12 MEGAPIXEL [7]

Aku mencintaimu…

Dia beranjak pergi. Memalingkan wajahnya dari wajahku. Raut wajahnya pun tak terbaca. Aku pun tak kuasa untuk menahannya.

Air mataku mengering seiring dengan malam yang semakin gelap. Sementara kantuk tak juga menyergap, membuat pedihnya hati ini makin meraja. Kalau kamu berpikir aku sedang menghadapi dilema antara mantan cintaku atau calon suamiku, kamu salah besar. Tapi bagaimana aku meyakinkan semua ini padanya?

Pagi menjelang. Kali ini hujan turun dengan deras, membuat suasana keruh semakin terasa keruh. Calon ibu mertuaku pagi-pagi menjemputku untuk mengambil foto pre-wedding di studio mantan cintaku. Aku merasa kejadian ini bukanlah suatu kebetulan.

Di dalam mobil yang bergerak lamban, ibu mertuaku tampak puas membaca raut wajah dan suasana hatiku yang aku tahu tak mungkin kututupi darinya.

“Kira-kira hasil foto pre-wed kalian bagus gak, nak?” tanyanya tegas tapi lembut.

“Bagus dong, ma. Moga-moga aja ntar mama suka.” Jawabku berusaha tenang.

“Ya semoga gitu. Lagian mama denger fotografernya kan temen kamu kan? Pasti dia bakalan bikin yang terbaik buat kamu kan?”

Pertanyaan retorikkah ini? Atau pertanyaan pancingan? Ah, semoga pertanyaan biasa yang retorik. Jadi, aku hanya tersenyum sekilas lalu berpura-pura serius memandangi jalan dan memegang erat setirku.

“Nak, ini bukan pertanyaan retorik.” Jelas calon mertuaku dengan tenang, namun tatapannya menghunjamku.

Aku gelagapan.

“Tapi juga bukan berarti kamu harus jawab. Mama gak maksa kamu jawab kok.” Katanya sambil tersenyum manis.

Aku tersenyum datar, mencoba tidak memikirkan apa-apa dan memilih tidak menjawab. Kesunyian mengisi perjalanan selama beberapa saat. Sampai akhirnya, aku tersenyum manis juga pada calon mertuaku.

“Mama akan dapat jawabannya sendiri nanti.” Kataku tenang.

Studio foto tempat mantan cintaku adalah gedung minimalis yang walaupun tidak besar tapi sangat artistik. Ruangannya pun selain didesain artistik, juga dibuat sedemikian rupa sehingga para pengunjung bisa mendapatkan cita rasa seni yang tinggi sekaligus homy.

Tapi saat ini, ruangan itu terasa dingin.

Mantan cintaku memperlihatkan hasil foto-foto pre-wed pada calon mertuaku dan aku dengan sangat profesional, yang makin membuat calon mertuaku curiga.

“Katanya temen lama, kok kalian saling jaga jarak sih?” tanya calon mertuaku sambil terus ngeliat foto-foto.

Aku dan fotografer mantan cintaku berpandangan sekilas. Terdiam.

“Foto-fotonya bagus nih. Coba anakku bisa motret kayak gini…” kata calon mertuaku. Dan kata-katanya menggantung. Ini bukan pernyataan asal omong. [To be continued]

12 MEGAPIXEL [8] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s