<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>welcome to my library!</title>
	<atom:link href="http://helenarinthasari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://helenarinthasari.wordpress.com</link>
	<description>Banyak kata, banyak cerita, banyak pilihan.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Oct 2009 10:30:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='helenarinthasari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/016dc69c070b241eea55f4fd37427cdb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>welcome to my library!</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://helenarinthasari.wordpress.com/osd.xml" title="welcome to my library!" />
		<item>
		<title>12 MEGAPIXEL [10]</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/10/01/12-megapixel-10/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/10/01/12-megapixel-10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 10:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERBER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Rasaku padanya sekarang ini cuman salah satu bentuk dari varian pengalaman perasaan terhadap masa lalu.Tidak perlu dianalisa lebih jauh.
Di titik ini, akhirnya hantu bertemu dengan alien. Istri mantan cintaku menyebutku hantu di sepanjang hidup pernikahannya. Sementara dulu ketika mereka menikah, aku menyebut istrinya itu alien, karena ia mendadak datang dan menculik cintaku.

Istri mantan cintaku itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=137&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Rasaku padanya sekarang ini cuman salah satu bentuk dari varian pengalaman perasaan terhadap masa lalu.Tidak perlu dianalisa lebih jauh.</p>
<p></em>Di titik ini, akhirnya hantu bertemu dengan alien. Istri mantan cintaku menyebutku hantu di sepanjang hidup pernikahannya. Sementara dulu ketika mereka menikah, aku menyebut istrinya itu alien, karena ia mendadak datang dan menculik cintaku.</p>
<p style="text-align:justify;">
Istri mantan cintaku itu menatapku takjub, dan aku tidak tahu kenapa. Sementara aku masih sering nanar dan tetap menganggapnya alien, karena sekali lagi dia menyeruak hadir dengan tiba-tiba di dalam hidupku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara calon suamiku mendadak bertindak sebagai wasit.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Tenang, semua tenang ya.’ Katanya lirih namun tegas.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tahu dia juga berkata seperti itu untuk  dirinya sendiri. Lalu ia menoleh kearahku dengan tatapan bingung sekaligus berusaha memberitahuku bahwa ia mengerti semua kebingungan ini. Dan walau aku tak mau sendirian menghadapi penculik cinta di masa laluku, tapi aku tahu aku harus melepaskannya.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Pergilah. Kamu benar, kamu pasti perlu waktu untuk berpikir. Kalau kita berjodoh, kita akan tahu dan saling mencari.’ Kataku tegas sekaligus pedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemarahan di wajah istri mantan cintaku mendadak sirna mendengar perkataanku barusan. Sementara calon suamiku segera memelukku sesaat sebelum akhirnya ia berlalu pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Silahkan duduk.’ Kataku tenang pada istri mantan cintaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu kami duduk berhadapan. Diam membisu. Suara detik jam semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda suasana semakin larut dalam kebosanan dan keheningan yang terlalu menekan.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Saya… saya… ‘ Kata mulai meluncur dari mulutnya walau hadir dengan tergagap.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku memberi senyuman manis padanya, berharap dengan begitu kata-kata yang mengalir darinya bisa mengalir lancar. And here you go.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Saya… pengin tahu bagaimana saya menurut mbak.’ Lanjutnya. Lalu ia tertunduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara aku terperangah mendengar pertanyaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Tolong jawab saya, ya mbak.’ Lanjutnya memohon.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Oh… baiklah. Saya akan coba menjawab.’ Kataku tegas menggantung.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mendongak dan menatapku sungguh-sungguh.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu adalah orang yang tepat untuknya. Bukan orang lain, bukan pula saya. Dulu saya pernah punya keinginan untuk sedetik saja bisa seperti kamu dengan begitu barangkali saya bisa sedetik juga memilikinya. Tapi saya bukan kamu, dan kamu bukan saya.’ Jelasku tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia memandangku tak percaya.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kenapa mbak ingin seperti saya? Toh suami saya selalu menginginkan saya menjadi seperti mbak!’ protesnya pilu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mendesah dan menggerutu dalam hati karena tiba-tiba masa lalu meminta penjelasan panjang lebar dariku.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu mencintai dan memujanya. Saya tidak. Saya menyayanginya, tapi tidak lebih dari itu. Itulah kenapa dia lebih membutuhkan kamu, daripada saya.’ Jelasku makin singkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, ia tampak tak percaya, dan makin terlihat luka di matanya yang bening.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Tapi dia mencintai dan memuja, mbak.’ Katanya lirih dan bergetar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-katanya menghujamku. Aku tidak bisa mendefinisikan perasaan yang tiba-tiba muncul di ruang benakku. Tapi aku tahu pasti bahwa aku harus mengakhiri pertemuan ini dan memberi jawaban pasti yang diharapkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Sekarang apa yang mbak rasakan padanya?” tanyanya was-was.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Segala hal yang berkaitan dengan rasa yang pernah ada di masa lalu, pastilah akan mudah teraduk pun terurai. Tapi bukan berarti mudah untuk terjalin kembali. Dan dalam kisah ini, tidak mungkin lagi terulang dan terjahit kembali. Saya harap kamu juga mau menghargai perasaan saya. Dan kalau terjadi sesuatu dengan kalian, cobalah kalian menyelesaikannya sendiri. Barangkali saya hanya kambing hitam dari hubungan kamu dan dia. Maaf.’ Jelasku panjang lebar dan penuh emosi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tiba-tiba benci dan marah bukan karena cinta atau tetek bengeknya, tapi aku marah karena tiba-tiba ada yang merobohkan pintu salah satu bilik dalam hatiku. Hatiku yang dari dulu mengharap sebuah jawaban. Dan kini jawaban itu terucap dari seseorang yang pernah mencurinya dariku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berpaling menahan air mata. Istri mantan cintaku pun beringsut pergi, mungkin menahan air mata juga.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Maafkan saya.’ Itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia beranjak pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah dengan permintaan maafnya itu berarti dia akan ikhlas mengembalikan apa yang telah dicurinya dariku? [To be continued]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=137&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/10/01/12-megapixel-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>12 MEGAPIXEL [9]</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/08/30/12-megapixel-9/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/08/30/12-megapixel-9/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 17:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[You’re just too good to be true.
 
Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku yakin aku harus menahannya untuk tak pergi dariku. Dan disinilah aku menatap nanar calon suamiku yang tampak sedang berkemas-kemas di apartemenku, yang selama ini sering kami tinggali bersama.
‘Jangan pergi’ Kataku singkat.
Calon suamiku tidak menjawab dan malah mempercepat acara packingnya. Akhirnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=133&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>You’re just too good to be true.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku yakin aku harus menahannya untuk tak pergi dariku. Dan disinilah aku menatap nanar calon suamiku yang tampak sedang berkemas-kemas di apartemenku, yang selama ini sering kami tinggali bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Jangan pergi’ Kataku singkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Calon suamiku tidak menjawab dan malah mempercepat acara packingnya. Akhirnya kudekati dan kupegang kedua tangannya hingga berhenti bergerak. Kucari tatap matanya, walo berulangkali ia berusaha menghindar, akhirnya kami pun bisa saling berpandangan. Hanya sedetik, namun cukup membuatku mengerti kalau ada luka teramat dalam disana.</p>
<p style="text-align:justify;">‘<em>Please</em>, beri aku penjelasan tentang semua ini.’ Pintaku lirih namun memaksa.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu sambil menepiskan tanganku, dengan suara tegas yang rapuh calon suamiku menjawab ‘Aku hanya berpikir kamu butuh lebih banyak waktu untuk berpikir lagi tentang kita dan pernikahan kita.’</p>
<p style="text-align:justify;">Mataku terasa panas. Jawaban darinya terasa sangat datar, tapi tak ubahnya sebuah tuduhan yang menusuk.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Aku enggak minta apa-apa darimu, termasuk waktu untuk berpikir.  Aku cuma mau kita melanjutkan pernikahan kita. Dan dari awal aku enggak pernah ragu.’ Kataku meradang.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kalau gitu, aku yang butuh waktu berpikir.’ Sahutnya ketus.</p>
<p style="text-align:justify;">Air mataku menetes, jawabannya terlalu cepat dan menyakitkan. Seolah dia ingin pergi dariku cepat-cepat. Aku terisak. Sakit. Sakit sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlahan ia menoleh, sekilas aku yakin matanya juga berkaca-kaca namun pedih sirna dari matanya berganti dengan tatapan yang selama ini selalu kurindukan, lalu ia mendekatiku dan memelukku. Pelukannya masih terasa hangat dan mampu membuatku merasa sangat nyaman hingga air mataku tak lagi mengalir.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasanya aku ingin menghentikan waktu, dan kita bisa mematung dititik ini selamanya. Memori yang manis pun seolah berlomba-lomba untuk makin menghanyutkanku dalam keindahan ini. Aku masih ingat bagaimana dia suka memberantakkan rambutku dengan lembut, merangkulku semalaman, dan membuatku merasa jadi miliknya seorang dengan tak sedikitpun membiarkanku berpaling darinya. Dan aku berharap kali ini ia pun akan melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja, seperti kaca jendela yang tiba-tiba pecah diterjang sebuah bola tak dikenal, ruang antara aku dan dia hancur begitu saja oleh suara bel yang ditekan berulang-ulang. Kami saling melepaskan pelukan perlahan dan menatap ke pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">‘<em>Please</em>, biarin aja. Mungkin <em>cleaning service</em>.’ Kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">‘<em>Cleaning service</em> enggak mungkin sekasar itu, sayang.’ Jawabnya cukup tegang.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu calon suamiku segera beranjak menuju pintu, aku hanya mengikutinya, dan entah kenapa kedamaian yang tadi sempat terasa, mendadak menguap.</p>
<p style="text-align:justify;">BRAAK!</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu suamiku membuka pintu, seseorang dari arah luar langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar-lebar. Disana, di pintu itu, wanita itu berdiri dengan muka penuh amarah. Wajah yang sama yang dulu juga pernah membuatku sangat marah dan sakit hati. Istri sang fotografer, mantan cintaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa kata-kata sopan, wanita itu langsung <em>to the point</em>. Sangat <em>straight forward</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kalau mau ambil suami saya, ambil aja, mbak! Saya juga lama-lama gak tahan hidup dalam bayang-bayang mbak! Dulu dia bilang mbak cuman sahabatnya, tapi kenyataannya, dia selalu membicarakan mbak, dia selalu mengikutsertakan mbak dalam rumah tangga kami! Saya capek, mbak! Saya ingin dicintai sebagai diri saya sendiri!!’</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terperangah kaget. Sementara calon suamiku yang juga sempat kaget langsung menatapku kembali dengan tatapan terlukanya. Aku tak tahan melihat tatapan itu, tapi tolong, jangan berpaling dariku. [To be continued]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=133&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/08/30/12-megapixel-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEREMPUAN NINGRAT [5]</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/27/perempuan-ningrat-5/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/27/perempuan-ningrat-5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 10:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Seorang penulis menggambarkan aku sebagai perempuan ningrat sempurna di sebuah cerber. Tapi aku hanyalah seorang wanita yang ingin melepas gelar keningratanku. 

Aku punya gelar ningrat dari garis keturunan ayahku, tapi aku tidak memiliki mahkota ataupun kerajaan. Aku juga seorang wanita mandiri sekaligus wanita cengeng yang patah hati dengan sahabatku sendiri, Bagas Hendrakusuma.  Dan aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=129&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Seorang penulis menggambarkan aku sebagai perempuan ningrat sempurna di sebuah cerber. Tapi aku hanyalah seorang wanita yang ingin melepas gelar keningratanku. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em></em><br />
Aku punya gelar ningrat dari garis keturunan ayahku, tapi aku tidak memiliki mahkota ataupun kerajaan. Aku juga seorang wanita mandiri sekaligus wanita cengeng yang patah hati dengan sahabatku sendiri, Bagas Hendrakusuma.  Dan aku tidak sesuci yang orang pikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Rakata Ziyu, begitulah aku mengenalnya. Seorang laki-laki matang yang menjabat sebagai Presiden Direktur di sebuah perusahaan media sekaligus penulis picisan di blognya sendiri. Banyak wanita mengelilinginya, tapi Rakata Ziyu belum mau memilih salah satu dari mereka untuk selamanya. ’Kalau bisa banyak, kenapa harus satu?’ begitu katanya padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku adalah salah satu dari wanita yang ada dalam hidupnya. Hanya saja, aku satu-satunya wanita yang hidup satu atap dengannya. Kumpul kebo. Tidak ada keluarga ataupun teman-temanku yang mengetahui hal ini. Dan aku nyaman dengan hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiap malam sebelum kami tidur, Rakata Ziyu selalu memberiku sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang kadang tidak membutuhkan jawaban, dan kadang sangat menuntut lebih dari sebuah jawaban verbal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa kamu gak pernah mau mencantumkan gelar ningratmu di namamu?” tanyanya datar.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum dan menatapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Buat apa? Gelar itu gak bikin kamu jadi milikku kan?” Jawabku santai.</p>
<p style="text-align:justify;">Di suatu malam yang lain, Rakata Ziyu tampak murung dan sangat pendiam, tapi ia gak lupa memberiku sebuah pertanyaan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa yang bisa kamu berikan ke aku kalau aku kedinginan dan kesepian?” tanyanya sedih.</p>
<p style="text-align:justify;">“I’m here.” Jawabku. Lalu aku memeluknya. Pelukan yang hangat adalah jawaban yang lebih tepat untuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rakata Ziyu membutuhkanku seperti ia menghirup oksigen. Tak heran dia selalu menggambarkan aku sebagai tokoh wanita paling hebat di tulisan-tulisannya. Sementara aku menganggapnya sebagai dementor, ia menyedot kehidupan dariku. Entah kenapa aku menyukai caranya mengambil alih hidupku.</p>
<p style="text-align:justify;">Keliling dunia, membicarakan hal gak penting, menghabiskan waktu yang menjemukan, menunggu keputusan yang besar, hingga memaksaku untuk melihatnya duduk bersama wanita-wanita yang menempel padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga suatu hari, di sebuah klub malam termewah di ibukota, saat aku menemani Rakata Ziyu bersosialisasi dengan para wanita kelas jet set, aku bertemu dengan Raden Mas Suryo, kakak tertua dari garis saudara ayahku. Ia menatapku curiga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jeng, kamu kok disini? Kamu sama siapa?” Tanyanya penuh selidik.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lhah pakde sendiri ngapain disini? Mana Bude?” Jawabku sendiri sambil menahan senyum. [To be continued]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=129&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/27/perempuan-ningrat-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>12 MEGAPIXEL [8]</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/25/12-megapixel-8/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/25/12-megapixel-8/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 21:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERBER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Kesepian ini terlalu gaduh, membuatku tak tenang. Sakit ini tak lagi menyiksa, tapi menetap. Kejujuran ini terucapkan, namun hanya suara trompet kematian yang menyambutnya.

Harus kuacungkan jempol pada calon mertuaku atas sindiran-sindirannya yang sangat mengena, tatap tajam matanya yang menyelidik sekaligus kebijaksanaannya untuk tidak melemparkan pertanyaan to the point padaku.
Acara mengambil foto hasil pre-wed pun berjalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=124&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Kesepian ini terlalu gaduh, membuatku tak tenang. Sakit ini tak lagi menyiksa, tapi menetap. Kejujuran ini terucapkan, namun hanya suara trompet kematian yang menyambutnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em>Harus kuacungkan jempol pada calon mertuaku atas sindiran-sindirannya yang sangat mengena, tatap tajam matanya yang menyelidik sekaligus kebijaksanaannya untuk tidak melemparkan pertanyaan <em>to the point</em> padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Acara mengambil foto hasil pre-wed pun berjalan lancar, kalau kepalsuan bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk kesopanan yang sempurna. Lalu saat aku, calon mertuaku dan mantan cintaku keluar dari studio, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang tak kukenali berhenti di lobi tepat di depan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nak, mama dijemput temen, tadi lupa bilang sama kamu. Mobil mama kamu pake aja dulu. Gapapa kan, nak?” Tanya calon mertuaku dengan suara penuh penekanan dan senyum maut.</p>
<p style="text-align:justify;">Oh <em>gosh</em>, rencana apa lagi ini? Erangku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mengangguk dan menjawab dengan basa-basi sampai calon mertuaku masuk ke dalam mobil temannya dan berlalu pergi. Lalu aku menoleh pada mantan cintaku yang sudah menatapku lekat-lekat sambil tersenyum manis. Memuakkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku perlu bicara sebentar, boleh?” Tanyaku dingin padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tanpa kamu ngomong, aku  tahu ada yang mengganjal dihatimu, miss.” Jawabnya sok tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang kerja mantan cintaku dipenuhi dengan foto-foto pasangan bermuka bahagia hasil jepretannya, menambah nuansa tegang dan ironis pada suasana hatiku yang keruh menjelang hari pernikahanku. Sementara mantan cintaku duduk manis di depanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku gak liat foto kamu dengan wanita itu.” Aku melancarkan sebuah prolog.</p>
<p style="text-align:justify;">“Foto pribadiku bukan untuk konsumsi publik atau materi promosi kepiawaianku.” Jawabnya <em>cool</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>What about your children</em>?” Tanyaku ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mantan cintaku lalu tertawa terbahak-bahak, sementara aku mendadak tersihir jadi patung, tak berekspresi dan membatu, sama sekali gak tertarik dengan pancingan <em>sense of humor</em>-nya yang dibuat-buat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku menikah dan kami masih bersama sampai saat ini, kalau memang itu jawaban yang sebenarnya kamu cari, miss.” Lanjutnya (sok) tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini aku yang tertawa terkekeh. Ia mengernyit.</p>
<p style="text-align:justify;">“Senang bisa melihatmu salah membacaku.” Jelasku dengan tenang masih sambil tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba kamu menjadi marah dan bingung, walau kamu berusaha menyembunyikannya dariku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.” Lanjutku dengan suara renyah dan hangat sebagai tanda <em>euphoria</em>-ku membuka kartu truf-mu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia jawaban pencarianku selama ini.” Jawabmu seketika dengan <em>tone</em> defensif.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum, “Lalu kenapa kamu menciptakan permainan picisan ini?”</p>
<p style="text-align:justify;">Mantan cintaku hanya tersenyum kaget penuh sangkal dan mengangkat bahu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku masih tersenyum dan lanjutku, “Fotografer sekelas kamu gak semestinya jadi bagian dari paket hemat acara pernikahan. Dari <em>job</em> ini, aku yakin kamu hanya ingin mendapatkan momen untuk menuang sirup merah di segelas air putih. Mengaduk-aduk hidupku dengan brutal, sementara istri dan anakmu menunggu dengan was-was. Apa? Apa yang kamu cari?”</p>
<p style="text-align:justify;">Mantan cintaku terperangah mendengar ulasan dariku, lalu terdiam menunduk. Sementara aku beranjak berdiri untuk bersiap pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tolong hargai rasa sakitku di masa lalu sebagai bentuk keinginanku melihatmu bahagia bersamanya, sekaligus akhir dari permainanmu ini.” Aku memberi epilog dan berbalik pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku tidak pernah siap dengan pilihan ‘<em>take it or leave it</em>’ darimu, miss.” Jawabmu buru-buru, berharap dengan begitu kamu bisa mengubah pemikiranku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menghentikan langkah dan berpaling kearah mantan cintaku, kali ini aku membalas tatapannya, bukan dengan binar-binar cinta, tapi tatap hangat sebentuk persahabatan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Berhentilah mencariku dan kamu akan akan tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku memalingkan muka tepat disaat kamu hanya bisa terdiam dan matamu mulai berkaca-kaca. Lalu aku berlalu pergi, dan kali ini langkahku kembali terasa ringan. Dan dengan sebal harus kuakui kalau calon mertuaku memang ahli berstrategi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba terdengar <em>ring tone</em> hpku disusul suara omelan ibuku yang panik.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu dimana? Aduh ibu bingung nih! Masmu, calon suamimu itu, masak menahan semua proses persiapan pernikahan, tapi calon mertuamu bilang pernikahan terus berjalan! Yang mana sih yang bener? Kalau ada apa-apa, bilang dong sama ibu, masak ibu jadi orang terakhir yang tahu, gimana sih kamu ini? Bla bla bla…’</p>
<p style="text-align:justify;">Omelan ibuku mulai terdengar sayup-sayup, karena selanjutnya yang kutahu hanyalah jantungku berhenti berdetak seiring derap langkahku yang melaju kencang. [To be continued]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=124&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/25/12-megapixel-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIALOG DINI HARI [8]</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/02/dialog-dini-hari-8/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/02/dialog-dini-hari-8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 21:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERBER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Aku bukan pencinta komitmen, tapi aku tahu apa yang aku inginkan saat ini tentang kita.


Suamiku mendesah kuat dalam ketidakberdayaannya membaca pikiranku. Sementara aku sengaja menatapnya lekat-lekat, memberinya kesempatan untuk merasa yakin bahwa aku serius dengan perkataanku.
‘Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu?’ Sekali lagi kuulang pertanyaanku.
Tiba-tiba kamu marah, matamu memerah, seringaimu memberangas, dan nafasmu tak beraturan dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=119&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Aku bukan pencinta komitmen, tapi aku tahu apa yang aku inginkan saat ini tentang kita.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Suamiku mendesah kuat dalam ketidakberdayaannya membaca pikiranku. Sementara aku sengaja menatapnya lekat-lekat, memberinya kesempatan untuk merasa yakin bahwa aku serius dengan perkataanku.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu?’ Sekali lagi kuulang pertanyaanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba kamu marah, matamu memerah, seringaimu memberangas, dan nafasmu tak beraturan dalam ritme cepat. Kamu mendekatiku dengan langkah goyah.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kurang ajar! Kamu sudah mempermainkan aku! Kamu membolak-balik perasaanku! Melukai egoku!  Kamu kira aku sebodoh itu untuk bisa mempercayaimu lagi?’ tanyanya garang.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah tahu dari dulu bahwa suamiku tidak pernah benar-benar siap berselingkuh. Ia selalu mencari kambing hitam dan cuci tangan setiap kali rahasianya nyaris terbongkar. Suamiku hanyalah laki-laki dengan kodrat dan sifat kelaki-lakiannya yang berada dalam garis sangat normal. Makhluk berego dan berhasrat besar. Lalu aku tertawa terbahak sendirian di ruang imajinasiku. Satu hal yang membedakan aku dengannya adalah aku wanita dengan perasaan sensitif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan hidup berkutat dengan perasaan mengajarkanku untuk menata perasaan seperti meracik sushi. Semua harus dalam porsi kecil, detail rumit yang imut, dan sensasi rasa yang hanya boleh meledak sesaat. Dan sebaiknya disajikan dingin saja, karena sushi bukanlah dimsum dengan asap mengepul. Itulah mengapa aku tidak pernah menjadi korban dalam setiap cerita perselingkuhanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu suamiku menghentakkan kaki, membuatku tersadar dan spontan menjawab pertanyaannya yang menjadi memori remeh berumur pendek dalam otakku.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Aku hanya mengutarakan fakta.’ Jawabku datar.</p>
<p style="text-align:justify;">Suamiku mengatupkan rahangnya dan menggeretakkan giginya dengan keras. Suara dari mulutnya mampu mengeluarkan suara-suara tak jelas yang menyebalkan. Mungkin begitulah suara gertak sambal.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kenapa kamu mau kembali padaku?’ Tanyanya lagi dengan kemarahan yang nyaris tak terbendung.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Dalam kisah Cinderella, tidak ada perselingkuhan ataupun perceraian. They just live happily ever after.’ Jawabku sedikit dengan tone komedi satir.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu bukan Cinderella! Dan kisah kita bukan hanya dongeng pengantar tidur!’ Raungmu membahana.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum manis pada suamiku. Suamiku mengernyitkan kening padaku, makin tak memahamiku.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kalau memang kisah kita lebih nyata dan berharga, kenapa selama ini kamu tidak menjaganya?’ Tanyaku menjawab protesmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu matamu berkaca-kaca. Ingin sekali aku bertanya alasanmu sebenarnya hingga kali ini kamu rela meneteskan air matamu di hadapanku. Namun, aku sudah terlalu jengah bermain seribu satu tebak-tebakan denganmu.[To be continued]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=119&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/07/02/dialog-dini-hari-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GADIS LOLI POP</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/06/18/gadis-loli-pop/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/06/18/gadis-loli-pop/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 10:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Hidupku penuh warna-warni. Cita rasa auraku manis. Tapi aku cepat meluruh dan menghilang.


“Mau?”
Aku memandang ke sebuah lingkaran bulat yang besar dan berwarna-warni cerah yang ia sodorkan padaku. Ada sesuatu yang menarik dari lingkaran bulat itu, aku pun seperti dihipnotis dengan lingkaran-lingkarannya yang tampak seperti lingkaran tes psikologi, lalu aku menerimanya.
“Loli pop.” Kata orang itu.
Entah lolly [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=116&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Hidupku penuh warna-warni. Cita rasa auraku manis. Tapi aku cepat meluruh dan menghilang.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Mau?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku memandang ke sebuah lingkaran bulat yang besar dan berwarna-warni cerah yang ia sodorkan padaku. Ada sesuatu yang menarik dari lingkaran bulat itu, aku pun seperti dihipnotis dengan lingkaran-lingkarannya yang tampak seperti lingkaran tes psikologi, lalu aku menerimanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Loli pop.” Kata orang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah lolly pop atau loli pop aku tak peduli, yang jelas semenjak itu aku tidak pernah berhenti menikmati loli pop. Sehingga orang-orang mulai terbiasa dengan pemandangan aku dan sebatang permen loli pop. Loli pop juga memberi banyak warna dalam hidupku. Dengan loli pop, aku mengenal banyak teman yang mau berbagi loli pop denganku. Kadang loli pop juga mengisi kesendirianku dengan sensasi rasa manisnya yang selalu sukses membuaiku. Loli pop dan aku, adalah dua menjadi satu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi tahukah kamu loli pop bisa cepat habis?”</p>
<p style="text-align:justify;">Loli pop bisa dengan sangat cepat meluruh menjadi Kristal-kristal mencair di mulut dan lalu hilang begitu saja. Kadang aku hanya bisa menikmati kehilangannya sambil memandangi batang dimana loli pop itu tadinya ada dan berdiri angkuh disitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitupun aku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ada anak-anak lain yang menginginkan loli popku, iri karena loli popku, atau merebut loli popku, aku tak segan-segan akan segera memberikan loli popku pada mereka. Bukan, bukan karena aku tak sayang pada loli popku, tapi aku tidak suka menikmati loli pop dengan pandangan iri, perasaan benci, dan tangan-tangan kotor yang siap memukulku kapan saja kalau aku tidak segera memberikan loli popku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak suka berebut. Aku tidak suka menanggung rasa nyeri. Aku tidak suka situasi yang ricuh. Aku tidak suka hidup menjadi tempat hitam dan putih saja, aku atau kamu, suka atau tidak suka, benci atau cinta. Itu semua bukan loli pop. Bukan aku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ambillah kalau kalian mau.” Kataku pada mereka dingin.</p>
<p style="text-align:justify;">Kusodorkan loli popku pada mereka. Mereka yang langsung merenggutnya dariku dengan tatapan yang teramat sangat rakus, tak mempedulikanku, dan loli popku yang barangkali akhirnya menyesal karena berpindah tangan dariku. Mereka tidak menikmati loli pop itu sebagaimana aku. Mereka hanya melihat warna-warninya. Mereka tidak tahu kalo loli pop cepat habis jika dimakan dengan sangat rakus, karena warna-warni loli pop itu akan menghilang seperti sinar bohlam yang tiba-tiba padam, dan keindahannya akan sirna begitu saja. Mereka pun melewatkan sebuah loli pop begitu saja. Begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun akan berbalik pergi, tak kuasa untuk melihat nasib loli popku di tangan mereka. Aku akan segera meluruh dan menghilang dengan kehilangan yang teramat sangat, tapi aku lega aku terbebas dari mereka semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali sepi dan tanpa cahaya dalam beberapa saat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku yakin aku akan segera mendapatkan loli popku yang baru. Loli pop dengan rasa manis yang tidak membuatku terancam, yang bisa meninabobokanku dengan gulir-gulir indah hidup yang ceria dan berwarna.</p>
<p style="text-align:justify;">The End.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=116&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/06/18/gadis-loli-pop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUMAH TANPA TAMU</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/05/10/rumah-tanpa-tamu/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/05/10/rumah-tanpa-tamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 17:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[
Lengang. Sepi. Tanpa jejak.
Waktu itu aku sedang pergi denganmu, saat kita melewati sebuah rumah yang tampak sepi. Kita sempat mendengar dari salah seorang penjaga di depan rumah itu, kalau ada seseorang yang tinggal di rumah itu. Namun, aku dan kamu sama sekali gak melihat ada tanda-tanda kehidupan disana.
“Bapak itu padahal anaknya banyak lho, mbak! Lha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=109&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Lengang. Sepi. Tanpa jejak.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu itu aku sedang pergi denganmu, saat kita melewati sebuah rumah yang tampak sepi. Kita sempat mendengar dari salah seorang penjaga di depan rumah itu, kalau ada seseorang yang tinggal di rumah itu. Namun, aku dan kamu sama sekali gak melihat ada tanda-tanda kehidupan disana.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak itu padahal anaknya banyak lho, mbak! Lha wong isterinya aja tiga!” cerita si penjaga dengan intonasi gosip yang berapi-api.</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus isteri sama anak-anaknya kemana, mbak?” tanyaku pada si penjaga yang kalo ngeliat dari dandanannya dan tingkah lakunya pasti bakal bête kalo dipanggil mas, walopun bentuknya cowok abis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Isterinya ada yang udah koid tapi entah dimana, trus ada yang masih hidup tapi udah cerai dan kawin lagi, non. Nah kalo anak-anaknya, ya gitu deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu langsung mengernyit mendengar jawaban tak jelas itu, “Gitu deh itu gimana?”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sebelum kamu sempat menunggu jawaban dari penjaga restoran itu, si empunya mulut sudah ngacir karena ada tamu cowok yang ganteng datang tak jauh dari kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita berpandangan. Kamu masih dengan ekspresi bingung dan penuh tanya, sementara aku tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Orang tua mau dihormatin anak ato isterinya, kan tergantung kepribadiannya, babe.” Jelasku santai.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi orang tua juga bukan dewa kan say, yang selalu bener dan hebat. Masak kalo ortu punya salah, trus anak-anaknya boleh gak ngehormatin ortunya ?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin itulah kenapa ada peribahasa ‘kamu menuai apa yang kamu tabur’, babe.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tuwir deh omongan kamu, say.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kamu cinta kan?” candaku senang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu lalu memelukku dan kita tertawa bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">“Babe, aku gak mau jadi tua dan sendiri kayak orang di rumah itu. Aku pengin punya banyak tamu dirumahku nanti.” Katanya merajuk manja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya makanya, sekarang kamu jangan berani-berani selingkuh, apalagi kawin siri yaa…” jawabku renyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu mengangguk mantap dan tersenyum lebar. Dan kamu memelukku (lagi).</p>
<p style="text-align:justify;">“Babe, kalo kamu kelak jadi ibu dari anak-anakku, aku yakin kamu bisa ngasih konsep hidup yang bener sama anak-anak kita nanti.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum tipis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Thanx God, bokap ngasih konsep hidup yang bener ke aku, babe. Cuman sayang, bokap gak ngasih konsep pernikahan ke aku.” Kataku lembut tapi serius.</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini kamu melepas pelukanmu dariku sambil memandangku dengan tegang. Aku pura-pura tak menyadarinya, dan akhirnya memberi sejumput bunga jatah makam ayahku, untuk sebuah makam terbengkalai itu.</p>
<p style="text-align:justify;">The end.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=109&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/05/10/rumah-tanpa-tamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I want to wake up with the sun</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/24/i-want-to-wake-up-with-the-sun/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/24/i-want-to-wake-up-with-the-sun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 14:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[I want to sleep with you, but I want to wake up with him…

Saat malam menjelang, ada adrenalin memuncak di diriku. Suatu kepuasan dan tantangan membaur. Kepuasan bahwa aku akan menjadi ratu untuk sepotong malam yang cerah ini, dan tantangan untuk mengisi malam seindah mungkin.
Aku mencintai malam hingga terkadang melebihi diriku sendiri. Setiap detik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=105&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>I want to sleep with you, but I want to wake up with him…<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saat malam menjelang, ada adrenalin memuncak di diriku. Suatu kepuasan dan tantangan membaur. Kepuasan bahwa aku akan menjadi ratu untuk sepotong malam yang cerah ini, dan tantangan untuk mengisi malam seindah mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mencintai malam hingga terkadang melebihi diriku sendiri. Setiap detik yang bergulir di malam hari, kuhitung, kujaga, dan kutunggui seperti aku menunggu cinta sejatiku datang. Dengan rajin, kuikuti satu per satu cerita yang tersaji di televisi. Kadang aku sudah menyiapkan sebuah buku yang menarik dan sederetan lagu di I-pod untuk menemanimu. Tak lupa berbagai cemilan yang menarik selera aku dan kamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu pun senang dengan kehadiranku. Kamu tak lagi disebut malam yang kesepian atau waktu tidur yang membosankan. Kamu menjadi malam yang dinamis dan hingar bingar karenaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ketika malam makin melarut, angin meniupkan udara dingin yang terlampau menggigit, dan sepi membumbung diantara kita, di saat itulah aku ingin melepasmu. Aku ingin pergi darimu. Sejenak, kataku padamu tegas. Tapi kamu pura-pura tak mendengarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah bagaimana, kamu berusaha mengikatku dengan berbagai hal agar aku tak beranjak darimu. Dan untuk hal yang satu itu, aku salut padamu. Kamu selalu berhasil membuatku berpikir ‘ah, malam masih panjang. Sebentar lagi…’ dan kemudian ribuan kali sebentar lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">
Aku menikmati malam. Aku ingin melewati malam hinggaku tertidur. Tapi selalu kamu membangunkanku dan meyakinkanku untuk selalu terjaga.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang aku frustasi, despresi, dan putus asa untuk menolak ajakanmu. Kamu pun tak mau tahu dan sangat menyadari kalau ajakanmu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Aku sedang gelisah, dan dengan aku tetap terjaga, kamu membuaiku dan memberitahuku agar aku terus berjaga karena esok akan segera tiba dan semua kegelisahanku akan lenyap, tanpa aku harus tertidur dan bermimpi buruk tentangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasa kantuk dengan marah meninggalkanku dengan kekecewaaan yang meradang. Pikiranku pun makin kreatif menciptakan berbagai gaya ini itu untuk tetap terjaga. Kadang aku melihat cermin dan berbincang dengan diriku sendiri disana. Lalu aku membuka laptopku, membolak-balik site demi site. Dan kadang sebuah game menyempurnakan rencanamu untuk terus membuatku tetap disini. Di malam hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ketika malam menyusut pergi seperti seorang vampire yang beranjak dari korbannya dan pergi berselimutkan kegelapan, kamu tersenyum puas padaku. Kamu puas telah menahanku disini untukmu. Dan untuk pergi pun rasanya sudah terlambat untukku. Kantuk tak lagi mau menghampiriku. Dan kamu tak mau meninabobokanku. Kamu pergi begitu saja. Tertawa puas pada dirimu sendiri, namun sadis bagiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menjelang pagi dengan sesal dan lelah. Matahari pun tak tersenyum ramah padaku, karena menatapnya pun aku tak sanggup. Hanya kegelapan menggelantung di pelupuk mataku. Lalu diam dan sepi. Kamu pergi. Dan dia marah padaku karena aku tak menyambutnya dengan senyum ceria, bahkan karena aku pun kemudian meninggalkannya dalam kelelahan yang teramat sangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku benci mengakui semua ini, tapi aku harus jujur bahwa kamu memang sangat menggiurkan di saat malam datang. Tapi tolong, biarkan aku pergi di saat malam melarut, karena di pagi hari aku ingin bersamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Insomnia love story.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyakitkan. Menyesakkan.</p>
<p style="text-align:justify;">The end.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=105&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/24/i-want-to-wake-up-with-the-sun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HOLD MY STORY PLEASE…</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/17/hold-my-story-please%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/17/hold-my-story-please%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 21:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Kamu selalu memukauku lebih dari yang aku duga selama ini.

Kalau saja kamu tahu berapa kali aku menelusuri profile di Facebookmu, hanya untuk sekedar mengikuti perjalananmu, hidupmu, dan bayang-bayangmu. Berjuta kali aku pun berusaha menahan diri untuk tidak menuliskan sepatah katapun di statusmu, hanya karena aku tidak ingin masuk dalam kehidupanmu. Bukan, bukan karena aku tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=90&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Kamu selalu memukauku lebih dari yang aku duga selama ini.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em></em><br />
Kalau saja kamu tahu berapa kali aku menelusuri profile di Facebookmu, hanya untuk sekedar mengikuti perjalananmu, hidupmu, dan bayang-bayangmu. Berjuta kali aku pun berusaha menahan diri untuk tidak menuliskan sepatah katapun di statusmu, hanya karena aku tidak ingin masuk dalam kehidupanmu. Bukan, bukan karena aku tidak benar-benar menginginkannya, tapi karena aku tahu tempat itu bukan untukku.</p>
<p style="text-align:justify;">
Tapi kamu boleh tahu bagaimana aku menemukanmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu itu hidupku hanyalah aku dan pekerjaanku, ketika kamu datang menyeruak ditengah-tengahnya. Kamu suka memakai baju hitam waktu itu. Dan raut wajahmu yang tegas makin terbingkai jelas dengan baju hitam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya, semua terkunci.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, kamu mulai membuka jendelamu dan menatap kearahku tanpa ragu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat itulah, aku tahu aku sudah boleh menyapamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pikiran liarku kamu duduk diam menatapku dengan tatapan matamu yang tajam, senyum tipis yang menggoda, aura dirimu yang seksi,dan kharismamu yang cool.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menikmatimu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu kita mulai bersentuhan, duniamu dan duniaku melebur.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Masih ingat gak waktu kita syuting bersama?’</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu suka musik apa?’</p>
<p style="text-align:justify;">‘Tulisanmu mengesankan’</p>
<p style="text-align:justify;">‘Kamu cowok paling cool yang pernah aku kenal’</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sejuta bla bla bla diantara kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu mengerti aku, aku mengerti kamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada sedikit perbedaan dan pertengkaran diantara kita, tapi kita terlalu sempurna untuk berpisah begitu saja hanya karena hal-hal kecil. Kitalah peran utama dalam cerita cinta ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu orang-orang mulai suka mengamati kita. Kita. Aku dan kamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kita mengabaikan mereka semua, karena aku memilih tenggelam dalam pesonamu, dan kamu pun tak ingin aku pergi. Indah. Semua itu indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku dan kamu memutuskan untuk membuat sebuah film tentang kita. Film yang sekuelnya banyak. Film yang hanya boleh menemui akhir saat hidup kita berakhir, dan bukan cinta kita.</p>
<p style="text-align:justify;">‘kamu suka dengan film kita, sayang?’</p>
<p style="text-align:justify;">‘hate it not, baby.’</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kita berpelukan, kamu di sofa ujung sana, aku di sofa ujung sini, saling tatap dalam ruang waktu, saling bicara dalam tatapan, saling merasakan dalam riuh rendah suara hati kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingin tulisan tentang kita, hanya sampai disini saja. Bahagia dan menarik kan, sayang?</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi pada kenyataannya, cerita bergulir menjadi kisah bersambung yang menjemukan. Kamu dan aku hanya boleh saling memiliki dalam pengapnya hidup kita masing-masing. Aku dengan kisah-kisah cinta picisan. Kamu dengan bahtera perkawinan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">The end for sure. But not expected.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=90&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/17/hold-my-story-please%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I give you my solely card</title>
		<link>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/03/i-give-you-my-solely-card/</link>
		<comments>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/03/i-give-you-my-solely-card/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 19:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>helenarinthasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[KOLOM BENGONG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://helenarinthasari.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Naya dan Albert duduk di sebuah meja kecil. Suasana diantara mereka berdua tegang dan sunyi. Sementara orang-orang di sekeliling mereka riuh rendah karena permainan telah sampai di puncak sekaligus akhir. Satu kartu ditangan Naya, satu kartu ditangan Albert. Taruhan diantara orang-orang itu pun menambah permainan ini seolah milik publik.
Namun, buat Naya permainan ini adalah ujian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=79&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Naya dan Albert duduk di sebuah meja kecil. Suasana diantara mereka berdua tegang dan sunyi. Sementara orang-orang di sekeliling mereka riuh rendah karena permainan telah sampai di puncak sekaligus akhir. Satu kartu ditangan Naya, satu kartu ditangan Albert. Taruhan diantara orang-orang itu pun menambah permainan ini seolah milik publik.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, buat Naya permainan ini adalah ujian keikhlasan. Buat Albert permainan ini benar-benar sebuah pertandingan dan kemenanganlah yang ingin dia raih. Dan permainan ini hanya milik mereka berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berdetak, dan seolah Naya mengabaikannya, Naya tiba-tiba tersenyum dan meregangkan ototnya, walo tatapannya tetap tertuju pada Albert.</p>
<p style="text-align:justify;">Naya : Menurutmu, kamu bakal menang atau kalah?</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : (tersenyum penuh percaya diri) Menang!</p>
<p style="text-align:justify;">Pendukung Albert langsung bersorak kegirangan. Sementara pendukung Naya, tampak makin gelisah.</p>
<p style="text-align:justify;">Naya : Kamu ingin menang atau kalah?</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : (tertawa terbahak-bahak) Menang dong!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seolah alam semesta mengurung mereka berdua, mereka saling menatap makin tajam. Tak peduli sekitar mereka. Berhenti di satu titik. Berlari di hamparan nostalgi dan romantisme masa lalu. Mereka sadar mereka harus menghentikan permainan ini, sebelum semua orang kecewa dan memporak-porandakan keutuhan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Naya : Apa yang kamu inginkan dariku biar kamu bisa menang?</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : Kamu tahu apa yang kumau.</p>
<p style="text-align:justify;">Naya : Aku akan memberimu kemenangan, asal kamu harus percaya padaku, menukar kartumu dengan kartuku.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert tercengang mendengar usul Naya. Naya mengangguk mantap, berusaha meyakinkan Albert.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : Gimana aku bisa percaya sama kamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Naya tersenyum, mengacungkan kartunya yang masih tertutup tepat di wajah Albert. Albert tampak berpikir keras dan terus menatap Naya hingga akhirnya ia menemukan sesuatu di mata Naya, sesuatu yang membuat ia sadar alasan Naya rela terhanyut dalam permainannya selama ini. Dan, entah terdorong oleh hasrat kemenangan atau kebodohan, Albert menguarkan sebuah kata demi kemenangan yang selama ini ingin ia raih dari seorang Naya.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : Setuju!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bagaikan adegan yang diarahkan oleh seorang sutradara, orang-orang disekitar mereka berdua mendadak freeze. Sementara hanya Albert dan Naya yang mencair dan bergerak bebas. Albert dan Naya bertukaran kartu. Lalu keadaan berbalik normal.</p>
<p style="text-align:justify;">Penonton : Buka! Buka! Buka!</p>
<p style="text-align:justify;">Naya membuka kartunya dengan mantap. Albert mengikutinya. Semua orang ternganga. Albert menang! Albert berteriak kegirangan, para pendukungnya menyambutnya dengan sorakan pujian. Sementara Naya tersenyum sekilas pada Albert dan beranjak pergi dari tempat duduknya. Para pendukung Naya dengan lemas merogoh kocek mereka untuk membayar kekalahan mereka. Tiba-tiba sebuah teriakan menguar lantang.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : Tunggu!</p>
<p style="text-align:justify;">Naya berhenti dan menoleh.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert : Aku&#8230; Aku&#8230; (tergagap masai)</p>
<p style="text-align:justify;">Naya : Gak usah merasa berhutang apa-apa. Aku suka kamu keluar sebagai pemenang. Dan thanx a lot kamu udah mempercayaiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Naya meneruskan langkahnya, meninggalkan senyuman manis untuk memori Albert. Kartu di tangan Albert perlahan jatuh seiring Albert yang jatuh terkulai. Hiruk pikuk orang-orang yang sibuk bertaruh mengabaikan Albert.</p>
<p style="text-align:justify;">Albert tertunduk, &#8216;<em>Kemenanganku harus kutebus dengan tiket perjalanan tak kembali untukmu. Tak akan ada lagi dirimu.&#8217;</em></p>
<p style="text-align:justify;">The End.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/helenarinthasari.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/helenarinthasari.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/helenarinthasari.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/helenarinthasari.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/helenarinthasari.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/helenarinthasari.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/helenarinthasari.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/helenarinthasari.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/helenarinthasari.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/helenarinthasari.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=helenarinthasari.wordpress.com&blog=1622452&post=79&subd=helenarinthasari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://helenarinthasari.wordpress.com/2009/04/03/i-give-you-my-solely-card/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54cc9a72978a059f94a96b207aa9b066?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">helena</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>