12 MEGAPIXEL [3]

Kalau aku tidak bisa menghindar dari perasaanku sendiri, bagaimana aku bisa menghindar dari tanyamu? 

Aku tersenyum kaku masih sambil memandangi foto-foto pre-wedding kami. Hanya saja aku merasakan tatapan tajam calon suamiku yang masih terus memenjarakanku dalam ruang sesak dan panas. Aku menatap balas tatapannya dengan tatapanku yang tak kalah tajam. 

“Kamu sendiri sayang, apakah kamu masih mau menikahiku?” tanyaku tegas namun datar. Sejenak kami bertatapan dalam diam. Kemudian aku memilih beranjak dari tempat duduk sambil menyambar tasku.

Tak disangka ia meraih tanganku dan menahanku. “Tentu saja. Takkan kubiarkan laki-laki itu atau siapapun merenggutmu dariku.” 

“Mmmhh…baiklah. Cukup meyakinkanku. See u tomorrow di lokasi pemotretan kita selanjutnya, sayang.” Kataku pura-pura santai dan percaya diri walau aku sedang menahan tangis. 

Keesokan harinya. Kali ini aku menuju lokasi pemotretan dengan mobilku sendiri dan sendirian karena aku dan calon suamiku hari ini sangat sibuk dan mau tak mau bawa mobil sendiri-sendiri. Lokasi pemotretan kali ini bertempat di sebuah kamar apartemen yang minimalis dan luas. Tepatnya calon kamar yang akan kutempati bersama calon suamiku setelah kami menikah nanti. 

Tak disangka, aku datang bersamaan dengan fotografer kami. Yup betul. Fotografer mantan cintaku. Tanpa basa-basi kami bertukar senyum dan segera masuk ke kamar. Sang fotografer melihat berkeliling. Sedangkan aku memberinya isyarat untuk mengikuti tour singkatku untuknya dalam apartemen ini.

Aku menjelaskan tiap bagian ruangan dan ia mengangguk-angguk mengerti. Kini seluruh lantai pertama sudah kami jelajahi. Calon suamiku tak kunjung muncul jua. “Lantai 2, miss?” tanyanya dengan sorot mata yang sangat ramah dan lembut. 

Ah, miss… Begitulah ia dulu selalu memanggilku. Aku mengulum senyum mengerti. “Lantai 2 seluruhnya adalah kamar utama.” Jawabku masih dengan mengulum senyum, yang makin mempertegas lesung pipit di pipiku.

“Hemm, calon kamar pengantin. May I see it?” katanya lugas dan profesional.

Aku mengangguk perlahan namun pasti. Kami menuju lantai 2 yang notabene kamar utama. Aku membuka pintu dan terhamparlah kamar yang minimalis namun seksi. Kamar tidur besar bersebelahan persis dengan walking closet dan berbatasan dengan bathtub yang hanya dipisah dengan kaca bening, lalu di sebelahnya terdapat toilet kecil tersembunyi. Selebihnya terhampar sofa dan ruang tersisa yang masih kosong menghampar hingga jendela dan pintu balkon. 

Aku berkeliling ruangan dan ia memotret setiap gerak dan senyumku. “Kayaknya budget foto pre-wedding gw bakal kena charge tambahan nih.” Kataku riang. 

Fotografer itu hanya tersenyum dan terus memotretku. “Kamu selalu menginginkan apartemen seperti ini dari dulu. Kamu bilang kamu butuh kamar utama yang tiap sudutnya bisa menjadi tempat bercinta yang romantis.” Katanya mesra. 

Aku terus tersenyum dan bahagia sambil masih terus berkeliling dan berpose semauku.

Saat aku duduk di pinggiran jendela yang lebar. Fotografer itu meneruskan kata-katanya. “Kamu juga selalu mau pinggiran jendela yang lebar supaya kamu bisa melihat bintang kesukaanmu sambil berkeliling dunia dalam lamunanmu. Sebuah perjalanan sebelum kamu menikah.” 

Tawaku berhenti seketika. Wajahku menegang. Tak ada seorang pun yang benar-benar mampu memotretku seperti dia. [To be continued] 

12 MEGAPIXEL [4] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s