I want to wake up with the sun

I want to sleep with you, but I want to wake up with him…

Saat malam menjelang, ada adrenalin memuncak di diriku. Suatu kepuasan dan tantangan membaur. Kepuasan bahwa aku akan menjadi ratu untuk sepotong malam yang cerah ini, dan tantangan untuk mengisi malam seindah mungkin.

Aku mencintai malam hingga terkadang melebihi diriku sendiri. Setiap detik yang bergulir di malam hari, kuhitung, kujaga, dan kutunggui seperti aku menunggu cinta sejatiku datang. Dengan rajin, kuikuti satu per satu cerita yang tersaji di televisi. Kadang aku sudah menyiapkan sebuah buku yang menarik dan sederetan lagu di I-pod untuk menemanimu. Tak lupa berbagai cemilan yang menarik selera aku dan kamu.

Kamu pun senang dengan kehadiranku. Kamu tak lagi disebut malam yang kesepian atau waktu tidur yang membosankan. Kamu menjadi malam yang dinamis dan hingar bingar karenaku.

Lalu ketika malam makin melarut, angin meniupkan udara dingin yang terlampau menggigit, dan sepi membumbung diantara kita, di saat itulah aku ingin melepasmu. Aku ingin pergi darimu. Sejenak, kataku padamu tegas. Tapi kamu pura-pura tak mendengarku.

Entah bagaimana, kamu berusaha mengikatku dengan berbagai hal agar aku tak beranjak darimu. Dan untuk hal yang satu itu, aku salut padamu. Kamu selalu berhasil membuatku berpikir ‘ah, malam masih panjang. Sebentar lagi…’ dan kemudian ribuan kali sebentar lagi.

Aku menikmati malam. Aku ingin melewati malam hinggaku tertidur. Tapi selalu kamu membangunkanku dan meyakinkanku untuk selalu terjaga.

Kadang aku frustasi, despresi, dan putus asa untuk menolak ajakanmu. Kamu pun tak mau tahu dan sangat menyadari kalau ajakanmu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Aku sedang gelisah, dan dengan aku tetap terjaga, kamu membuaiku dan memberitahuku agar aku terus berjaga karena esok akan segera tiba dan semua kegelisahanku akan lenyap, tanpa aku harus tertidur dan bermimpi buruk tentangnya.

Rasa kantuk dengan marah meninggalkanku dengan kekecewaaan yang meradang. Pikiranku pun makin kreatif menciptakan berbagai gaya ini itu untuk tetap terjaga. Kadang aku melihat cermin dan berbincang dengan diriku sendiri disana. Lalu aku membuka laptopku, membolak-balik site demi site. Dan kadang sebuah game menyempurnakan rencanamu untuk terus membuatku tetap disini. Di malam hari ini.

Lalu ketika malam menyusut pergi seperti seorang vampire yang beranjak dari korbannya dan pergi berselimutkan kegelapan, kamu tersenyum puas padaku. Kamu puas telah menahanku disini untukmu. Dan untuk pergi pun rasanya sudah terlambat untukku. Kantuk tak lagi mau menghampiriku. Dan kamu tak mau meninabobokanku. Kamu pergi begitu saja. Tertawa puas pada dirimu sendiri, namun sadis bagiku.

Aku menjelang pagi dengan sesal dan lelah. Matahari pun tak tersenyum ramah padaku, karena menatapnya pun aku tak sanggup. Hanya kegelapan menggelantung di pelupuk mataku. Lalu diam dan sepi. Kamu pergi. Dan dia marah padaku karena aku tak menyambutnya dengan senyum ceria, bahkan karena aku pun kemudian meninggalkannya dalam kelelahan yang teramat sangat.

Aku benci mengakui semua ini, tapi aku harus jujur bahwa kamu memang sangat menggiurkan di saat malam datang. Tapi tolong, biarkan aku pergi di saat malam melarut, karena di pagi hari aku ingin bersamanya.

Insomnia love story.

Menyakitkan. Menyesakkan.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s