RUMAH TANPA TAMU

Lengang. Sepi. Tanpa jejak.

Waktu itu aku sedang pergi denganmu, saat kita melewati sebuah rumah yang tampak sepi. Kita sempat mendengar dari salah seorang penjaga di depan rumah itu, kalau ada seseorang yang tinggal di rumah itu. Namun, aku dan kamu sama sekali gak melihat ada tanda-tanda kehidupan disana.

“Bapak itu padahal anaknya banyak lho, mbak! Lha wong isterinya aja tiga!” cerita si penjaga dengan intonasi gosip yang berapi-api.

“Terus isteri sama anak-anaknya kemana, mbak?” tanyaku pada si penjaga yang kalo ngeliat dari dandanannya dan tingkah lakunya pasti bakal bête kalo dipanggil mas, walopun bentuknya cowok abis.

“Isterinya ada yang udah koid tapi entah dimana, trus ada yang masih hidup tapi udah cerai dan kawin lagi, non. Nah kalo anak-anaknya, ya gitu deh.”

Kamu langsung mengernyit mendengar jawaban tak jelas itu, “Gitu deh itu gimana?”

Tapi sebelum kamu sempat menunggu jawaban dari penjaga restoran itu, si empunya mulut sudah ngacir karena ada tamu cowok yang ganteng datang tak jauh dari kami.

Kita berpandangan. Kamu masih dengan ekspresi bingung dan penuh tanya, sementara aku tersenyum.

“Orang tua mau dihormatin anak ato isterinya, kan tergantung kepribadiannya, babe.” Jelasku santai.

“Tapi orang tua juga bukan dewa kan say, yang selalu bener dan hebat. Masak kalo ortu punya salah, trus anak-anaknya boleh gak ngehormatin ortunya ?”

“Mungkin itulah kenapa ada peribahasa ‘kamu menuai apa yang kamu tabur’, babe.”

“Tuwir deh omongan kamu, say.”

“Tapi kamu cinta kan?” candaku senang.

Kamu lalu memelukku dan kita tertawa bersama.

“Babe, aku gak mau jadi tua dan sendiri kayak orang di rumah itu. Aku pengin punya banyak tamu dirumahku nanti.” Katanya merajuk manja.

“Ya makanya, sekarang kamu jangan berani-berani selingkuh, apalagi kawin siri yaa…” jawabku renyah.

Kamu mengangguk mantap dan tersenyum lebar. Dan kamu memelukku (lagi).

“Babe, kalo kamu kelak jadi ibu dari anak-anakku, aku yakin kamu bisa ngasih konsep hidup yang bener sama anak-anak kita nanti.”

Aku tersenyum tipis.

“Thanx God, bokap ngasih konsep hidup yang bener ke aku, babe. Cuman sayang, bokap gak ngasih konsep pernikahan ke aku.” Kataku lembut tapi serius.

Kali ini kamu melepas pelukanmu dariku sambil memandangku dengan tegang. Aku pura-pura tak menyadarinya, dan akhirnya memberi sejumput bunga jatah makam ayahku, untuk sebuah makam terbengkalai itu.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s