12 MEGAPIXEL [9]

Agustus 30, 2009

You’re just too good to be true.

Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku yakin aku harus menahannya untuk tak pergi dariku. Dan disinilah aku menatap nanar calon suamiku yang tampak sedang berkemas-kemas di apartemenku, yang selama ini sering kami tinggali bersama.

‘Jangan pergi’ Kataku singkat.

Calon suamiku tidak menjawab dan malah mempercepat acara packingnya. Akhirnya kudekati dan kupegang kedua tangannya hingga berhenti bergerak. Kucari tatap matanya, walo berulangkali ia berusaha menghindar, akhirnya kami pun bisa saling berpandangan. Hanya sedetik, namun cukup membuatku mengerti kalau ada luka teramat dalam disana.

Please, beri aku penjelasan tentang semua ini.’ Pintaku lirih namun memaksa.

Lalu sambil menepiskan tanganku, dengan suara tegas yang rapuh calon suamiku menjawab ‘Aku hanya berpikir kamu butuh lebih banyak waktu untuk berpikir lagi tentang kita dan pernikahan kita.’

Mataku terasa panas. Jawaban darinya terasa sangat datar, tapi tak ubahnya sebuah tuduhan yang menusuk.

‘Aku enggak minta apa-apa darimu, termasuk waktu untuk berpikir. Aku cuma mau kita melanjutkan pernikahan kita. Dan dari awal aku enggak pernah ragu.’ Kataku meradang.

‘Kalau gitu, aku yang butuh waktu berpikir.’ Sahutnya ketus.

Air mataku menetes, jawabannya terlalu cepat dan menyakitkan. Seolah dia ingin pergi dariku cepat-cepat. Aku terisak. Sakit. Sakit sekali.

Perlahan ia menoleh, sekilas aku yakin matanya juga berkaca-kaca namun pedih sirna dari matanya berganti dengan tatapan yang selama ini selalu kurindukan, lalu ia mendekatiku dan memelukku. Pelukannya masih terasa hangat dan mampu membuatku merasa sangat nyaman hingga air mataku tak lagi mengalir.

Rasanya aku ingin menghentikan waktu, dan kita bisa mematung dititik ini selamanya. Memori yang manis pun seolah berlomba-lomba untuk makin menghanyutkanku dalam keindahan ini. Aku masih ingat bagaimana dia suka memberantakkan rambutku dengan lembut, merangkulku semalaman, dan membuatku merasa jadi miliknya seorang dengan tak sedikitpun membiarkanku berpaling darinya. Dan aku berharap kali ini ia pun akan melakukan hal yang sama.

Hanya saja, seperti kaca jendela yang tiba-tiba pecah diterjang sebuah bola tak dikenal, ruang antara aku dan dia hancur begitu saja oleh suara bel yang ditekan berulang-ulang. Kami saling melepaskan pelukan perlahan dan menatap ke pintu.

Please, biarin aja. Mungkin cleaning service.’ Kataku.

Cleaning service enggak mungkin sekasar itu, sayang.’ Jawabnya cukup tegang.

Lalu calon suamiku segera beranjak menuju pintu, aku hanya mengikutinya, dan entah kenapa kedamaian yang tadi sempat terasa, mendadak menguap.

BRAAK!

Begitu suamiku membuka pintu, seseorang dari arah luar langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar-lebar. Disana, di pintu itu, wanita itu berdiri dengan muka penuh amarah. Wajah yang sama yang dulu juga pernah membuatku sangat marah dan sakit hati. Istri sang fotografer, mantan cintaku.

Tanpa kata-kata sopan, wanita itu langsung to the point. Sangat straight forward.

‘Kalau mau ambil suami saya, ambil aja, mbak! Saya juga lama-lama gak tahan hidup dalam bayang-bayang mbak! Dulu dia bilang mbak cuman sahabatnya, tapi kenyataannya, dia selalu membicarakan mbak, dia selalu mengikutsertakan mbak dalam rumah tangga kami! Saya capek, mbak! Saya ingin dicintai sebagai diri saya sendiri!!’

Aku terperangah kaget. Sementara calon suamiku yang juga sempat kaget langsung menatapku kembali dengan tatapan terlukanya. Aku tak tahan melihat tatapan itu, tapi tolong, jangan berpaling dariku. [To be continued]


PEREMPUAN NINGRAT [5]

Juli 27, 2009

Seorang penulis menggambarkan aku sebagai perempuan ningrat sempurna di sebuah cerber. Tapi aku hanyalah seorang wanita yang ingin melepas gelar keningratanku.


Aku punya gelar ningrat dari garis keturunan ayahku, tapi aku tidak memiliki mahkota ataupun kerajaan. Aku juga seorang wanita mandiri sekaligus wanita cengeng yang patah hati dengan sahabatku sendiri, Bagas Hendrakusuma. Dan aku tidak sesuci yang orang pikir.

Rakata Ziyu, begitulah aku mengenalnya. Seorang laki-laki matang yang menjabat sebagai Presiden Direktur di sebuah perusahaan media sekaligus penulis picisan di blognya sendiri. Banyak wanita mengelilinginya, tapi Rakata Ziyu belum mau memilih salah satu dari mereka untuk selamanya. ’Kalau bisa banyak, kenapa harus satu?’ begitu katanya padaku.

Aku adalah salah satu dari wanita yang ada dalam hidupnya. Hanya saja, aku satu-satunya wanita yang hidup satu atap dengannya. Kumpul kebo. Tidak ada keluarga ataupun teman-temanku yang mengetahui hal ini. Dan aku nyaman dengan hal ini.

Tiap malam sebelum kami tidur, Rakata Ziyu selalu memberiku sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang kadang tidak membutuhkan jawaban, dan kadang sangat menuntut lebih dari sebuah jawaban verbal.

“Kenapa kamu gak pernah mau mencantumkan gelar ningratmu di namamu?” tanyanya datar.

Aku tersenyum dan menatapnya.

“Buat apa? Gelar itu gak bikin kamu jadi milikku kan?” Jawabku santai.

Di suatu malam yang lain, Rakata Ziyu tampak murung dan sangat pendiam, tapi ia gak lupa memberiku sebuah pertanyaan.

“Apa yang bisa kamu berikan ke aku kalau aku kedinginan dan kesepian?” tanyanya sedih.

“I’m here.” Jawabku. Lalu aku memeluknya. Pelukan yang hangat adalah jawaban yang lebih tepat untuknya.

Rakata Ziyu membutuhkanku seperti ia menghirup oksigen. Tak heran dia selalu menggambarkan aku sebagai tokoh wanita paling hebat di tulisan-tulisannya. Sementara aku menganggapnya sebagai dementor, ia menyedot kehidupan dariku. Entah kenapa aku menyukai caranya mengambil alih hidupku.

Keliling dunia, membicarakan hal gak penting, menghabiskan waktu yang menjemukan, menunggu keputusan yang besar, hingga memaksaku untuk melihatnya duduk bersama wanita-wanita yang menempel padanya.

Hingga suatu hari, di sebuah klub malam termewah di ibukota, saat aku menemani Rakata Ziyu bersosialisasi dengan para wanita kelas jet set, aku bertemu dengan Raden Mas Suryo, kakak tertua dari garis saudara ayahku. Ia menatapku curiga.

“Jeng, kamu kok disini? Kamu sama siapa?” Tanyanya penuh selidik.

“Lhah pakde sendiri ngapain disini? Mana Bude?” Jawabku sendiri sambil menahan senyum. [To be continued]