PEREMPUAN NINGRAT [4]

Aku adalah aku. Wanita dengan impian, kebebasan, dan kehidupan penuh warna. Aku bukan milikmu, miliknya, atau milik siapapun.

 

Ajeng suka sekali melewatkan ritual-ritual sehari-harinya di kantor seperti makan siang dengan teman-teman, berdebat hingga egonya terpuaskan, dan browsing. Kadang-kadang having fun bersama teman-teman pun ia jabani walaupun lelahnya bekerja membuat badannya lemah lunglai.

 

Menikmati orang-orang yang datang dan pergi di kantornya pun menjadi sesuatu yang unik dan penuh kenangan buat Ajeng. Mereka semua mampu meninggalkan jejak yang indah dalam hati Ajeng.

 

Tiap weekend pun selalu Ajeng penuhi dengan acara shopping atau having fun dengan teman-temannya. Melihat berbagai barang cantik dan peristiwa-peristiwa menarik yang ada di sekelilingnya membuat dunia Ajeng makin terasa indah dan luas.

 

Pergi dengan teman kantor ataupun teman-temannya di luar kantor membuat pribadi Ajeng makin utuh. Semua orang yang ada disekelilingnya melengkapi dirinya.

 

Kadang tak selalu hari-harinya terasa ceria dan menyenangkan. Ada saatnya untuk menitikkan air mata, pun menjerit kesakitan. But once again, it completes her life.

 

Ajeng tak pernah pusing melakukan apa saja yang dia inginkan, karena ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk menggapai apapun yang ia impikan. Kebebasan pun ada di tangannya. Tak seorang pun ia ijinkan untuk mengikatnya.

 

Ia pun bebas untuk menorehkan segala warna dalam tiap langkah hidupnya. Dikala ia ingin menggila, ia coretkan saja warna-warna tegas seperti merah dan hitam dalam hidupnya. Saat ia ingin merasa tenang, warna biru menghiasi kanvas kehidupannya.

 

Satu hal yang Ajeng sangat nikmati sekarang ini adalah ia bebas menyukai bahkan mencintai siapapun, hingga saatnya nanti Ajeng menjatuhkan pilihannya.

 

Free…

 

So free…

 

Ajeng benar-benar menikmati hidupnya sebagai perempuan ningrat yang jomblo. Perempuan yang tidak malu dengan status jomblonya karena lebih memilih menunggu waktu dan orang yang tepat untuk mencinta.

 

Ia tidak malu mengakui bahwa ia bukan milik siapapun, karena itu adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak ingin belajar mencintai yang kadang merupakan bahasa lain dari pemaksaan perasaan. Suatu saat ia yakin, ia akan belajar mencintai dalam arti yang sebenarnya; belajar mempertahankan dan menjaga cinta yang memang ada dan tumbuh dalam hatinya kelak.

 

‘Perempuan ningrat itu walaupun lajang harus tetap menjaga harkat dan martabatnya. Jangan mau terlena dengan perasaan sesaat ataupun status semata’ kata Ayah Ajeng. [To be continued]

PEREMPUAN NINGRAT [5] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s