Being a writer

Menjadi seorang penulis adalah notabene menjadi Tuhan. Dunia imajinasinya menjadi dunianya. Semua cerita dan karakter yang ada di dunianya merupakan miliknya. Bahkan dunia itu pun bisa dia perbanyak semaunya.

Penulis menyerap dan mempelajari banyak hal tentang manusia dan kehidupan. Semakin banyak pengetahuan mengenai kedua hal itu, makin berwarnalah dunianya dan semakin beragamlah cerita serta karakter yang diciptakannya.

Penulis pun bisa terserap dalam dunia imajinasinya sendiri. Oleh karena itu, ia harus mampu membedakan alam imajinasi dan realitanya dengan sebaik mungkin.

Dengan begitu seringnya seorang penulis bermain-main dengan imajinasinya, semakin pintarlah ia menciptakan sebuah cerita di dalam realita dimana ia hidup disitu. Ia tidak sedang menipu orang, tapi ia mampu membuat orang memainkan peran yang ia mau. Penulis itu sendiri pun tak segan untuk juga ambil peran dalam cerita yang sedang dimainkannya demi keutuhan cerita itu.

Akhir dan pesan serta tujuan dari cerita itu pun seringkali bisa dinikmatinya sendiri seperti ia menikmati ceritanya tayang di sebuah media cetak atau elektronik. Tak lupa ia menangis untuk adegan haru dan tertawa untuk adegan lucu. Tak jarang ia pun pura-pura meratap dan menjadi kalah ketika musuh dalam ceritanya merasa yakin akan keluar sebagai pemenang. Sekali lagi demi keutuhan cerita. Namun sebenarnya ia sudah menciptakan sebuah akhir cerita sesuai yang diinginkannya.

Apakah kemudian dengan begitu seorang penulis juga adalah seorang psikopat?

Sekali lagi jawabannya tergantung pada kemampuan dia untuk memilah dunia imajinasi dan dunia realitanya. Kalaupun ia kadang-kadang ingin bermain-main, ia tahu kapan ia harus menggabungkan kedua hal itu.

Seperti ketika seorang penulis dikatakan autis atau selfish, sebenarnya itu hanyalah permainan dua dimensi mereka. Penulis sangat tahu kata maupun kalimat yang harus disusun dan diucapkannya. Ia pun tahu timing yang tepat untuk berucap. Buat apa berucap tatkala ia tahu kata atau kalimat itu akan menganggu alur cerita yang sudah dibangunnya? Buat apa pula menegaskan keterkaitan dirinya sebagai tokoh utama dengan tokoh atau figuran dalam cerita ketika dirasanya tak perlu?

Adakah seorang penulis adalah pribadi yang aneh?

Ada apa dengan kata aneh? Salahkah menjadi aneh? Bukankah semakin aneh seorang penulis maka penulis itu barangkali memang punya paradigma yang lain daripada yang lain dibandingkan dengan orang kebanyakan? Dan bukankah seorang penulis diharuskan lebih menguasai cerita dan alurnya sendiri daripada para penikmat karyanya? Ingat penulis adalah Tuhan dalam dunia yang diciptakannya.

Apakah dengan menjadi Tuhan dan pribadi yang aneh seorang penulis layak merasa eksklusif? Tentu saja layak. Namun begitu, penulis pun juga sadar bahwa aktor atau aktris bahkan figuran sekalipun tetap boleh merasa layak untuk menjadi eksklusif. Kenapa begitu? karena penulis sangat sadar segala detil dari segi apapun merupakan sesuatu yang istimewa untuk menjadi pendukung ceritanya. Begitulah ia menghargai segala hal. Walaupun terkadang ia pun tak segan-segan membunuh karakter dalam ceritanya (sekali lagi) demi keutuhan cerita itu sendiri.

Penulis tetaplah penulis. Ia akan menuliskan apa yang dipotretnya dari realita hidupnya.  Mengusik hidupnya tak akan membuatnya gerah, karena ia tetap akan membuat cerita dan jalan hidupnya sendiri.


One thought on “Being a writer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s