DIALOG DINI HARI [7]

Dia tampan dan manis. Wajahnya eksotis. Cowok banget. Tutur katanya lembut. Ia mampu membuaiku hingga langit ketujuh. Auranya seksi. Menggoda. Apalagi? Apalagi yang ingin kamu ketahui tentang dia?

Pertanyaanku kamu jawab dengan pertanyaan, ‘apa kelebihan dia yang pernah membuatmu jatuh hati padanya?’ Dan walaupun aku benci dengan pertanyaan itu, aku menjawabnya.

Tapi kamu seolah tak puas dengan jawabanku. Kamu resah dan takut dengan perasaanku. Seolah aku ini manusia yang tak punya prinsip dan asal –asalan dalam hal cinta.

Akhirnya aku memilih diam ketika aku tak mampu lagi membungkam gelisahmu. Sementara kamu masih berperang dengan rasa tak percayamu padaku.

“Ketika kamu tahu aku selingkuh, kenapa kamu selingkuh?” Tanyanya kalut. Seolah ia tak sadar ia baru saja mengakui rahasia yang selama ini dia simpan dariku.

Aku tersenyum, mengagumi diriku yang sekali lagi berhasil membuat hidup ini sesuai dengan skenario yang sudah aku ciptakan sebelumnya.

“Apa itu salah?” Tanyaku balik padanya.

Suamiku terdiam dan akhirnya menggeleng-geleng perlahan. Ia menunduk dan sangat bingung.

“Sayang, aku gak pernah selingkuh, kalo selingkuh itu berarti berpaling pada orang lain dan memberi hati pada orang itu.” Jawabku tenang.

“Tapi kebersamaan diantara kalian, apa itu bukan suatu perselingkuhan?” Ia makin kalut.

“Aku hanya bermain api. Tapi aku tahu kapan aku harus memadamkannya. Sementara kamu, kamu bermain air, dan memilih menceburkan diri sampai tenggelam. Tapi sudahlah, sayang. Aku gak mau kita saling menilai begini.”

Kamu marah dengan jawabanku. Kamu merasa aku mempermainkanmu. Sementara itu, aku merasa sangat lelah. Tahukah kamu, aku sekarang sangat kesakitan?

Sekali lagi, ia membuat ruang kata menjadi pengap sekaligus hambar. Ia membuang kata-kata dalam diam. Dan aku muak dengan situasi tak menentu dan stagnant ini.

“Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu dengannya?” Tandasku dingin.

Ia menatapku dengan berkaca-kaca, ‘Dia cantik. Pintar, walau tak sepintar dirimu. Raut wajahnya ada kemiripan dengan wajahmu. Ia tegar dan mandiri, persis seperti kamu. Seksi dan lembut, sama juga kan denganmu? Tapi dia mampu kutaklukkan, dan kamu tidak.’

Diam-diam aku tersenyum, karena aku tahu dia akan berkata seperti itu. Tanpa sepengetahuannya, aku sudah tahu siapa wanita itu. Dan tanpa melihat wanita itu pun, aku tahu dia akan mencari sebuah replika diriku, yang mampu ia taklukkan, persis seperti kata-katanya itu.

Suamiku nanar menatapku, mencoba membaca isi hatiku melalui raut wajahku, tapi sia-sia.

Aku memilih untuk menyiratkan kekosongan dan kehampaan, walau hatiku bergejolak ingin mengatakan segalanya dengan jujur dan meneriakkan perasaan dengan logika tumpul.

Bagiku penjelasan tak lagi penting kalau hanya mengaburkan maksud yang sesungguhnya. Jadi sekali lagi, aku bertanya, ‘Kapan?’ [To be continued]

DIALOG DINI HARI [8]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s