DIALOG DINI HARI [5]

Pengorbanan itu tak sebanding dengan keindahan dirimu yang selalu ingin kureguk tiap hari. Jangan pergi!

 

Suamiku pulang dengan wajah suram. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun, diam yang dihadirkannya seolah menjadi cover yang sempurna untuk egonya yang terurai berkeping-keping. Aku selalu tak mampu melihatnya hancur.

 

Seperti biasa, kudekati ia kemudian kuraih ia dengan peluk dan tatapan mengertiku. Hanya saja kali ini ia meronta dan berteriak lantang.

 

“Kamu nggak pernah tahu aku yang sebenarnya! Kamu selalu membuatku terlena, dan aku menikmati itu! Tapi kamu sudah membuatku makin melemah!”

 

Mataku nanar menatap suamiku. Aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku berharap tatapanku cukup menyuarakan pertanyaan kenapa dalam hatiku. Sesaat kemudian, seolah harapanku terkabul, ia menjawab. Kali ini dengan suara melembut.

 

“Sejak awal aku tahu, kamu adalah kamu. Kamu tidak pernah berubah. Kamu yang selalu kuat dan buatku selalu memujamu. Tapi aku tahu, aku bukanlah apa-apa untukmu. Aku hanya seseorang yang perlu kamu tolong, aku nggak berarti buatmu, iya kan, babe?”

 

Penjelasan dan pertanyaannya membuatku membeku. Aku tahu semua ini pada akhirnya akan terkuak. Hanya saja, aku tidak pernah berharap hal ini akan sampai di permukaan di saat aku ingin mengucap kata pisah padanya. Aku berharap nanti, nanti saja.

 

“Kenapa kamu diam, babe? Benar kan apa yang kubilang tadi?”

 

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan dan tersenyum satir. Mataku pun mulai meneteskan air mata. Entah air mata sedih atau air mata senang karena kebenaran telah terucapkan dengan telak.

 

“Apakah indahnya diriku juga cukup untuk dijadikan pembenaran atas perbuatan selingkuhmu selama ini?” aku balik bertanya dengan suara tenang namun gemetar.

 

Suamiku menatapku dengan sekilas. Kekagetan tak mampu ia sembunyikan lagi dari wajahnya. Yup, aku tahu ia tak mampu lagi melawanku, dan seperti biasa aku yang akan memberikan epilog. Epilog-epilog yang selama ini menjadi saksi bisu kelemahan suamiku.

 

“Dulu aku menikahi seseorang yang alive dan cair, seseorang yang tidak mengkotak-kotakkan seseorang menjadi sebuah keranjang berisi kelebihan dan kekurangan. Kini kamu tak lebih dari seorang hakim yang hanya mengenal hitam dan putih dengan absolut.”

Suamiku terdiam dan tertunduk. Kini saatnya aku pun mengatakan satu hal (lagi) yang sudah lama kupendam selama ini.

 

“Aku sudah kehilangan dirimu, jauh sebelum kamu sadar kamu telah kehilangan dirimu sendiri.”

 

Tiba-tiba aku merasa sesak dan hanya ingin melarikan diri. Tak peduli apakah perbincangan kami kali ini akan menjadi yang terakhir atau tidak. [To be continued]

DIALOG DINI HARI [6] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s