12 MEGAPIXEL [10]

Rasaku padanya sekarang ini cuman salah satu bentuk dari varian pengalaman perasaan terhadap masa lalu.Tidak perlu dianalisa lebih jauh.

Di titik ini, akhirnya hantu bertemu dengan alien. Istri mantan cintaku menyebutku hantu di sepanjang hidup pernikahannya. Sementara dulu ketika mereka menikah, aku menyebut istrinya itu alien, karena ia mendadak datang dan menculik cintaku.

Istri mantan cintaku itu menatapku takjub, dan aku tidak tahu kenapa. Sementara aku masih sering nanar dan tetap menganggapnya alien, karena sekali lagi dia menyeruak hadir dengan tiba-tiba di dalam hidupku.

Sementara calon suamiku mendadak bertindak sebagai wasit.

‘Tenang, semua tenang ya.’ Katanya lirih namun tegas.

Aku tahu dia juga berkata seperti itu untuk dirinya sendiri. Lalu ia menoleh kearahku dengan tatapan bingung sekaligus berusaha memberitahuku bahwa ia mengerti semua kebingungan ini. Dan walau aku tak mau sendirian menghadapi penculik cinta di masa laluku, tapi aku tahu aku harus melepaskannya.

‘Pergilah. Kamu benar, kamu pasti perlu waktu untuk berpikir. Kalau kita berjodoh, kita akan tahu dan saling mencari.’ Kataku tegas sekaligus pedih.

Kemarahan di wajah istri mantan cintaku mendadak sirna mendengar perkataanku barusan. Sementara calon suamiku segera memelukku sesaat sebelum akhirnya ia berlalu pergi.

‘Silahkan duduk.’ Kataku tenang pada istri mantan cintaku.

Lalu kami duduk berhadapan. Diam membisu. Suara detik jam semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda suasana semakin larut dalam kebosanan dan keheningan yang terlalu menekan.

‘Saya… saya… ‘ Kata mulai meluncur dari mulutnya walau hadir dengan tergagap.

Lalu aku memberi senyuman manis padanya, berharap dengan begitu kata-kata yang mengalir darinya bisa mengalir lancar. And here you go.

‘Saya… pengin tahu bagaimana saya menurut mbak.’ Lanjutnya. Lalu ia tertunduk.

Sementara aku terperangah mendengar pertanyaannya.

‘Tolong jawab saya, ya mbak.’ Lanjutnya memohon.

‘Oh… baiklah. Saya akan coba menjawab.’ Kataku tegas menggantung.

Ia mendongak dan menatapku sungguh-sungguh.

‘Kamu adalah orang yang tepat untuknya. Bukan orang lain, bukan pula saya. Dulu saya pernah punya keinginan untuk sedetik saja bisa seperti kamu dengan begitu barangkali saya bisa sedetik juga memilikinya. Tapi saya bukan kamu, dan kamu bukan saya.’ Jelasku tenang.

Dia memandangku tak percaya.

‘Kenapa mbak ingin seperti saya? Toh suami saya selalu menginginkan saya menjadi seperti mbak!’ protesnya pilu.

Aku mendesah dan menggerutu dalam hati karena tiba-tiba masa lalu meminta penjelasan panjang lebar dariku.

‘Kamu mencintai dan memujanya. Saya tidak. Saya menyayanginya, tapi tidak lebih dari itu. Itulah kenapa dia lebih membutuhkan kamu, daripada saya.’ Jelasku makin singkat.

Sekali lagi, ia tampak tak percaya, dan makin terlihat luka di matanya yang bening.

‘Tapi dia mencintai dan memuja, mbak.’ Katanya lirih dan bergetar.

Kata-katanya menghujamku. Aku tidak bisa mendefinisikan perasaan yang tiba-tiba muncul di ruang benakku. Tapi aku tahu pasti bahwa aku harus mengakhiri pertemuan ini dan memberi jawaban pasti yang diharapkannya.

‘Sekarang apa yang mbak rasakan padanya?” tanyanya was-was.

‘Segala hal yang berkaitan dengan rasa yang pernah ada di masa lalu, pastilah akan mudah teraduk pun terurai. Tapi bukan berarti mudah untuk terjalin kembali. Dan dalam kisah ini, tidak mungkin lagi terulang dan terjahit kembali. Saya harap kamu juga mau menghargai perasaan saya. Dan kalau terjadi sesuatu dengan kalian, cobalah kalian menyelesaikannya sendiri. Barangkali saya hanya kambing hitam dari hubungan kamu dan dia. Maaf.’ Jelasku panjang lebar dan penuh emosi.

Aku tiba-tiba benci dan marah bukan karena cinta atau tetek bengeknya, tapi aku marah karena tiba-tiba ada yang merobohkan pintu salah satu bilik dalam hatiku. Hatiku yang dari dulu mengharap sebuah jawaban. Dan kini jawaban itu terucap dari seseorang yang pernah mencurinya dariku.

Aku berpaling menahan air mata. Istri mantan cintaku pun beringsut pergi, mungkin menahan air mata juga.

‘Maafkan saya.’ Itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia beranjak pergi.

Apakah dengan permintaan maafnya itu berarti dia akan ikhlas mengembalikan apa yang telah dicurinya dariku? [To be continued]

12  MEGAPIXEL [11] >


4 thoughts on “12 MEGAPIXEL [10]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s