

 

“Pertanyaan retorik yang nggak penting!”

 

“Hah! Pertanyaan retorik buatmu? Berarti kamu mencintai calon suamimu dong…”

 

Aku tersenyum mantap kali ini.

 

“Kamu mungkin orang yang pernah kuinginkan. Sementara calon suamiku adalah orang yang kubutuhkan. Tapi sekarang dia nggak hanya kubutuhin, tapi juga kuinginkan.” Kataku mantap.

 

“Apa yang dia berikan ke kamu, tapi aku nggak bisa memberikannya ke kamu?” tanyanya dengan suara tegang.

 

“Cinta yang realistis.” Jawabku singkat.

 

Aku dan dia saling bertatapan tajam, di saat itu terdengar suara yang begitu akrab ditelingaku.

 

“Honey, kamu ngapain disini?”

 

Aku menoleh dan melihat calon suamiku sedang berdiri mematung, di sebelahnya calon kakak iparku juga sedang memandang ke arahku dengan curiga. [To be continued]


PEREMPUAN NINGRAT [4]

Mei 30, 2008

Aku adalah aku. Wanita dengan impian, kebebasan, dan kehidupan penuh warna. Aku bukan milikmu, miliknya, atau milik siapapun.

 

Ajeng suka sekali melewatkan ritual-ritual sehari-harinya di kantor seperti makan siang dengan teman-teman, berdebat hingga egonya terpuaskan, dan browsing. Kadang-kadang having fun bersama teman-teman pun ia jabani walaupun lelahnya bekerja membuat badannya lemah lunglai.

 

Menikmati orang-orang yang datang dan pergi di kantornya pun menjadi sesuatu yang unik dan penuh kenangan buat Ajeng. Mereka semua mampu meninggalkan jejak yang indah dalam hati Ajeng.

 

Tiap weekend pun selalu Ajeng penuhi dengan acara shopping atau having fun dengan teman-temannya. Melihat berbagai barang cantik dan peristiwa-peristiwa menarik yang ada di sekelilingnya membuat dunia Ajeng makin terasa indah dan luas.

 

Pergi dengan teman kantor ataupun teman-temannya di luar kantor membuat pribadi Ajeng makin utuh. Semua orang yang ada disekelilingnya melengkapi dirinya.

 

Kadang tak selalu hari-harinya terasa ceria dan menyenangkan. Ada saatnya untuk menitikkan air mata, pun menjerit kesakitan. But once again, it completes her life.

 

Ajeng tak pernah pusing melakukan apa saja yang dia inginkan, karena ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk menggapai apapun yang ia impikan. Kebebasan pun ada di tangannya. Tak seorang pun ia ijinkan untuk mengikatnya.

 

Ia pun bebas untuk menorehkan segala warna dalam tiap langkah hidupnya. Dikala ia ingin menggila, ia coretkan saja warna-warna tegas seperti merah dan hitam dalam hidupnya. Saat ia ingin merasa tenang, warna biru menghiasi kanvas kehidupannya.

 

Satu hal yang Ajeng sangat nikmati sekarang ini adalah ia bebas menyukai bahkan mencintai siapapun, hingga saatnya nanti Ajeng menjatuhkan pilihannya.

 

Free…

 

So free…

 

Ajeng benar-benar menikmati hidupnya sebagai perempuan ningrat yang jomblo. Perempuan yang tidak malu dengan status jomblonya karena lebih memilih menunggu waktu dan orang yang tepat untuk mencinta.

 

Ia tidak malu mengakui bahwa ia bukan milik siapapun, karena itu adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak ingin belajar mencintai yang kadang merupakan bahasa lain dari pemaksaan perasaan. Suatu saat ia yakin, ia akan belajar mencintai dalam arti yang sebenarnya; belajar mempertahankan dan menjaga cinta yang memang ada dan tumbuh dalam hatinya kelak.

 

‘Perempuan ningrat itu walaupun lajang harus tetap menjaga harkat dan martabatnya. Jangan mau terlena dengan perasaan sesaat ataupun status semata’ kata Ayah Ajeng. [To be continued]