12 MEGAPIXEL [12]

Kamu menjanjikan cinta abadi tanpa jaminan.

Langkahku terhenti ketika sosoknya tiba-tiba menghampiriku di teras rumahku yang berselimutkan awan gelap, namun riuh dengan suara guntur bersahutan. Aku pun memutuskan untuk menerimanya sebagai bagian dari penggenapan keputusanku.

Mantan cintaku masih dan makin menarik. Usia membuatnya makin matang. Kuakui dia memang sangat menarik untuk kaum hawa. Profesinya sebagai fotografer pun memperlengkap eksistensinya sebagai laki-laki yang patut diidolakan. Dan dulu, sekarang pun nyaris, aku menjadi salah satu korbannya.

“Ada apa?” Tanyaku singkat.

“Isteriku sudah menceritakan pertemuan singkat kalian. Sekarang aku mau menegaskan sesuatu padamu.” Jelasnya tajam.

Aku mengangguk sekilas, tak ingin berkata-kata.

“Aku mengharapkanmu hadir lagi dalam hidupku.” Lanjutnya.

“Kenapa baru sekarang?” Tanyaku cepat dan skeptis.

Ia menghembuskan nafas, seolah ada beban berat di benaknya. Sementara tiba-tiba aku merasa mual dengan semua ini. Pembicaraan tak tentu arah, yang hanya menyesatkan kami berdua dalam satu waktu, dan di waktu berikutnya membuat kami terbangun dengan linglung dalam realita.

“Aku tidak pernah ingin kamu pergi, tapi kamu memaksa dan menjauh dariku. Berulangkali aku berharap momen-momen yang aku perlihatkan di facebook akan kamu komentari, at least aku berharap ada setitik perhatian darimu, tapi tak satu huruf pun kamu torehkan disana.” Jelasnya panjang lebar dengan tone sedih bercampur putus asa.

Aku hanya tersenyum tipis. Dia tidak tahu betapa berat aku menahan diri untuk tidak menjadi bagian dalam hidupnya, sedikitpun. Dan aku membiarkan hal itu kusimpan sendiri, karena aku ingin semua usai, dan momen sekarang ini adalah bagian dari menjadi usai itu sendiri.

“Tidak adil kalau kamu mengungkapkan semua itu padaku di saat aku mau menikah. Dari dulu kamu egois.” Kataku datar menerjang.

“Bukan maksudku untuk menghalangimu dari pernikahan. Menikahlah. Aku hanya ingin kamu menjadi bagian dalam hidupku lagi.” Sergahnya cepat.

Aku mengernyit bingung. Sementara dia dengan perlahan meraih dan menggenggam tanganku erat. Aku semakin terombang-ambing dalam sejuta perasaan tak menentu.

“Apa yang kamu tawarkan untukku?” Tanyaku lugas.

Mantan cintaku tersenyum. Kalau aku tidak salah menilai, ia merona dan tampak tersipu seperti ABG yang berbunga-bunga. Sementara aku seperti tante-tante girang yang riang karena brondongnya mulai kena jerat. Huh.

Ia terdiam, lalu sesaat kemudian ia mendongak, kali ini dengan muka sendu.

“Perselingkuhan yang abadi.” Jawabnya tepat menghunjam.

Aku terpana selama beberapa saat. Kelugasan bentuk egoisme dirinya memang ciri khas utama mantan cintaku ini. Aku menarik tanganku perlahan dari genggamannya, ia tak menahan tanganku, namun menatapku tajam.

“Kamu datang dengan tiba-tiba dan memporak-pondakan persiapan pernikahanku, hanya untuk menawarkan cinta tak utuh?” Tanyaku heran.

Mantan cintaku mengangkat bahu. Kami pun terdiam selama beberapa saat. Lalu tiba-tiba ia mendekatiku dan meraih kedua bahuku serta menatapku dalam.

“Kamu satu-satunya orang yang selalu membuatku hidupku penuh tanya, membuat hidup itu sendiri terasa hidup seolah kisah bersambung yang selalu ingin kuikuti. Please.” Katanya tegas.

Aku luruh, merasakan hal yang sama dengan yang ia ucapkan barusan. Sekali lagi ia memotret perasaanku dengan tepat. Lalu aku pun membiarkan diriku terhanyut dalam dekapannya, dekapan yang sudah aku kubur sekian tahun lamanya. [To be continued]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s