Wanita pembawa panci

Tampak sosok seorang wanita tergeletak di sebuah pinggir jalan yang riuh dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Suara desingan membahana di keriuhan itu, seiring dengan suara teriakan para laki-laki di tempat itu. Wanita itu membuka matanya perlahan dan seketika melindungi matanya dari terpaan sinar matahari dengan tangannya. Ia beranjak dan seketika pula ia juga bergidik dan menutup telinganya.

Orang-orang melihatnya dengan aneh namun tak ada satu pun yang menghampirinya. Wanita itu melihat ke arah sekelilingnya dan terpanalah ia melihat pemandangan di depannya. Para laki-laki berjualan dan berteriak-teriak menjajakan dagangannya dengan para wanita yang berada di samping mereka masing-masing, dan para wanita itu masing-masing membawa sebuah panci!

Bahkan para wanita yang berlalu-lalang seorang diri pun juga membawa sebuah panci. Anehnya, memang hanya para wanitalah yang membawa panci. Panci-panci itu tergantung di leher para wanita. Bentuk dan ukuran panci-panci itu pun berlainan.

Wanita itu hanya terperangah. Ia bingung karena ini bukan dunianya dan ini dunia yang aneh. Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat meraih bahunya. Wanita itu terkejut dan melihat ke arah seseorang yang memegang bahunya. Tampaklah seorang wanita tua yang berwajah tegas dan tegang. Ia memberi isyarat ajakan kepadanya. Wanita tua itu berbalik, lalu wanita itu mengikutinya.

Masuklah mereka ke sebuah rumah sederhana yang sangat etnik. Wanita tua itu terus berjalan ke lantai 2 dan akhirnya berhenti di depan sebuah jendela yang besar dimana terbentang pemandangan para wanita berpanci. Wanita itu berhenti di belakang wanita tua itu dan masih menatapnya dengan bingung sambil sesekali mengarahkan pandangan ke luar jendela itu pula.

Tiba-tiba wanita tua itu berbalik, pancinya bergerak. Anehnya, pancinya tidak sama dengan yang dimiliki para wanita di keriuhan tadi. Panci wanita itu terbuat dari emas. Wanita tua itu pun memecahkan keheningan dengan suaranya yang dalam dan tegas.

“Panci ini pertanda status yang dimiliki seorang wanita, apakah dia lajang atau tidak, bersuamikan orang kaya atau bukan, dan kemampuannya melahirkan. Tolol memang. Tapi kami para pembela emansipasi wanita lebih suka mengartikan panci ini melalui ukurannya sesuai pemikiran kami.

Besar kecil panci ini adalah penanda kemampuan wanita itu dalam mengisi hidupnya, entah itu dalam kehidupan pribadi, keluarga, atau sosialnya.

Wanita tua itu tersenyum aneh. Rona matanya memancar tajam. Seketika wanita yang dihadapannya terkesiap seolah menyadari sesuatu. Akhirnya, keluarlah kata-kata dari mulutnya dengan lugas.

Tidak perlu sebuah panci untuk memperlihatkan siapa dan bagaimana kita. Tanpa panci pun semua makhluk di dunia ini tahu kita adalah seorang wanita. Kecuali… kalian menerima panci itu sebagaimana kalian menerima diri kalian adalah budak. Budak ego kalian sendiri ataupun budak laki-laki.

Senyum wanita tua itu sirna, wajahnya kini penuh amarah. Lalu keluarlah dari sudut-sudut bayangan, para wanita lain dengan panci-panci di leher mereka. Mereka mendekat ke arah wanita itu. Muka mereka seram. Wanita itu terkepung dalam lingkaran panci yang bergelontangan keras.

TIDAK!!!

Ssst… tenang sayang…tenang…you’ll be ok. Kita makan sop dulu ya.

Wanita itu membuka matanya dan terlihatlah seorang wanita tua yang adalah ibunya sedang berdiri di dekatnya sambil membawa sepanci sop ayam. Wanita itu hanya bisa menatap nanar dan jalang.

The end


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s