PEREMPUAN NINGRAT [2]

Harga diri manusia itu terletak pada tingkah laku dan ketegasannya dalam membawa diri. Perempuan harus tahu posisinya dan tidak menggunakan kewanitaannya untuk memanipulasi pria demi tujuan apapun.

Ajeng terbawa ke sebuah peristiwa yang masih kental tersimpan dalam memorinya. Peristiwa di sebuah kamar apartemen milik rekan kerjanya.

Malam itu Ajeng bertamu di apartemen milik rekan kerjanya, ketika kemudian rekan kerjanya itu mulai menggoda Ajeng untuk melakukan hubungan seksual. Ajeng saat itu berpikir bahwa ia bisa saja menerima ajakan rekannya tersebut, toh hal itu juga bisa menjadi bagian dari emansipasi wanita jaman sekarang dimana wanita melakukan hubungan seksual tidak lagi melulu sebagai pengabdian seorang isteri pada suami, tapi untuk kepuasan pribadi dan egonya.

Lalu kata-kata ayahandanya terngiang-ngiang di lubuk hatinya, membangunkan dan membawa Ajeng ke dalam realita.

“nduk, wanita itu harus bisa jaga diri, nggak cuma dari nafsu laki-laki, tapi juga dari nafsumu sendiri. Menjadi wanita sejati itu berarti melakukan sesuatu yang sejati tanpa alasan ini-itu yang disebut pembenaran diri sendiri.”

Ajeng seketika menolak ajakan rekannya dan pergi dari apartemen itu dengan rasa menang. Menang terhadap gairah dan ego dirinya sendiri.

Memori itu membuat Ajeng pun tidak ingin melihat atasan dan teman kerja wanitanya hanya dengan mata, namun juga dengan mata hati.

Ia merasa beruntung telah dijauhkan dari atasannya itu dan tidak pernah tergoda untuk kembali menjalin pertemanan dengan atasannya tersebut. Ya, Ajeng pernah sekali waktu mencoba berteman dengan atasannya itu dan mencari sisi baiknya. Namun sia-sia. Sia-sia untuk merubah seseorang, apalagi berteman dengan seseorang yang sudah terlanjur mempunyai prinsip dan etos kerja yang berbeda dengannya.

Perbedaan diantara Ajeng dan atasannya tidak mungkin dijembatani lagi, karena bukan Ajeng tidak bisa menerima perbedaan itu, namun Ajeng jengah menghadapi atasannya yang kalau diajak bicara berubah menjadi tembok, dan dikala diajak berdiskusi berubah menjadi srigala yang siap memakan ide dan solusi dari Ajeng.

Ajeng tersenyum dengan lega. Sekali lagi Ajeng lulus menjadi perempuan ningrat! Namun, apakah Ajeng bisa tetap bertahan ketika kini cinta-lah yang dihadapinya? Bagas Hendrakusuma, teman dekat yang selalu disayanginya, mempertanyakan gelar ningratnya! [To be continued]

PEREMPUAN NINGRAT [3] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s