DIALOG DINI HARI [8]

Aku bukan pencinta komitmen, tapi aku tahu apa yang aku inginkan saat ini tentang kita.


Suamiku mendesah kuat dalam ketidakberdayaannya membaca pikiranku. Sementara aku sengaja menatapnya lekat-lekat, memberinya kesempatan untuk merasa yakin bahwa aku serius dengan perkataanku.

‘Kapan kamu mau mengakhiri perselingkuhanmu?’ Sekali lagi kuulang pertanyaanku.

Tiba-tiba kamu marah, matamu memerah, seringaimu memberangas, dan nafasmu tak beraturan dalam ritme cepat. Kamu mendekatiku dengan langkah goyah.

‘Kurang ajar! Kamu sudah mempermainkan aku! Kamu membolak-balik perasaanku! Melukai egoku!  Kamu kira aku sebodoh itu untuk bisa mempercayaimu lagi?’ tanyanya garang.

Aku sudah tahu dari dulu bahwa suamiku tidak pernah benar-benar siap berselingkuh. Ia selalu mencari kambing hitam dan cuci tangan setiap kali rahasianya nyaris terbongkar. Suamiku hanyalah laki-laki dengan kodrat dan sifat kelaki-lakiannya yang berada dalam garis sangat normal. Makhluk berego dan berhasrat besar. Lalu aku tertawa terbahak sendirian di ruang imajinasiku. Satu hal yang membedakan aku dengannya adalah aku wanita dengan perasaan sensitif.

Dan hidup berkutat dengan perasaan mengajarkanku untuk menata perasaan seperti meracik sushi. Semua harus dalam porsi kecil, detail rumit yang imut, dan sensasi rasa yang hanya boleh meledak sesaat. Dan sebaiknya disajikan dingin saja, karena sushi bukanlah dimsum dengan asap mengepul. Itulah mengapa aku tidak pernah menjadi korban dalam setiap cerita perselingkuhanku.

Lalu suamiku menghentakkan kaki, membuatku tersadar dan spontan menjawab pertanyaannya yang menjadi memori remeh berumur pendek dalam otakku.

‘Aku hanya mengutarakan fakta.’ Jawabku datar.

Suamiku mengatupkan rahangnya dan menggeretakkan giginya dengan keras. Suara dari mulutnya mampu mengeluarkan suara-suara tak jelas yang menyebalkan. Mungkin begitulah suara gertak sambal.

‘Kenapa kamu mau kembali padaku?’ Tanyanya lagi dengan kemarahan yang nyaris tak terbendung.

‘Dalam kisah Cinderella, tidak ada perselingkuhan ataupun perceraian. They just live happily ever after.’ Jawabku sedikit dengan tone komedi satir.

‘Kamu bukan Cinderella! Dan kisah kita bukan hanya dongeng pengantar tidur!’ Raungmu membahana.

Aku tersenyum manis pada suamiku. Suamiku mengernyitkan kening padaku, makin tak memahamiku.

‘Kalau memang kisah kita lebih nyata dan berharga, kenapa selama ini kamu tidak menjaganya?’ Tanyaku menjawab protesmu.

Lalu matamu berkaca-kaca. Ingin sekali aku bertanya alasanmu sebenarnya hingga kali ini kamu rela meneteskan air matamu di hadapanku. Namun, aku sudah terlalu jengah bermain seribu satu tebak-tebakan denganmu.[To be continued]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s