GADIS LOLI POP

Juni 18, 2009

Hidupku penuh warna-warni. Cita rasa auraku manis. Tapi aku cepat meluruh dan menghilang.


“Mau?”

Aku memandang ke sebuah lingkaran bulat yang besar dan berwarna-warni cerah yang ia sodorkan padaku. Ada sesuatu yang menarik dari lingkaran bulat itu, aku pun seperti dihipnotis dengan lingkaran-lingkarannya yang tampak seperti lingkaran tes psikologi, lalu aku menerimanya.

“Loli pop.” Kata orang itu.

Entah lolly pop atau loli pop aku tak peduli, yang jelas semenjak itu aku tidak pernah berhenti menikmati loli pop. Sehingga orang-orang mulai terbiasa dengan pemandangan aku dan sebatang permen loli pop. Loli pop juga memberi banyak warna dalam hidupku. Dengan loli pop, aku mengenal banyak teman yang mau berbagi loli pop denganku. Kadang loli pop juga mengisi kesendirianku dengan sensasi rasa manisnya yang selalu sukses membuaiku. Loli pop dan aku, adalah dua menjadi satu.

“Tapi tahukah kamu loli pop bisa cepat habis?”

Loli pop bisa dengan sangat cepat meluruh menjadi Kristal-kristal mencair di mulut dan lalu hilang begitu saja. Kadang aku hanya bisa menikmati kehilangannya sambil memandangi batang dimana loli pop itu tadinya ada dan berdiri angkuh disitu.

Begitupun aku.

Ketika ada anak-anak lain yang menginginkan loli popku, iri karena loli popku, atau merebut loli popku, aku tak segan-segan akan segera memberikan loli popku pada mereka. Bukan, bukan karena aku tak sayang pada loli popku, tapi aku tidak suka menikmati loli pop dengan pandangan iri, perasaan benci, dan tangan-tangan kotor yang siap memukulku kapan saja kalau aku tidak segera memberikan loli popku.

Aku tidak suka berebut. Aku tidak suka menanggung rasa nyeri. Aku tidak suka situasi yang ricuh. Aku tidak suka hidup menjadi tempat hitam dan putih saja, aku atau kamu, suka atau tidak suka, benci atau cinta. Itu semua bukan loli pop. Bukan aku.

“Ambillah kalau kalian mau.” Kataku pada mereka dingin.

Kusodorkan loli popku pada mereka. Mereka yang langsung merenggutnya dariku dengan tatapan yang teramat sangat rakus, tak mempedulikanku, dan loli popku yang barangkali akhirnya menyesal karena berpindah tangan dariku. Mereka tidak menikmati loli pop itu sebagaimana aku. Mereka hanya melihat warna-warninya. Mereka tidak tahu kalo loli pop cepat habis jika dimakan dengan sangat rakus, karena warna-warni loli pop itu akan menghilang seperti sinar bohlam yang tiba-tiba padam, dan keindahannya akan sirna begitu saja. Mereka pun melewatkan sebuah loli pop begitu saja. Begitu saja.

Aku pun akan berbalik pergi, tak kuasa untuk melihat nasib loli popku di tangan mereka. Aku akan segera meluruh dan menghilang dengan kehilangan yang teramat sangat, tapi aku lega aku terbebas dari mereka semua.

Barangkali sepi dan tanpa cahaya dalam beberapa saat.

Tapi aku yakin aku akan segera mendapatkan loli popku yang baru. Loli pop dengan rasa manis yang tidak membuatku terancam, yang bisa meninabobokanku dengan gulir-gulir indah hidup yang ceria dan berwarna.

The End.


RUMAH TANPA TAMU

Mei 10, 2009

Lengang. Sepi. Tanpa jejak.

Waktu itu aku sedang pergi denganmu, saat kita melewati sebuah rumah yang tampak sepi. Kita sempat mendengar dari salah seorang penjaga di depan rumah itu, kalau ada seseorang yang tinggal di rumah itu. Namun, aku dan kamu sama sekali gak melihat ada tanda-tanda kehidupan disana.

“Bapak itu padahal anaknya banyak lho, mbak! Lha wong isterinya aja tiga!” cerita si penjaga dengan intonasi gosip yang berapi-api.

“Terus isteri sama anak-anaknya kemana, mbak?” tanyaku pada si penjaga yang kalo ngeliat dari dandanannya dan tingkah lakunya pasti bakal bête kalo dipanggil mas, walopun bentuknya cowok abis.

“Isterinya ada yang udah koid tapi entah dimana, trus ada yang masih hidup tapi udah cerai dan kawin lagi, non. Nah kalo anak-anaknya, ya gitu deh.”

Kamu langsung mengernyit mendengar jawaban tak jelas itu, “Gitu deh itu gimana?”

Tapi sebelum kamu sempat menunggu jawaban dari penjaga restoran itu, si empunya mulut sudah ngacir karena ada tamu cowok yang ganteng datang tak jauh dari kami.

Kita berpandangan. Kamu masih dengan ekspresi bingung dan penuh tanya, sementara aku tersenyum.

“Orang tua mau dihormatin anak ato isterinya, kan tergantung kepribadiannya, babe.” Jelasku santai.

“Tapi orang tua juga bukan dewa kan say, yang selalu bener dan hebat. Masak kalo ortu punya salah, trus anak-anaknya boleh gak ngehormatin ortunya ?”

“Mungkin itulah kenapa ada peribahasa ‘kamu menuai apa yang kamu tabur’, babe.”

“Tuwir deh omongan kamu, say.”

“Tapi kamu cinta kan?” candaku senang.

Kamu lalu memelukku dan kita tertawa bersama.

“Babe, aku gak mau jadi tua dan sendiri kayak orang di rumah itu. Aku pengin punya banyak tamu dirumahku nanti.” Katanya merajuk manja.

“Ya makanya, sekarang kamu jangan berani-berani selingkuh, apalagi kawin siri yaa…” jawabku renyah.

Kamu mengangguk mantap dan tersenyum lebar. Dan kamu memelukku (lagi).

“Babe, kalo kamu kelak jadi ibu dari anak-anakku, aku yakin kamu bisa ngasih konsep hidup yang bener sama anak-anak kita nanti.”

Aku tersenyum tipis.

“Thanx God, bokap ngasih konsep hidup yang bener ke aku, babe. Cuman sayang, bokap gak ngasih konsep pernikahan ke aku.” Kataku lembut tapi serius.

Kali ini kamu melepas pelukanmu dariku sambil memandangku dengan tegang. Aku pura-pura tak menyadarinya, dan akhirnya memberi sejumput bunga jatah makam ayahku, untuk sebuah makam terbengkalai itu.

The end.


I want to wake up with the sun

April 24, 2009

I want to sleep with you, but I want to wake up with him…

Saat malam menjelang, ada adrenalin memuncak di diriku. Suatu kepuasan dan tantangan membaur. Kepuasan bahwa aku akan menjadi ratu untuk sepotong malam yang cerah ini, dan tantangan untuk mengisi malam seindah mungkin.

Aku mencintai malam hingga terkadang melebihi diriku sendiri. Setiap detik yang bergulir di malam hari, kuhitung, kujaga, dan kutunggui seperti aku menunggu cinta sejatiku datang. Dengan rajin, kuikuti satu per satu cerita yang tersaji di televisi. Kadang aku sudah menyiapkan sebuah buku yang menarik dan sederetan lagu di I-pod untuk menemanimu. Tak lupa berbagai cemilan yang menarik selera aku dan kamu.

Kamu pun senang dengan kehadiranku. Kamu tak lagi disebut malam yang kesepian atau waktu tidur yang membosankan. Kamu menjadi malam yang dinamis dan hingar bingar karenaku.

Lalu ketika malam makin melarut, angin meniupkan udara dingin yang terlampau menggigit, dan sepi membumbung diantara kita, di saat itulah aku ingin melepasmu. Aku ingin pergi darimu. Sejenak, kataku padamu tegas. Tapi kamu pura-pura tak mendengarku.

Entah bagaimana, kamu berusaha mengikatku dengan berbagai hal agar aku tak beranjak darimu. Dan untuk hal yang satu itu, aku salut padamu. Kamu selalu berhasil membuatku berpikir ‘ah, malam masih panjang. Sebentar lagi…’ dan kemudian ribuan kali sebentar lagi.

Aku menikmati malam. Aku ingin melewati malam hinggaku tertidur. Tapi selalu kamu membangunkanku dan meyakinkanku untuk selalu terjaga.

Kadang aku frustasi, despresi, dan putus asa untuk menolak ajakanmu. Kamu pun tak mau tahu dan sangat menyadari kalau ajakanmu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Aku sedang gelisah, dan dengan aku tetap terjaga, kamu membuaiku dan memberitahuku agar aku terus berjaga karena esok akan segera tiba dan semua kegelisahanku akan lenyap, tanpa aku harus tertidur dan bermimpi buruk tentangnya.

Rasa kantuk dengan marah meninggalkanku dengan kekecewaaan yang meradang. Pikiranku pun makin kreatif menciptakan berbagai gaya ini itu untuk tetap terjaga. Kadang aku melihat cermin dan berbincang dengan diriku sendiri disana. Lalu aku membuka laptopku, membolak-balik site demi site. Dan kadang sebuah game menyempurnakan rencanamu untuk terus membuatku tetap disini. Di malam hari ini.

Lalu ketika malam menyusut pergi seperti seorang vampire yang beranjak dari korbannya dan pergi berselimutkan kegelapan, kamu tersenyum puas padaku. Kamu puas telah menahanku disini untukmu. Dan untuk pergi pun rasanya sudah terlambat untukku. Kantuk tak lagi mau menghampiriku. Dan kamu tak mau meninabobokanku. Kamu pergi begitu saja. Tertawa puas pada dirimu sendiri, namun sadis bagiku.

Aku menjelang pagi dengan sesal dan lelah. Matahari pun tak tersenyum ramah padaku, karena menatapnya pun aku tak sanggup. Hanya kegelapan menggelantung di pelupuk mataku. Lalu diam dan sepi. Kamu pergi. Dan dia marah padaku karena aku tak menyambutnya dengan senyum ceria, bahkan karena aku pun kemudian meninggalkannya dalam kelelahan yang teramat sangat.

Aku benci mengakui semua ini, tapi aku harus jujur bahwa kamu memang sangat menggiurkan di saat malam datang. Tapi tolong, biarkan aku pergi di saat malam melarut, karena di pagi hari aku ingin bersamanya.

Insomnia love story.

Menyakitkan. Menyesakkan.

The end.


HOLD MY STORY PLEASE…

April 17, 2009

Kamu selalu memukauku lebih dari yang aku duga selama ini.


Kalau saja kamu tahu berapa kali aku menelusuri profile di Facebookmu, hanya untuk sekedar mengikuti perjalananmu, hidupmu, dan bayang-bayangmu. Berjuta kali aku pun berusaha menahan diri untuk tidak menuliskan sepatah katapun di statusmu, hanya karena aku tidak ingin masuk dalam kehidupanmu. Bukan, bukan karena aku tidak benar-benar menginginkannya, tapi karena aku tahu tempat itu bukan untukku.

Tapi kamu boleh tahu bagaimana aku menemukanmu.

Waktu itu hidupku hanyalah aku dan pekerjaanku, ketika kamu datang menyeruak ditengah-tengahnya. Kamu suka memakai baju hitam waktu itu. Dan raut wajahmu yang tegas makin terbingkai jelas dengan baju hitam itu.

Awalnya, semua terkunci.

Lalu, kamu mulai membuka jendelamu dan menatap kearahku tanpa ragu.

Di saat itulah, aku tahu aku sudah boleh menyapamu.

Dalam pikiran liarku kamu duduk diam menatapku dengan tatapan matamu yang tajam, senyum tipis yang menggoda, aura dirimu yang seksi,dan kharismamu yang cool.

Aku menikmatimu.

Lalu kita mulai bersentuhan, duniamu dan duniaku melebur.

‘Masih ingat gak waktu kita syuting bersama?’

‘Kamu suka musik apa?’

‘Tulisanmu mengesankan’

‘Kamu cowok paling cool yang pernah aku kenal’

Dan sejuta bla bla bla diantara kita.

Kamu mengerti aku, aku mengerti kamu.

Mungkin ada sedikit perbedaan dan pertengkaran diantara kita, tapi kita terlalu sempurna untuk berpisah begitu saja hanya karena hal-hal kecil. Kitalah peran utama dalam cerita cinta ini.

Lalu orang-orang mulai suka mengamati kita. Kita. Aku dan kamu.

Tapi kita mengabaikan mereka semua, karena aku memilih tenggelam dalam pesonamu, dan kamu pun tak ingin aku pergi. Indah. Semua itu indah.

Lalu aku dan kamu memutuskan untuk membuat sebuah film tentang kita. Film yang sekuelnya banyak. Film yang hanya boleh menemui akhir saat hidup kita berakhir, dan bukan cinta kita.

‘kamu suka dengan film kita, sayang?’

‘hate it not, baby.’

Dan kita berpelukan, kamu di sofa ujung sana, aku di sofa ujung sini, saling tatap dalam ruang waktu, saling bicara dalam tatapan, saling merasakan dalam riuh rendah suara hati kita.

Aku ingin tulisan tentang kita, hanya sampai disini saja. Bahagia dan menarik kan, sayang?

Tapi pada kenyataannya, cerita bergulir menjadi kisah bersambung yang menjemukan. Kamu dan aku hanya boleh saling memiliki dalam pengapnya hidup kita masing-masing. Aku dengan kisah-kisah cinta picisan. Kamu dengan bahtera perkawinan.

Tidak sempurna.

The end for sure. But not expected.


Wanita pembawa panci

November 20, 2007

Tampak sosok seorang wanita tergeletak di sebuah pinggir jalan yang riuh dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Suara desingan membahana di keriuhan itu, seiring dengan suara teriakan para laki-laki di tempat itu. Wanita itu membuka matanya perlahan dan seketika melindungi matanya dari terpaan sinar matahari dengan tangannya. Ia beranjak dan seketika pula ia juga bergidik dan menutup telinganya.

Orang-orang melihatnya dengan aneh namun tak ada satu pun yang menghampirinya. Wanita itu melihat ke arah sekelilingnya dan terpanalah ia melihat pemandangan di depannya. Para laki-laki berjualan dan berteriak-teriak menjajakan dagangannya dengan para wanita yang berada di samping mereka masing-masing, dan para wanita itu masing-masing membawa sebuah panci!

Bahkan para wanita yang berlalu-lalang seorang diri pun juga membawa sebuah panci. Anehnya, memang hanya para wanitalah yang membawa panci. Panci-panci itu tergantung di leher para wanita. Bentuk dan ukuran panci-panci itu pun berlainan.

Wanita itu hanya terperangah. Ia bingung karena ini bukan dunianya dan ini dunia yang aneh. Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat meraih bahunya. Wanita itu terkejut dan melihat ke arah seseorang yang memegang bahunya. Tampaklah seorang wanita tua yang berwajah tegas dan tegang. Ia memberi isyarat ajakan kepadanya. Wanita tua itu berbalik, lalu wanita itu mengikutinya.

Masuklah mereka ke sebuah rumah sederhana yang sangat etnik. Wanita tua itu terus berjalan ke lantai 2 dan akhirnya berhenti di depan sebuah jendela yang besar dimana terbentang pemandangan para wanita berpanci. Wanita itu berhenti di belakang wanita tua itu dan masih menatapnya dengan bingung sambil sesekali mengarahkan pandangan ke luar jendela itu pula.

Tiba-tiba wanita tua itu berbalik, pancinya bergerak. Anehnya, pancinya tidak sama dengan yang dimiliki para wanita di keriuhan tadi. Panci wanita itu terbuat dari emas. Wanita tua itu pun memecahkan keheningan dengan suaranya yang dalam dan tegas.

“Panci ini pertanda status yang dimiliki seorang wanita, apakah dia lajang atau tidak, bersuamikan orang kaya atau bukan, dan kemampuannya melahirkan. Tolol memang. Tapi kami para pembela emansipasi wanita lebih suka mengartikan panci ini melalui ukurannya sesuai pemikiran kami.

Besar kecil panci ini adalah penanda kemampuan wanita itu dalam mengisi hidupnya, entah itu dalam kehidupan pribadi, keluarga, atau sosialnya.

Wanita tua itu tersenyum aneh. Rona matanya memancar tajam. Seketika wanita yang dihadapannya terkesiap seolah menyadari sesuatu. Akhirnya, keluarlah kata-kata dari mulutnya dengan lugas.

Tidak perlu sebuah panci untuk memperlihatkan siapa dan bagaimana kita. Tanpa panci pun semua makhluk di dunia ini tahu kita adalah seorang wanita. Kecuali… kalian menerima panci itu sebagaimana kalian menerima diri kalian adalah budak. Budak ego kalian sendiri ataupun budak laki-laki.

Senyum wanita tua itu sirna, wajahnya kini penuh amarah. Lalu keluarlah dari sudut-sudut bayangan, para wanita lain dengan panci-panci di leher mereka. Mereka mendekat ke arah wanita itu. Muka mereka seram. Wanita itu terkepung dalam lingkaran panci yang bergelontangan keras.

TIDAK!!!

Ssst… tenang sayang…tenang…you’ll be ok. Kita makan sop dulu ya.

Wanita itu membuka matanya dan terlihatlah seorang wanita tua yang adalah ibunya sedang berdiri di dekatnya sambil membawa sepanci sop ayam. Wanita itu hanya bisa menatap nanar dan jalang.

The end