I give you my solely card

April 3, 2009

Naya dan Albert duduk di sebuah meja kecil. Suasana diantara mereka berdua tegang dan sunyi. Sementara orang-orang di sekeliling mereka riuh rendah karena permainan telah sampai di puncak sekaligus akhir. Satu kartu ditangan Naya, satu kartu ditangan Albert. Taruhan diantara orang-orang itu pun menambah permainan ini seolah milik publik.

Namun, buat Naya permainan ini adalah ujian keikhlasan. Buat Albert permainan ini benar-benar sebuah pertandingan dan kemenanganlah yang ingin dia raih. Dan permainan ini hanya milik mereka berdua.

Waktu berdetak, dan seolah Naya mengabaikannya, Naya tiba-tiba tersenyum dan meregangkan ototnya, walo tatapannya tetap tertuju pada Albert.

Naya : Menurutmu, kamu bakal menang atau kalah?

Albert : (tersenyum penuh percaya diri) Menang!

Pendukung Albert langsung bersorak kegirangan. Sementara pendukung Naya, tampak makin gelisah.

Naya : Kamu ingin menang atau kalah?

Albert : (tertawa terbahak-bahak) Menang dong!

Dan seolah alam semesta mengurung mereka berdua, mereka saling menatap makin tajam. Tak peduli sekitar mereka. Berhenti di satu titik. Berlari di hamparan nostalgi dan romantisme masa lalu. Mereka sadar mereka harus menghentikan permainan ini, sebelum semua orang kecewa dan memporak-porandakan keutuhan mereka.

Naya : Apa yang kamu inginkan dariku biar kamu bisa menang?

Albert : Kamu tahu apa yang kumau.

Naya : Aku akan memberimu kemenangan, asal kamu harus percaya padaku, menukar kartumu dengan kartuku.

Albert tercengang mendengar usul Naya. Naya mengangguk mantap, berusaha meyakinkan Albert.

Albert : Gimana aku bisa percaya sama kamu?

Naya tersenyum, mengacungkan kartunya yang masih tertutup tepat di wajah Albert. Albert tampak berpikir keras dan terus menatap Naya hingga akhirnya ia menemukan sesuatu di mata Naya, sesuatu yang membuat ia sadar alasan Naya rela terhanyut dalam permainannya selama ini. Dan, entah terdorong oleh hasrat kemenangan atau kebodohan, Albert menguarkan sebuah kata demi kemenangan yang selama ini ingin ia raih dari seorang Naya.

Albert : Setuju!

Dan bagaikan adegan yang diarahkan oleh seorang sutradara, orang-orang disekitar mereka berdua mendadak freeze. Sementara hanya Albert dan Naya yang mencair dan bergerak bebas. Albert dan Naya bertukaran kartu. Lalu keadaan berbalik normal.

Penonton : Buka! Buka! Buka!

Naya membuka kartunya dengan mantap. Albert mengikutinya. Semua orang ternganga. Albert menang! Albert berteriak kegirangan, para pendukungnya menyambutnya dengan sorakan pujian. Sementara Naya tersenyum sekilas pada Albert dan beranjak pergi dari tempat duduknya. Para pendukung Naya dengan lemas merogoh kocek mereka untuk membayar kekalahan mereka. Tiba-tiba sebuah teriakan menguar lantang.

Albert : Tunggu!

Naya berhenti dan menoleh.

Albert : Aku… Aku… (tergagap masai)

Naya : Gak usah merasa berhutang apa-apa. Aku suka kamu keluar sebagai pemenang. Dan thanx a lot kamu udah mempercayaiku.

Naya meneruskan langkahnya, meninggalkan senyuman manis untuk memori Albert. Kartu di tangan Albert perlahan jatuh seiring Albert yang jatuh terkulai. Hiruk pikuk orang-orang yang sibuk bertaruh mengabaikan Albert.

Albert tertunduk, ‘Kemenanganku harus kutebus dengan tiket perjalanan tak kembali untukmu. Tak akan ada lagi dirimu.’

The End.


Menahan hasrat…

April 1, 2009

Orchid lagi asik-asiknya baca novel horor pas Ofi datang dengan muka cemberut.

Orchid : Ngapain lo cemberut gitu?

Ofi : Gila ya! Orang-orang tuh gampang banget menghujat orang yang selingkuh! Trus nganggep gadis jomblo yang mau nanggapin suami orang sebagai cewek gatel!

Orchif : Emberr! (sambil balik ke novelnya)

Ofi makin bete dan ngerebut novel Orchif.

Ofi : gak bisa gitu, chif! Yang namanya hasrat ma perasaan itu sesuatu yang susah dibendung, tauk! Harusnya orang-orang juga lebih manusiawi dong menyikapi hal itu!

Orchif : Ngapain sih kayak gitu aja dipikirin!

Ofi : Eh denger ya chif, sepanjang hidup kita, ngerasa bener-bener jatuh cinta itu bisa dihitung pake satu tangan doang, tauk! So, wajar dong kalo kita mempertahankan cinta, walo harus dengan jalan selingkuh.

Orchif : Emang selingkuh itu cinta?

Ofi dan Orchif saling bertatapan tajam, sampai akhirnya Orchif tertawa terbahak-bahak.

Orchif : Sayang, aku bercanda. Aku cinta kok sama kamu.

Ofi : Tapi kamu kan selingkuh dari istrimu?!

The End.


Orang patah hati dan patah arang

Januari 11, 2008

Fareta dan Bobby baru nongkrong di pinggir pantai. Mereka memandang ke arah lautan dan larut dalam pikiran masing-masing tentang kisah cinta mereka yang kebetulan hancur di saat yang bersamaan kira-kira 6 bulan yang lalu. Kedua makhluk itu sampai sekarang masih sama-sama menjomblo.

Bobby : Ta, loe kok tahan banget sih ngejomblo? Dah gitu jarang ngedate lagi. Gak kesepian lo?

Fareta : pilihan.
Jawab Fareta dengan santai tapi tegas.

Bobby : Gile lo ya! Kalo gw udah beberapa kali ngedate.. walopun gagal total sih, Ta! Kenapa ya?

Fareta : Gw gak gila, mungkin ini gejala ganti orientasi kali ya, Bob?

Bobby : Lesbong maksud loe? Ada-ada aja lo!

Fareta : hahahaha… bercanda! Gw sebenarnya masih suka sendiri semenjak gw broken heart waktu itu. Healing time, bow. Daripada gw mesti memulai lagi dan terluka lagi di saat gw belon siap kayak elo!

Bobby : Yee… Dari kemaren healing time terus! Bilang aja sekarang lo takut jatuh cinta lagi! Trauma, bow?

Fareta : Enggak sih, Bob. Makin kesini gw tahu what kind of man yang gw butuhin dan gw sekarang lebih suka realistis, kalo belon ya belon aja, kalo udah jodoh pasti juga gak lari kemana. Lagian gw suka dengan sendirian, gak kayak elo.

Bobby : Bener juga sih lo, Ta.

Keduanya terdiam beberapa saat.

Bobby : Menurut loe untuk gw yang gak bisa nikmatin kesendirian mesti gimana dong, ta?

Fareta : Loe perluas kegiatan dan pergaulan loe aja. Kalau hang out gak usah berjudul date. Siapa tahu ketemu jodoh dengan cara yang lebih natural.

Bobby : Kenapa sih loe sinis banget ma yang namanya ngedate?

Fareta : Habis bawaannya tuh jaim, ego, dan dangkal bow! Gak tahu ya gw ngerasanya gitu. Mungkin karena gw kalau jadian gak pernah hasil dating.

Terdiam lagi.

Bobby : Kenapa ya ta kok kita dapat gantinya susah gini?

Fareta : Tomorrow never dies! Nyantai aja, bow! Mungkin Tuhan mau kasih kesempatan lebih banyak ke elo kali ini untuk milih yang bener.

Bobby : Masak sih, Ta? Tapi suer kok lama banget gini?

Fareta : Nah ini nih… Sedari tadi kita ngomong tapi beda karena gw orang patah hati dan loe patah arang!

Bobby seketika memandangi Fareta dengan bengong. Sedangkan Fareta tersenyum jahil padanya.

The end


Temu Keluarga Besar

Desember 25, 2007

Tepat pada hari natal, keluarga besar gw ngumpul untuk makan-makan, potret-potret, dan berbagi momen bersama.

Ulah dan karakter tiap anggota keluarga bener-bener bervariasi. Bikin gw jadi mikir banyak hal.

About the past, gw bersyukur gw sudah bisa melampaui brainwashing dan dogma mereka. Sehingga gw sekarang bisa menjalani hidup sesuai keinginan gw sendiri. Anyway, thx to them, karena gw pun juga jadi punya pegangan hidup yang bener buat bekal hidup gw.

About the present, walaupun kadang garing, emmh…tapi acara kumpul2 ini emang bagus untuk tetap mengumpulkan keluarga besar gw yang udah mulai tercerai berai karena umur, waktu, dan kesibukan masing-masing.

About the future, siapa ya yang akan aktif ngumpulin nih keluarga di masa depan? What kind of family ya yang akan gw bikin sendiri?

Anyway, temu keluarga tetep penting, bow! hehehe