I give you my solely card

Naya dan Albert duduk di sebuah meja kecil. Suasana diantara mereka berdua tegang dan sunyi. Sementara orang-orang di sekeliling mereka riuh rendah karena permainan telah sampai di puncak sekaligus akhir. Satu kartu ditangan Naya, satu kartu ditangan Albert. Taruhan diantara orang-orang itu pun menambah permainan ini seolah milik publik.

Namun, buat Naya permainan ini adalah ujian keikhlasan. Buat Albert permainan ini benar-benar sebuah pertandingan dan kemenanganlah yang ingin dia raih. Dan permainan ini hanya milik mereka berdua.

Waktu berdetak, dan seolah Naya mengabaikannya, Naya tiba-tiba tersenyum dan meregangkan ototnya, walo tatapannya tetap tertuju pada Albert.

Naya : Menurutmu, kamu bakal menang atau kalah?

Albert : (tersenyum penuh percaya diri) Menang!

Pendukung Albert langsung bersorak kegirangan. Sementara pendukung Naya, tampak makin gelisah.

Naya : Kamu ingin menang atau kalah?

Albert : (tertawa terbahak-bahak) Menang dong!

Dan seolah alam semesta mengurung mereka berdua, mereka saling menatap makin tajam. Tak peduli sekitar mereka. Berhenti di satu titik. Berlari di hamparan nostalgi dan romantisme masa lalu. Mereka sadar mereka harus menghentikan permainan ini, sebelum semua orang kecewa dan memporak-porandakan keutuhan mereka.

Naya : Apa yang kamu inginkan dariku biar kamu bisa menang?

Albert : Kamu tahu apa yang kumau.

Naya : Aku akan memberimu kemenangan, asal kamu harus percaya padaku, menukar kartumu dengan kartuku.

Albert tercengang mendengar usul Naya. Naya mengangguk mantap, berusaha meyakinkan Albert.

Albert : Gimana aku bisa percaya sama kamu?

Naya tersenyum, mengacungkan kartunya yang masih tertutup tepat di wajah Albert. Albert tampak berpikir keras dan terus menatap Naya hingga akhirnya ia menemukan sesuatu di mata Naya, sesuatu yang membuat ia sadar alasan Naya rela terhanyut dalam permainannya selama ini. Dan, entah terdorong oleh hasrat kemenangan atau kebodohan, Albert menguarkan sebuah kata demi kemenangan yang selama ini ingin ia raih dari seorang Naya.

Albert : Setuju!

Dan bagaikan adegan yang diarahkan oleh seorang sutradara, orang-orang disekitar mereka berdua mendadak freeze. Sementara hanya Albert dan Naya yang mencair dan bergerak bebas. Albert dan Naya bertukaran kartu. Lalu keadaan berbalik normal.

Penonton : Buka! Buka! Buka!

Naya membuka kartunya dengan mantap. Albert mengikutinya. Semua orang ternganga. Albert menang! Albert berteriak kegirangan, para pendukungnya menyambutnya dengan sorakan pujian. Sementara Naya tersenyum sekilas pada Albert dan beranjak pergi dari tempat duduknya. Para pendukung Naya dengan lemas merogoh kocek mereka untuk membayar kekalahan mereka. Tiba-tiba sebuah teriakan menguar lantang.

Albert : Tunggu!

Naya berhenti dan menoleh.

Albert : Aku… Aku… (tergagap masai)

Naya : Gak usah merasa berhutang apa-apa. Aku suka kamu keluar sebagai pemenang. Dan thanx a lot kamu udah mempercayaiku.

Naya meneruskan langkahnya, meninggalkan senyuman manis untuk memori Albert. Kartu di tangan Albert perlahan jatuh seiring Albert yang jatuh terkulai. Hiruk pikuk orang-orang yang sibuk bertaruh mengabaikan Albert.

Albert tertunduk, ‘Kemenanganku harus kutebus dengan tiket perjalanan tak kembali untukmu. Tak akan ada lagi dirimu.’

The End.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s