12 MEGAPIXEL [5]

Foto-foto kamu hanyalah sebuah kejadian yang direkayasa untuk menjadi lebih indah daripada realitanya. Kamu memang ahlinya untuk memotret sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Namun, semua itu tak lebih dari potongan peristiwa. Kamu sendiri tak mampu menciptakan realita berkesinambungan tentang kita.

 

 

Malam makin membuatku kalut. Kesibukan pernikahan kali ini tidak membuatku tidur pulas. Aku sadar aku harus segera meyakinkan diriku sendiri tentang cinta dalam hatiku dan pernikahan ini tentunya.

 

Saat orang tertidur, aku menyelinap pergi dan membawa mobilku membelah jalanan malam menuju ke kedai kopi kesayanganku. Di kedai kopi itu, aku menyesap cappucino favoritku dan merenung.

 

Di tempat ini pula, aku mempunyai banyak kenangan manis dengan fotografer mantan cintaku sekaligus kenangan sedih ketika kami mengakhiri kisah kami. Namun calon suamiku tak pernah tahu semua itu, ia hanya tahu bahwa kedai kopi ini adalah tempat favoritku. That’s it.

 

Tiba-tiba segelas frappucino mendarat di mejaku. Aku tahu dia akan datang malam ini tanpa kuundang sekalipun. Mantan cintaku segera duduk dan menaruh perlengkapan kameranya di meja. Tak ada senyum sedikit pun di wajahnya, hanya tatapan tajam mewakili sebentuk sapaan untukku.

 

“Udah lama aku nggak liat kamu disini.” Kataku sambil lalu.

 

“Aku travelling dan lagian aku bosan ngelihat kamu sama calon suami kamu sering minum disini.”

 

“Aku nggak mau ngejadiin tempat ini a monumental place buat kita berdua.”

 

“So, calon suami kamu cuma pengganti aku?”

 

Aku menatapnya tajam.

 

“Hahahaha… kamu beneran mencintai calon suamimu itu, ya?”

 

“Pertanyaan retorik yang nggak penting!”

 

“Hah! Pertanyaan retorik buatmu? Berarti kamu mencintai calon suamimu dong…”

 

Aku tersenyum mantap kali ini.

 

“Kamu mungkin orang yang pernah kuinginkan. Sementara calon suamiku adalah orang yang kubutuhkan. Tapi sekarang dia nggak hanya kubutuhin, tapi juga kuinginkan.” Kataku mantap.

 

“Apa yang dia berikan ke kamu, tapi aku nggak bisa memberikannya ke kamu?” tanyanya dengan suara tegang.

 

“Cinta yang realistis.” Jawabku singkat.

 

Aku dan dia saling bertatapan tajam, di saat itu terdengar suara yang begitu akrab ditelingaku.

 

“Honey, kamu ngapain disini?”

 

Aku menoleh dan melihat calon suamiku sedang berdiri mematung, di sebelahnya calon kakak iparku juga sedang memandang ke arahku dengan curiga. [To be continued]

12 MEGAPIXEL [6] >


3 thoughts on “12 MEGAPIXEL [5]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s