PEREMPUAN NINGRAT [6]

Aku ditelanjangi dan dicaci maki karena telah menyimpan rahasia kehidupan pribadiku yang tak sengaja terlontar dalam ruang publik. Apakah darah biruku meluntur seiring air mataku?

Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Raden Mas Suryo yang adalah kakak tertua ayahku di klub malam yang mewah ini. Namun, beliau lebih tak menduga akan melihatku di tempat ini.

Belum sempat pakde Suryo menjawab pertanyaanku, tiba-tiba seorang wanita jet set, lengkap dengan perhiasan bertatahkan berlian dan kecantikan yang memukai, menghampiriku dengan tatap mata yang tajam menghunjam.

“Hai, Ajeng. I’m Nancy.” Katanya sambil melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Hai.” Jawabku singkat.

“Not too bad. Tapi saya masih gak bisa ngerti kenapa Rakata Ziyu memilih kamu jadi satu-satunya selir terhormat di rumahnya.” Kata Nancy tenang namun riuh.

Perkataan Nancy sebenarnya sudah sering kudengar mengingat banyak wanita yang menginginkan posisiku demi memiliki Rakata Ziyu siang dan malam pun tiap hari. Hanya saja, semua ini terasa pedas dan panas saat terucapkan di depan pakde Suryo.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba mulutku mengatup kuat tatkala hati ingin berteriak.

“Apa benar itu, jeng?” Tanya pakde Suryo datar namun menjengahkan.

Nancy membutuhkan pukulan telak tepat di saat pakde Suryo menuntut jawaban jujur. Akhirnya, aku angkat kepalaku dan mencoba tersenyum walau pilu.

“Mungkin saya wanita biasa. Tapi pastinya saya bukan orang sembarangan sehingga Rakata Ziyu memilih saya sebagai teman hidupnya.” Jawabku singkat, memukau di mata Nancy, tapi menyedihkan bagi pakde Suryo.

Nancy hanya tersenyum sinis lalu berlalu pergi. Sementara pakde Suryo langsung menarikku keluar dari klub mewah itu. Rakata Ziyu melihatku sekilas, kami bertatapan, namun Rakata Ziyu gagal mengejarku.

Pakde Suryo lebih tangkas dan sigap untuk memasukkanku ke dalam mobilnya, dan sopirnya pun segera melajukan mobil dengan cepat.

Hanya dalam hitungan jam aku sudah berada di ruang tengah rumah ayahku di Jogja. Ada ayah dan ibu yang sedang mencermati laporan pakde Suryo tentangku, dan aku yang tak mampu menangis ataupun marah dengan handphone yang berulang kali bergetar karena Rakata Ziyu terus menerus mencoba menghubungiku.

“Anakmu itu malam-malam masih berkeliaran di klub malam yang barusan aku beli! Udah gitu ternyata dia jadi gundiknya orang kaya di Jakarta! Apa aku enggak malu? Coba mau ditaruh dimana harkat dan martabatku?”

Ayah mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tenang namun ayah selalu memalingkan muka saat kami tak sengaja bertatapan. Sementara ibu melihatku dengan wajah khawatir.

“Dan parahnya lagi, anakmu itu bangga! Bangga jadi gundiknya orang! Kamu itu bagaimana sih mendidik anak kok jadinya seperti itu?” Kata pakde Suryo lantang dan lugas.

Begitulah pakde Suryo, pria ningrat berkedudukan tinggi yang selalu pintar menghakimi orang lain, sementara sudah menjadi rahasia umum kalau moral pakde Suryoku ini bejat. Rakata Ziyu jauh berbeda dengannya.

“Kok kamu malah diam saja?! Anakmu itu kamu suruh pulang dan hidup disini saja, terus kamu nikahkan saja dia! Daripada di rantau cuman bikin aib keluarga!” Tegas pakde Suryo.

Lalu ayah berdeham dan menatap tajam dan lekat kearah pakde Suryo.

“Kalau kamu tahu klub malam itu tempat yang enggak baik, kenapa kamu malah membeli klub malam itu?” Tanya ayahku penuh penekanan.

Pakde Suryo kaget karena tanggapan ayah tak sesuai dugaannya.

“Kamu enggak mau keponakan kamu ini tahu belangmu?” Tanya ayah lagi kali ini dengan garang.

“Lhoh kok jadi aku yang kamu serang? Kamu tadi nyimak yang aku bilang enggak to?” Sergah Pakde Suryo cepat-cepat.

Pakde Suryo dan ayah pun saling bertatapan marah. Ibu segera tersenyum khas ala priyayi darah biru dan berkata-kata dengan merdu seolah menembangkan sebuah lagu.

“Pakde Suryo, kami berterimakasih pakde sudah menjaga Ajeng. Selanjutnya biar kami saja yang mengurusnya. Bukan apa-apa, tapi kami tahu pakde Suryo pasti sibuk dengan bisnis klub malam pakde.”  Kata ibu lembut menusuk.

Pakde Suryo tampak makin berang. Namun senyuman ibu seolah menghipnotisnya, sehingga pakde Suryo pun tanpa bicara lagi segera angkat kaki.

Lalu ayah pun segera beranjak pergi menuju kamarnya tanpa melihat kearahku sedikitpun. Ibu menyusulnya, namun aku segera meraih tangan ibu. Ibu berhenti dan menoleh padaku. Air mukanya tak terbaca.

“Ibu, maafkan aku.” Kataku lirih.

“Kenapa ibu harus memaafkan kamu?” Tanya ibuku tegas namun sangat menyentuh hati.

Ibu menatapku dengan pandangan bertanya. Kami bertatapan lama. Air mataku pun meluruh. [To be continued]

PEREMPUAN NINGRAT [7] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s