PEREMPUAN NINGRAT [5]

Seorang penulis menggambarkan aku sebagai perempuan ningrat sempurna di sebuah cerber. Tapi aku hanyalah seorang wanita yang ingin melepas gelar keningratanku.


Aku punya gelar ningrat dari garis keturunan ayahku, tapi aku tidak memiliki mahkota ataupun kerajaan. Aku juga seorang wanita mandiri sekaligus wanita cengeng yang patah hati dengan sahabatku sendiri, Bagas Hendrakusuma. Dan aku tidak sesuci yang orang pikir.

Rakata Ziyu, begitulah aku mengenalnya. Seorang laki-laki matang yang menjabat sebagai Presiden Direktur di sebuah perusahaan media sekaligus penulis picisan di blognya sendiri. Banyak wanita mengelilinginya, tapi Rakata Ziyu belum mau memilih salah satu dari mereka untuk selamanya. ’Kalau bisa banyak, kenapa harus satu?’ begitu katanya padaku.

Aku adalah salah satu dari wanita yang ada dalam hidupnya. Hanya saja, aku satu-satunya wanita yang hidup satu atap dengannya. Kumpul kebo. Tidak ada keluarga ataupun teman-temanku yang mengetahui hal ini. Dan aku nyaman dengan hal ini.

Tiap malam sebelum kami tidur, Rakata Ziyu selalu memberiku sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang kadang tidak membutuhkan jawaban, dan kadang sangat menuntut lebih dari sebuah jawaban verbal.

“Kenapa kamu gak pernah mau mencantumkan gelar ningratmu di namamu?” tanyanya datar.

Aku tersenyum dan menatapnya.

“Buat apa? Gelar itu gak bikin kamu jadi milikku kan?” Jawabku santai.

Di suatu malam yang lain, Rakata Ziyu tampak murung dan sangat pendiam, tapi ia gak lupa memberiku sebuah pertanyaan.

“Apa yang bisa kamu berikan ke aku kalau aku kedinginan dan kesepian?” tanyanya sedih.

“I’m here.” Jawabku. Lalu aku memeluknya. Pelukan yang hangat adalah jawaban yang lebih tepat untuknya.

Rakata Ziyu membutuhkanku seperti ia menghirup oksigen. Tak heran dia selalu menggambarkan aku sebagai tokoh wanita paling hebat di tulisan-tulisannya. Sementara aku menganggapnya sebagai dementor, ia menyedot kehidupan dariku. Entah kenapa aku menyukai caranya mengambil alih hidupku.

Keliling dunia, membicarakan hal gak penting, menghabiskan waktu yang menjemukan, menunggu keputusan yang besar, hingga memaksaku untuk melihatnya duduk bersama wanita-wanita yang menempel padanya.

Hingga suatu hari, di sebuah klub malam termewah di ibukota, saat aku menemani Rakata Ziyu bersosialisasi dengan para wanita kelas jet set, aku bertemu dengan Raden Mas Suryo, kakak tertua dari garis saudara ayahku. Ia menatapku curiga.

“Jeng, kamu kok disini? Kamu sama siapa?” Tanyanya penuh selidik.

“Lhah pakde sendiri ngapain disini? Mana Bude?” Jawabku sendiri sambil menahan senyum. [To be continued]

PEREMPUAN NINGRAT [6] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s