No Men No Affair

‘Dunia laki-laki’ begitu mereka sering bilang untuk membenarkan hobi mereka bermain perempuan. Aku mungkin tidak punya sekaligus tidak memerlukan istilah seperti itu karena aku hanya seorang perempuan, tapi aku tak kalah liar dan dingin. Kata sahabatku tenang.


Di sebuah sudut cafe yang tenang, saat mentari baru saja bersinar di sebuah hari minggu, aku berbincang dengan sahabat perempuanku. Aku mengenalnya 10 tahun yang lalu. Namun, ia tetap cantik dan awet muda hingga sekarang. Tak banyak perubahan dalam pribadi sahabatku ini. Ia tetap gadis yang terbuka, smart, independent, sekaligus penuh misteri. Kisah cintanya pun tetap seperti dulu, selalu penuh liku dan sarat dengan nama lelaki.

“Terlalu banyak lelaki dalam hidupmu, tapi kamu masih saja punya waktu untuk menemuiku.” Kataku renyah mengawali perbincangan kami di pagi hari yang cerah itu.

Sahabatku tertawa dan menyesap kopi hitamnya. “Kamu tahu aku bukan penggila laki-laki. Mereka cuma salah satu sisi dalam kehidupanku. Enggak lebih. So, everything is still under control. “

Aku tersenyum dan menatapnya lekat-lekat, “Kamu enggak capek?”

“Capek apa? Buatku laki-laki cuman seperti job. Tidak perlu ada kesetiaan absolut dalam hubunganku dengan mereka. Semua hanya sekedar memenuhi kebutuhan dan keinginan serta pertimbangan untung rugi yang pas. And if there is a job, then so many other jobs that I should have at one time.” Jawabnya santai.

Aku kembali tersenyum sambil melempar pandanganku kearah luar jendela. Suasana pagi itu benar-benar terasa abnormal karena perbincangan kami ini.

“Jadi, kalau kamu punya satu cowok, itu malah membuatmu ingin punya cowok lain?” Tanyaku.

Yes. That’s right. Is there something wrong with that?” Sahabatku mengernyit.

Aku kembali menatapnya dan kali ini tanpa senyum di wajahku.

“Kenapa begitu?”

Sahabatku meletakkan cangkirnya dengan lugas.

“Aku tidak menyakiti siapapun kalau itu yang kamu maksud. Aku hanya pintar memainkan peran, toh semua pihak senang dengan semua itu tanpa mereka perlu tahu kebenaran di balik semua itu. Salahkah itu?”

Aku mengangkat bahu. “Bagaimana kalau mereka tahu?”

They won’t.” Jawab sahabatku singkat.

Mau tak mau aku tersenyum. Sahabatku ini benar-benar musang berbulu domba. Dia berhasil menciptakan image sejati tentang dirinya. Dia tidak pernah dugem, menyentuh obat atau minuman keras, bahkan rokok sekalipun. Kehidupan kariernya pun terus menanjak. Jarang terlihat pergi bersama laki-laki atau terdengar memiliki hubungan dekat. Pun terkenal berbakti pada keluarga. Sosok wanita lajang (sekaligus jalang) yang sempurna.

“Apa kamu tidak pernah jatuh cinta pada para laki-laki itu?” Tanyaku.

Sahabatku tertawa lagi, bahkan kali ini sampai terbatuk-batuk. Baru setelah ia menyesap kopinya beberapa kali, ia menjawab pertanyaanku.

“Aku sama sekali enggak pernah beli kucing dalam karung. Every men in my life, yes I’m falling in love with them all! Of course darling! Hanya saja, harus kuakui sejauh ini enggak ada yang bisa membuatku ingin mencintai mereka, though they love me very much.” Sahabatku tersenyum simpul dan nakal.

“Aku tidak habis pikir kenapa cowok-cowok itu mendadak buta saat bersamamu.” Kataku sambil lalu.

“Mereka enggak buta, darling. Hanya saja mereka lebih suka berpikir aku yang membutuhkan mereka. Then, I gave them what they need. And they gave me everthing that I need. That’s it.” Jawabnya sambil mengerdipkan satu matanya padaku.

Aku memilih melahap cheese muffinku daripada memikirkan jawaban sahabatku yang kontroversial dan tak pernah berubah dari tahun ke tahun ini. Aku pikir dengan bertambahnya usia, dia akan berubah.

What about you, darling? Still one man for one heart and one bed?” Tanyanya lembut namun menusuk tajam.

Aku tersedak hebat mendengar pertanyaannya. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan itu.

Why not?” jawabku singkat.

“Bagaimana kalau tiba-tiba kamu menemukan kekasihmu berselingkuh dan tak mencintaimu lagi?” Tanyanya lagi.

“Aku tidak pernah mencintainya seratus persen. No problem then.” Jawabku singkat sambil kembali melahap cheese muffinku.

Lalu kami pun berdua terbahak-bahak.

Women are born to be a whore, right?” Kataku di sela-sela tawa kami.

Sahabatku mengangguk-angguk dan terus tertawa.

Lalu kami pun saling bersulang dengan kedua cangkir kopi kami. Tak perlu segelas bir atau vodka, ataupun dandanan menor nan seksi yang menggugah hasrat kalau hanya untuk sekedar menunjukkan identitas kami yang asli. Semua natural. That’s us.

Perbincangan kami ini pun barangkali sudah kami ulang-ulang lebih dari seribu kali, tapi kami hanya ingin saling memastikan kalau kami masih dan memang tidak ingin berubah.

Anyway, mau sampai kapan kamu mencintai separuh hati seperti itu?” tanya sahabatku dengan senyum terkulum di mulutnya.

“Selama kekasihku mencintaiku seratus persen.” Jawabku singkat dan mantap.

That’s great, darling!” Sahabatku tersenyum lega melihatku.

What about you? When will you stop your game?” Tanyaku padanya.

No men no affair.” Jawab sahabatku singkat dengan tatapan tajam yang menggoda.

Aku pun mengangguk lega pada sahabatku.

Pagi pun berlalu. Kami berpelukan hangat lalu berpisah.  Aku keluar dari cafe menghampiri kekasihku yang selalu rajin menjemputku kemanapun aku pergi. Dan kulihat, sahabatku menyongsong pria setengah baya yang ganteng dengan sopan. Lalu mereka masuk ke dalam mobil mewah pria itu. I bet not only a french kiss in that car. The end.


2 thoughts on “No Men No Affair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s