DIALOG DINI HARI [3]

Entah suamiku benar-benar takut kehilanganku atau barangkali memang dia sudah tidak mencintaiku lagi dan merasa butuh mempertahankan status menikah di KTP, namun, ia memilih untuk memanjakanku disaat aku mulai makin jengah dengan sikapnya itu. 

Aku selalu menginginkan anak anjing untuk dapat kupelihara di rumah kami yang luas tapi sepi, atau lebih tepatnya hampa. 2 tahun kami menikah dan aku masih saja menolak untuk memberi suamiku seorang anak. Dengan anak anjing itu aku berharap aku tidak kesepian dikala suamiku sibuk atau pergi ke luar kota. Namun barangkali suamiku ingin aku merasakan kesepiannya tanpa anak, sehingga ia tak pernah mengabulkan permintaanku. 

Hingga kemarin. Suamiku datang dengan muka (sok) ceria dan memberiku seekor anak anjing yang kuinginkan. Bahkan pemberian ini adalah salah satu rentetan hadiah yang diberikannya padaku akhir-akhir ini. Apakah komunikasi verbal antara seorang suami isteri bisa tergantikan begitu saja dengan serentetan benda-benda yang menenggelamkan kata benda itu sendiri? 

Suamiku masih bergeming dan menatapku nanar. Aku menjauh dari pelukannya dan menatapnya pula. “Sayang, katakan apa yang ingin kamu katakan padaku.” Kataku tulus dan lembut. 

Suamiku beranjak kemudian duduk di tepi jendela sambil menghela napas panjang dan masih memandangiku. Namun kini sorot matanya tak selembut saat ia mencumbuku, tampak kemarahan dan luka terpancar di kedua matanya. 

“Kamu tahu aku selalu menginginkan seorang anak darimu. Tidakkah kamu ingin memberinya padaku?” tanyanya dengan nada ketus dan dingin. 

“Lalu kenapa kamu tidak pernah bertanya padaku alasan mengapa aku tidak pernah ingin memberikan anak padamu?” 

Mendadak suamiku menjadi gelisah. Bibirnya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Ia memalingkan muka dariku dan memilih menatap pemandangan di balik jendela. Sunyi membuat luka di hati kami masing-masing makin menganga.  

“Kita berbicara satu sama lain mengumbar kata-kata. Kata-kata hampa yang dituliskan oleh seorang pujangga tua yang dikejar tenggat waktu demi sesuap nasi. Ada hanya untuk sebuah keharusan. Kamu menggadaikan makna demi satu kebohongan dan kebohongan yang lain. Kamu lari, menghindar dan-“ 

“Diam!” Potong suamiku dengan keras.

Kembali sunyi merayap di relung hati kami masing-masing. Hingga kini suaranya yang memilih untuk memecah keheningan yang meriah dengan pilu. “Untuk apa aku harus bertanya padamu, jika aku sudah tahu jawabmu dan bahkan tidak menginginkan jawab itu?”  

Satu pertanyaan retorik yang menghunus tepat di jantungku.  Atau adakah tanya itu bukan sebuah pertanyaan retorik? [To be continued] 

DIALOG DINI HARI [4] >

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s