Alice in Wonderland

Pemikiran ala anak-anak membuat hidup menjadi tanpa batas.

Directed by Tim Burton. Produced by Richard D. Zanuck, Joe Roth, Suzanne Todd, Jennifer Todd. Written by Linda Woolverton (screenplay), Lewis Carroll (book). Starring Mia Wasikowska, Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, Crispin Glover, Michael Sheen, Stephen Fry.

Kisah Alice in Wonderland tentunya familiar bagi kita semua. Film seri kartunnya cukup terkenal dan mengisi hampir tiap benak anak-anak dari generasi ke generasi.

Kisah tentang seorang gadis kecil bernama Alice yang dalam mimpinya pergi ke sebuah tempat yang unik dimana ia bisa mengecilkan dan membesarkan badannya, bertemu dengan kelinci pakai rompi, hewan-hewan yang berbicara, dan ratu-ratu kartu remi, serta berkeliling ria di sebuah labirin.

Namun, kali ini, sesuai dengan pengakuan Tim Burton sendiri sebagai directornya, film arahannya ini bukanlah bagian dari film seri atau sekuel dari film Alice in Wonderland yang pernah ada.

Bahkan ia berusaha ‘menangkap’ sosok Alice sendiri sebagai sosok seorang gadis muda yang memiliki konflik batin tersendiri serta emosi yang lebih menonjol dan kuat dibandingkan sosok Alice dalam film serial atau film sebelumnya.

Untuk keseluruhan ceritanya pun, Tim Burton juga berusaha untuk lebih menampilkan segi kekuatan emosi yang terjalin dengan apik, dibandingkan hanya sekedar gadis kecil yang bertemu dengan berbagai karakter tanpa emosi yang kuat seperti Alice yang selama ini ada.

That’s why, cerita Alice in Wonderland kali ini memang terasa sedikit berbeda. Tetap berkisah tentang gadis kecil di Wonderland, namun dibuka dengan konflik dimana Alice harus menikah dengan seseorang yang tak dicintainya. Lalu cerita bergulir dengan Alice yang terperosok ke sebuah lubang yang membawanya ke Underland yang notabene adalah Wonderland.

Di tempat itu, Alice tak hanya bertemu dengan karakter-karakter yang unik, namun ia mempunyai misi untuk menyelamatkan kehidupan di Wonderland dan menghancurkan Red Queen yang jahat.

Apakah Alice berhasil mewujudkan misinya? Tentu kalian sebagai pencinta film tahu bagaimana kira-kira ending film ini. Namun, lika-liku menuju endingnya-lah yang menarik untuk dinikmati dan ditonton. So, watch it by yourself, guys!

Bagi pecinta Johny Depp, tentu akting Johny Depp tetap okay. Hanya saja aktingnya di film ini terasa kurang variatif, karena mirip dengan aktingnya di film Edward Scissorhand yang disutradarai oleh Tim Burton juga.

Namun begitu, walau film ini menarik dan menghibur serta unik, sangat disayangkan ada beberapa hal dari kisah Alice in Wonderland yang tidak disajikan.

Alice in Wonderland selalu identik dengan labirin dan ada sesuatu dalam labirin itu yang membuat otak tergelitik untuk ingin tahu apa yang akan ditemukan Alice disana, dan bagaimana Alice keluar dari labirin itu. Di film ini, labirin hanya diperlihatkan sekilas, itupun hanya sebagai background lokasi saja.

Permainan kartu dari para ratu kartu dan kartu-kartu itu sendiri juga identik dengan Alice. Sosok Alice ditampilkan sebagai sosok gadis yang penuh ingin tahu namun cerdas. Namun di film ini, kartu hanya dijadikan sebagai penguat dan pelengkap dua karakter ratu dan masing-masing pasukan mereka.

Selain itu, pertanyaan-pertanyaan Alice yang polos namun menggelitik rasa ingin tahu dan juga merangsang imajinasi para penonton anak-anak juga tidak ada. Imajinasi benar-benar disuguhkan dengan matang oleh Tim Burton dalam wujud visualisasi yang utuh, tanpa disertai dialog-dialog yang cerdas.

Tapi tak mengapa, paling tidak ada dua kalimat yang menarik. Satu kalimat yang diucapkan oleh sang Ayah yang kira-kira said that, ‘Ya, kamu gila. Sinting. Tapi semua orang baik begitu.’ Dan kalimat, yang kira-kira intinya, ‘nothing is impossible beyond the imagination, and you can make it come true when you believe it.’

Tentang Tim Burton sendiri, sebagai director yang terkenal dengan keunikan ala dark, tentu saja ciri khas ini juga mewarnai Alice in Wonderland. Karakter-karakter disitu menjadi lebih unik, namun keceriaan Alice menjadi euphoria yang sangat dark. Barangkali ini bisa menjadi pertimbangan bagi para orang tua sebelum mengajak anak-anak menonton.

Atmosfer yang dark bukan berarti tidak menarik. Tapi untuk anak-anak kecil, bagaimanapun juga visual yang warna-warni akan lebih indah dan aman bila dibarengi dengan atmosfer yang cerah ceria.

Namun begitu, film ini walaupun tetap beratmosfer dark dan berciri khas Tim Burton, somehow film ini terasa sebagai saksi bisu Tim Burton yang tampaknya kali ini berkompromi dengan industri. Film ini terlalu terasa entertaining dan hollywood banget dibandingkan dengan karya-karya Tim Burton sebelumnya.

But eniwei, secara over all, film ini tetap apik dan layak ditonton.

Mari bernostalgia dengan sahabat kita Alice yang juga sudah beranjak dewasa!

Dan jangan lupa, tetaplah rajin memelihara imajinasi dalam pikiran kalian walaupun umur terus bertambah, karena dengan imajinasi hidup akan terasa lebih luas, indah, dan menyenangkan. Tapi jangan lupa, jangan terlena dengan imajinasi, and make it come true!

Selamat menonton!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s