12 MEGAPIXEL [6]

Salahkah aku jika kamu tak mampu mencintai dan memilikiku?


Pagi terasa suram tepat disaat mentari bersinar cerah dan seluruh keluarga berkumpul dengan wajah berbinar-binar, siap menjelang hari pernikahanku beberapa minggu lagi.

Kejadian dini hari tadi menjadi rahasia antara aku, fotografer mantan cintaku, calon suamiku, dan calon kakak iparku.

Tidak ada diskusi, perdebatan, ataupun penjelasan. Diam adalah pertanyaan sekaligus jawaban yang tepat untuk saat ini. Tak peduli ada hati yang menyakiti atau disakiti.

“Si anak bungsu akhirnya mau menikah!” Teriak ibuku senang pada saudara-saudaranya. Lalu ibuku berpaling pada seorang wanita berwajah baik hati disampingnya, “Gak nyangka ya jeng, akhirnya kita besanan juga.”

Wanita itu adalah sahabat dekat ibuku. Wanita baik hati yang mampu membaca hati orang hanya dengan tatapan lembutnya. Kali ini aku memilih untuk menghindarinya.

Tapi calon suamiku tak melepasku sedikit pun dari sisinya. Walau aku melihat pedih di sinar matanya.

KLIK!

Ya, aku marah, sakit hati, dan merasa bersalah. Untuk apa dan siapa, aku tak tahu. Dan hanya fotografer mantan cintaku yang sekali lagi mampu membidik perasaanku yang sebenarnya melalui lensa kameranya.

Kali ini, ia berusaha untuk tidak banyak melepas kamera dari wajahnya. Ia tetap bekerja professional. Walau aku tahu, kali ini ia pun tak mampu lagi menutupi sejuta rasa yang terlukis di parasnya yang tampan itu. Seolah kamera adalah topeng sempurna.

Hari berlalu dengan permainan drama yang menuai tepuk tangan meriah dan aku pun semakin terjebak dalam ketakutanku menjelang malam.

“Please say something.” Harapku lemah saat menatap calon suamiku yang duduk di jendela dengan pandangan menerawang.

“Kata-kata apa yang kamu harapkan keluar dari mulutku?” Tanyanya datar.

“Penjelasan isi hatimu.” Jawabku nothing to lose.

Calon suamiku mendesah berat, lalu berpaling menatapku dengan tajam.

Aku menunduk.

“Apa yang membuatmu berani meminta hal itu padaku?” Tanyanya tegas.

Diam membekukan suaraku, namun membuat gema pertanyaannya tak berhenti cepat. Terus menggaung, merongrong hatiku.

“Cinta. Aku berani mencintai, maka aku tak segan untuk memberi, dan meminta.” Jawabku tak kalah tegas. Kali ini aku menatapnya.

Kami bertatapan beberapa saat. Tangannya kemudian membelai pipiku lembut.

“Apakah itu juga berarti kamu berani untuk terluka?” Tanyanya lagi.

Aku tak mampu lagi menahan air mata. Isak tangisku memburamkan ruang kata diantara kami. Ketidakberdayaanku mengukir kekecewaan yang teramat dalam di dirinya.

Ia beranjak perlahan, dan entah kekuatan dari mana, aku meraih tangannya. Langkahnya terhenti. Kami berpandangan lagi sesaat. Kali ini tatapan tanpa kata, tanpa maksud, dan tanpa perasaan. Lalu aku melepas tangannya perlahan dan menunduk, tak tahu akankah ia bergeming, atau tidak. [To be continued]

12 MEGAPIXEL [7] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s