12 MEGAPIXEL [8]

Kesepian ini terlalu gaduh, membuatku tak tenang. Sakit ini tak lagi menyiksa, tapi menetap. Kejujuran ini terucapkan, namun hanya suara trompet kematian yang menyambutnya.


Harus kuacungkan jempol pada calon mertuaku atas sindiran-sindirannya yang sangat mengena, tatap tajam matanya yang menyelidik sekaligus kebijaksanaannya untuk tidak melemparkan pertanyaan to the point padaku.

Acara mengambil foto hasil pre-wed pun berjalan lancar, kalau kepalsuan bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk kesopanan yang sempurna. Lalu saat aku, calon mertuaku dan mantan cintaku keluar dari studio, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang tak kukenali berhenti di lobi tepat di depan kami.

“Nak, mama dijemput temen, tadi lupa bilang sama kamu. Mobil mama kamu pake aja dulu. Gapapa kan, nak?” Tanya calon mertuaku dengan suara penuh penekanan dan senyum maut.

Oh gosh, rencana apa lagi ini? Erangku dalam hati.

Aku mengangguk dan menjawab dengan basa-basi sampai calon mertuaku masuk ke dalam mobil temannya dan berlalu pergi. Lalu aku menoleh pada mantan cintaku yang sudah menatapku lekat-lekat sambil tersenyum manis. Memuakkan.

“Aku perlu bicara sebentar, boleh?” Tanyaku dingin padanya.

“Tanpa kamu ngomong, aku tahu ada yang mengganjal dihatimu, miss.” Jawabnya sok tahu.

Ruang kerja mantan cintaku dipenuhi dengan foto-foto pasangan bermuka bahagia hasil jepretannya, menambah nuansa tegang dan ironis pada suasana hatiku yang keruh menjelang hari pernikahanku. Sementara mantan cintaku duduk manis di depanku.

“Aku gak liat foto kamu dengan wanita itu.” Aku melancarkan sebuah prolog.

“Foto pribadiku bukan untuk konsumsi publik atau materi promosi kepiawaianku.” Jawabnya cool.

What about your children?” Tanyaku ringan.

Mantan cintaku lalu tertawa terbahak-bahak, sementara aku mendadak tersihir jadi patung, tak berekspresi dan membatu, sama sekali gak tertarik dengan pancingan sense of humor-nya yang dibuat-buat.

“Aku menikah dan kami masih bersama sampai saat ini, kalau memang itu jawaban yang sebenarnya kamu cari, miss.” Lanjutnya (sok) tenang.

Kali ini aku yang tertawa terkekeh. Ia mengernyit.

“Senang bisa melihatmu salah membacaku.” Jelasku dengan tenang masih sambil tertawa.

Tiba-tiba kamu menjadi marah dan bingung, walau kamu berusaha menyembunyikannya dariku.

“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.” Lanjutku dengan suara renyah dan hangat sebagai tanda euphoria-ku membuka kartu truf-mu.

“Dia jawaban pencarianku selama ini.” Jawabmu seketika dengan tone defensif.

Aku tersenyum, “Lalu kenapa kamu menciptakan permainan picisan ini?”

Mantan cintaku hanya tersenyum kaget penuh sangkal dan mengangkat bahu.

Aku masih tersenyum dan lanjutku, “Fotografer sekelas kamu gak semestinya jadi bagian dari paket hemat acara pernikahan. Dari job ini, aku yakin kamu hanya ingin mendapatkan momen untuk menuang sirup merah di segelas air putih. Mengaduk-aduk hidupku dengan brutal, sementara istri dan anakmu menunggu dengan was-was. Apa? Apa yang kamu cari?”

Mantan cintaku terperangah mendengar ulasan dariku, lalu terdiam menunduk. Sementara aku beranjak berdiri untuk bersiap pergi.

“Tolong hargai rasa sakitku di masa lalu sebagai bentuk keinginanku melihatmu bahagia bersamanya, sekaligus akhir dari permainanmu ini.” Aku memberi epilog dan berbalik pergi.

“Aku tidak pernah siap dengan pilihan ‘take it or leave it’ darimu, miss.” Jawabmu buru-buru, berharap dengan begitu kamu bisa mengubah pemikiranku.

Aku menghentikan langkah dan berpaling kearah mantan cintaku, kali ini aku membalas tatapannya, bukan dengan binar-binar cinta, tapi tatap hangat sebentuk persahabatan.

“Berhentilah mencariku dan kamu akan akan tahu apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu.”

Aku memalingkan muka tepat disaat kamu hanya bisa terdiam dan matamu mulai berkaca-kaca. Lalu aku berlalu pergi, dan kali ini langkahku kembali terasa ringan. Dan dengan sebal harus kuakui kalau calon mertuaku memang ahli berstrategi.

Tiba-tiba terdengar ring tone hpku disusul suara omelan ibuku yang panik.

‘Kamu dimana? Aduh ibu bingung nih! Masmu, calon suamimu itu, masak menahan semua proses persiapan pernikahan, tapi calon mertuamu bilang pernikahan terus berjalan! Yang mana sih yang bener? Kalau ada apa-apa, bilang dong sama ibu, masak ibu jadi orang terakhir yang tahu, gimana sih kamu ini? Bla bla bla…’

Omelan ibuku mulai terdengar sayup-sayup, karena selanjutnya yang kutahu hanyalah jantungku berhenti berdetak seiring derap langkahku yang melaju kencang. [To be continued]

12 MEGAPIXEL [9] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s