DIALOG DINI HARI [6]

Tatap mata dan sentuhannya berbicara lebih. Suaranya terdengar jarang, namun mampu luluhkan hatiku. Adrenalin memuncak disaat kutahu ini adalah cinta terlarang.


Aku benci harus mengakui kenyataan yang selama ini kutakutkan akhirnya harus menjadi kenyataan. Aku membuka sebuah apartemen mewah di ibukota. Membuka pintu apartemen itu sendiri lalu menatap ke dalam apartemen yang kosong, sunyi, dan hampa itu. Tidak ada teriakan menyuarakan kerinduan ataupun lengan terbuka dan senyum merekah sebagai sambutan.

Aku tak mampu lagi menghitung hari dan aku tak peduli lagi akan waktu. Kulangkahkan kakiku menuju apartemen lamaku dan membanting pintunya keras-keras.

Saat matahari tenggelam, seseorang itu datang, mengetuk hidupku. Ia menawarkan kehangatan sekaligus tantangan maut. Ia pria beristri yang sangat percaya diri bahwa ia akan menjadi pemain sekaligus pemenang dalam permainan cinta. Sekarang ia menawarkan dadu untukku.

“Pernikahan hanyalah obat penenang untuk ketakutan manusia menjelang hari tua, sayang. Gak ada orang yang ingin sendirian menghitung keriput di wajahnya dan mengumpulkan kepingan untuk membeli peti matinya sendiri.”

Aku tersenyum dan memejamkan mata, sembari menikmati belaian tangannya di kepalaku.

“Lalu apakah arti perselingkuhan buatmu, Arjuna?” Tanyaku lembut.

Pria bernama Arjuna itu tergelak dan menjawab “Perselingkuhan adalah realita.”

Hahahahaha……

Derai tawa kami berdua lenyap ketika aku memutuskan untuk beranjak. “Aku membutuhkan obat penenangku sekarang.” Kataku tenang. Ia nanar menatapku. Aku tak peduli.

Aku menatapnya dengan senyum. Pria yang telah menikahiku 2 tahun yang lalu. Ia tampak terkesiap melihatku terbaring di bed kami. Lalu wajahnya membeku dingin, memilih menatap benda-benda di kamar daripada melihat wajahku.

“Mau sampai kapan kita begini?” tanyaku santai.

“Kupikir kamu udah gak peduli dengan kita.” Tandasnya dingin.

“Apartemen lamaku masih jadi tempat pelarianku. Tapi aku berniat menjualnya dalam waktu dekat ini.”

Suamiku kali ini menatapku kaget bercampur heran.

“Aku gak ingin lari lagi.” Jelasku singkat.

Suamiku terus menatapku seolah tak percaya. Raut wajahnya tak tertebak. Dan aku bosan dengan keadaan dan situasi membeku seperti ini.

“Kamu?” Tanyaku. [To be continued]

DIALOG DINI HARI [7] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s