12 MEGAPIXEL [9]

You’re just too good to be true.

Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku yakin aku harus menahannya untuk tak pergi dariku. Dan disinilah aku menatap nanar calon suamiku yang tampak sedang berkemas-kemas di apartemenku, yang selama ini sering kami tinggali bersama.

‘Jangan pergi’ Kataku singkat.

Calon suamiku tidak menjawab dan malah mempercepat acara packingnya. Akhirnya kudekati dan kupegang kedua tangannya hingga berhenti bergerak. Kucari tatap matanya, walo berulangkali ia berusaha menghindar, akhirnya kami pun bisa saling berpandangan. Hanya sedetik, namun cukup membuatku mengerti kalau ada luka teramat dalam disana.

Please, beri aku penjelasan tentang semua ini.’ Pintaku lirih namun memaksa.

Lalu sambil menepiskan tanganku, dengan suara tegas yang rapuh calon suamiku menjawab ‘Aku hanya berpikir kamu butuh lebih banyak waktu untuk berpikir lagi tentang kita dan pernikahan kita.’

Mataku terasa panas. Jawaban darinya terasa sangat datar, tapi tak ubahnya sebuah tuduhan yang menusuk.

‘Aku enggak minta apa-apa darimu, termasuk waktu untuk berpikir. Aku cuma mau kita melanjutkan pernikahan kita. Dan dari awal aku enggak pernah ragu.’ Kataku meradang.

‘Kalau gitu, aku yang butuh waktu berpikir.’ Sahutnya ketus.

Air mataku menetes, jawabannya terlalu cepat dan menyakitkan. Seolah dia ingin pergi dariku cepat-cepat. Aku terisak. Sakit. Sakit sekali.

Perlahan ia menoleh, sekilas aku yakin matanya juga berkaca-kaca namun pedih sirna dari matanya berganti dengan tatapan yang selama ini selalu kurindukan, lalu ia mendekatiku dan memelukku. Pelukannya masih terasa hangat dan mampu membuatku merasa sangat nyaman hingga air mataku tak lagi mengalir.

Rasanya aku ingin menghentikan waktu, dan kita bisa mematung dititik ini selamanya. Memori yang manis pun seolah berlomba-lomba untuk makin menghanyutkanku dalam keindahan ini. Aku masih ingat bagaimana dia suka memberantakkan rambutku dengan lembut, merangkulku semalaman, dan membuatku merasa jadi miliknya seorang dengan tak sedikitpun membiarkanku berpaling darinya. Dan aku berharap kali ini ia pun akan melakukan hal yang sama.

Hanya saja, seperti kaca jendela yang tiba-tiba pecah diterjang sebuah bola tak dikenal, ruang antara aku dan dia hancur begitu saja oleh suara bel yang ditekan berulang-ulang. Kami saling melepaskan pelukan perlahan dan menatap ke pintu.

Please, biarin aja. Mungkin cleaning service.’ Kataku.

Cleaning service enggak mungkin sekasar itu, sayang.’ Jawabnya cukup tegang.

Lalu calon suamiku segera beranjak menuju pintu, aku hanya mengikutinya, dan entah kenapa kedamaian yang tadi sempat terasa, mendadak menguap.

BRAAK!

Begitu suamiku membuka pintu, seseorang dari arah luar langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar-lebar. Disana, di pintu itu, wanita itu berdiri dengan muka penuh amarah. Wajah yang sama yang dulu juga pernah membuatku sangat marah dan sakit hati. Istri sang fotografer, mantan cintaku.

Tanpa kata-kata sopan, wanita itu langsung to the point. Sangat straight forward.

‘Kalau mau ambil suami saya, ambil aja, mbak! Saya juga lama-lama gak tahan hidup dalam bayang-bayang mbak! Dulu dia bilang mbak cuman sahabatnya, tapi kenyataannya, dia selalu membicarakan mbak, dia selalu mengikutsertakan mbak dalam rumah tangga kami! Saya capek, mbak! Saya ingin dicintai sebagai diri saya sendiri!!’

Aku terperangah kaget. Sementara calon suamiku yang juga sempat kaget langsung menatapku kembali dengan tatapan terlukanya. Aku tak tahan melihat tatapan itu, tapi tolong, jangan berpaling dariku. [To be continued]

12 MEGAPIXEL [10] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s