Cucu Pak RT

Januari 25, 2008

Ingat pemilu tahun depan, bikin gw tiba-tiba kepikiran tentang pak RT. Presiden adalah pamong negara dengan jabatan hampir tertinggi, sebaliknya pak RT adalah jabatan pamong negara yang hampir paling rendah.

Mungkin kalian suka menertawakan profesi pak RT yang sangat familiar di kehidupan kita. Entah karena pak RT adalah pemegang tampuk kendali paling rendah dalam strukturisasi pemerintahan atau karena barangkali menjadi pak RT itu udah gak keren lagi terkait dengan image pak RT itu kadang genitlah, suka duit sogokanlah, dan lain-lain semacam itu.

Gw juga paling males kalo harus ngurus KTP dan nemuin pak RT, yang ada gw harus terpaksa sok baik dan menyelipkan beberapa lembar duit ke tangannya demi kelancaran pengurusan KTP. Gw malah kadang udah gak ngeliat pentingnya jabatan itu, secara sekarang orang cari KTP tinggal sogok petugas kelurahan atau bayar calo. Selain itu, kadang mereka juga sok menjabat, tapi lupa sama tanggung jawab dasarnya yaitu menjaga kerukunan antar tetangga.

Tapi hehe…selidik punya selidik, gw mau ngaku kalo gw tuh cucu mantan pak RT lhoh dan gw bangga karenanya. Pasalnya waktu kakek gw jadi pak RT banyak orang mendadak hormat kalo gw lewat. Bukan gw gila hormat, bow. Gw bangga karena kakek gw terkenal sebagai pak RT yang disegani banyak orang. Cara mereka menghormati dan membalas budi pada kakek gw adalah dengan sangat menghargai kami para keturunannya.

Gw sendiri sebenarnya juga gak begitu ngerasain kakek gw waktu jadi pak RT karena waktu itu gw masih sangat belia dan giliran gw dah rada gede, kakek gw dah pensiun jadi pak RT. Anehnya, tetep aja kami para keturunannya kalo lewat, masih suka disapa dengan sapaan penuh hormat gituh deh. (jadi cucu mantan pak RT aja segitu bangganya, gak kebayang kalo kakek gw mantan lurah atau presiden hehehe)

Even gw sendiri tidak punya kesempatan untuk mengenal beliau secara lebih jauh. Cuma kata bude, om, bulek, dan bokap gw yang cukup jadi orang sukses dalam kehidupan mereka masing-masing, kakek gw tuh ahli bahasa, bisa beberapa macam bahasa gitu deh. Ini mengindikasikan bahwa beliau punya pandangan open mind dan sadar bahwa pendidikan itu hal terpenting untuk memperbaiki taraf hidup orang dibandingkan orang-orang pada jamannya. That’s why bokap dan saudara-saudaranya pun bisa mandiri. Selain itu beliau sangat tegas namun baik hati bahkan royal-kayaknya ini nih yang bikin masyarakatnya seneng hehe.

Gw berharap pak RT-pak RT yang sekarang pun bisa lebih kompeten dan menyadari bahwa jabatan dan tanggung jawab mereka adalah sesuatu yang mulia. Sehingga mereka pun bisa jadi pamong yang dibanggakan dan disegani. Kalau bisa malah memberi suri teladan pada pejabat-pejabat diatasnya even seorang presiden. Nah lho! Eits, tapi kenapa tidak? berubah kan tidak harus dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas juga sah-sah saja kok.

Hidup pak RT!


Being a writer

Januari 19, 2008

Menjadi seorang penulis adalah notabene menjadi Tuhan. Dunia imajinasinya menjadi dunianya. Semua cerita dan karakter yang ada di dunianya merupakan miliknya. Bahkan dunia itu pun bisa dia perbanyak semaunya.

Penulis menyerap dan mempelajari banyak hal tentang manusia dan kehidupan. Semakin banyak pengetahuan mengenai kedua hal itu, makin berwarnalah dunianya dan semakin beragamlah cerita serta karakter yang diciptakannya.

Penulis pun bisa terserap dalam dunia imajinasinya sendiri. Oleh karena itu, ia harus mampu membedakan alam imajinasi dan realitanya dengan sebaik mungkin.

Dengan begitu seringnya seorang penulis bermain-main dengan imajinasinya, semakin pintarlah ia menciptakan sebuah cerita di dalam realita dimana ia hidup disitu. Ia tidak sedang menipu orang, tapi ia mampu membuat orang memainkan peran yang ia mau. Penulis itu sendiri pun tak segan untuk juga ambil peran dalam cerita yang sedang dimainkannya demi keutuhan cerita itu.

Akhir dan pesan serta tujuan dari cerita itu pun seringkali bisa dinikmatinya sendiri seperti ia menikmati ceritanya tayang di sebuah media cetak atau elektronik. Tak lupa ia menangis untuk adegan haru dan tertawa untuk adegan lucu. Tak jarang ia pun pura-pura meratap dan menjadi kalah ketika musuh dalam ceritanya merasa yakin akan keluar sebagai pemenang. Sekali lagi demi keutuhan cerita. Namun sebenarnya ia sudah menciptakan sebuah akhir cerita sesuai yang diinginkannya.

Apakah kemudian dengan begitu seorang penulis juga adalah seorang psikopat?

Sekali lagi jawabannya tergantung pada kemampuan dia untuk memilah dunia imajinasi dan dunia realitanya. Kalaupun ia kadang-kadang ingin bermain-main, ia tahu kapan ia harus menggabungkan kedua hal itu.

Seperti ketika seorang penulis dikatakan autis atau selfish, sebenarnya itu hanyalah permainan dua dimensi mereka. Penulis sangat tahu kata maupun kalimat yang harus disusun dan diucapkannya. Ia pun tahu timing yang tepat untuk berucap. Buat apa berucap tatkala ia tahu kata atau kalimat itu akan menganggu alur cerita yang sudah dibangunnya? Buat apa pula menegaskan keterkaitan dirinya sebagai tokoh utama dengan tokoh atau figuran dalam cerita ketika dirasanya tak perlu?

Adakah seorang penulis adalah pribadi yang aneh?

Ada apa dengan kata aneh? Salahkah menjadi aneh? Bukankah semakin aneh seorang penulis maka penulis itu barangkali memang punya paradigma yang lain daripada yang lain dibandingkan dengan orang kebanyakan? Dan bukankah seorang penulis diharuskan lebih menguasai cerita dan alurnya sendiri daripada para penikmat karyanya? Ingat penulis adalah Tuhan dalam dunia yang diciptakannya.

Apakah dengan menjadi Tuhan dan pribadi yang aneh seorang penulis layak merasa eksklusif? Tentu saja layak. Namun begitu, penulis pun juga sadar bahwa aktor atau aktris bahkan figuran sekalipun tetap boleh merasa layak untuk menjadi eksklusif. Kenapa begitu? karena penulis sangat sadar segala detil dari segi apapun merupakan sesuatu yang istimewa untuk menjadi pendukung ceritanya. Begitulah ia menghargai segala hal. Walaupun terkadang ia pun tak segan-segan membunuh karakter dalam ceritanya (sekali lagi) demi keutuhan cerita itu sendiri.

Penulis tetaplah penulis. Ia akan menuliskan apa yang dipotretnya dari realita hidupnya.  Mengusik hidupnya tak akan membuatnya gerah, karena ia tetap akan membuat cerita dan jalan hidupnya sendiri.


TAXI

Januari 9, 2008

Beberapa orang kadang menganggap naik angkutan umum bernama taxi adalah sebuah pemborosan ataupun transport yang paling najis karena memang tarifnya paling mahal diantara alat transportasi yang lain.

Buat gw, taxi memang jadi sebuah pemborosan ketika digunakan hanya untuk alasan males hidup sengsara sementara duit mepet.

Tapi taxi adalah sesuatu yang sangat memberi solusi buat gw yang gak handal mengendarai motor, gak bisa naek mobil, dan kalo naik sepeda?-waduh-

Di jakarta gw bersyukur karena persaingan yang begitu ketat diantara perusahaan taxi membuat tarif taxi menjadi lebih murah. Gw naek taxi kalau gw keburu-buru, sakit, atau baru bete hehehe…

Sedangkan gw sangat butuh taxi ketika gw di jogja. Gw udah gak sabar nungguin angkot-angkot di jogja yang suka ngetem lama seolah dunia gak bakal kiamat. But unfortunately, taxi di jogja lebih mahal. Jarak dekat, tarif baru bow!

Kebiasaan gw naek taxi ini bukan suatu kebutuhan tersier, tapi jadi kebutuhan sekunder, dan mendadak jadi kebutuhan premier ketika gw di jogja.

Mahal emang, tapi dengan naik taxi gw tidak hanya membeli kenyamanan, tapi juga waktu dan sedikit energi buat kesehatan gw.

So, naik taxi gak selalu boros dan najis kan, bow?