PETAK UMPET [1]

Setiap kali aku bingung dan tak tentu arah, aku lebih suka bersembunyi. Aku juga suka saat kamu selalu mencariku. Tak perlu menang dan kalah dalam permainan itu, karena aku pun lebih suka saat kamu menemukanku.

Dari balik semak-semak aku bisa melihat raut wajahnya yang tampak tegang dan khawatir. Berulangkali ia lalu lalang di sekitarku, tapi dia tak kunjung melihatku.

Waktu kami masih kecil, aku selalu membiarkan Bubi mencariku sampai berjam-jam lamanya. Aku mungkin curang karena aku pun tak pernah mau menang dalam permainan itu dan merelakan diri untuk akhirnya sengaja membocorkan tempat sembunyiku entah dengan pura-pura berteriak kesakitan atau mematahkan ranting.

Tapi Bubi tak pernah keberatan. Bubi tampak selalu riang dan senang saat menemukanku. Dia akan memelukku erat-erat sambil berteriak kegirangan seolah aku harta karun. Esoknya dia pun akan mengajakku bermain lagi.

Hingga hari ini. Hanya satu hari sebelum kami menikah. Aku memilih bersembunyi. Menghilang dari riuh rendah persiapan pesta pernikahan kami.

Harusnya aku merasa bahagia. Bubi tumbuh menjadi seorang pria tampan dengan bisnis yang maju pesat. Tapi Bubi tak pernah berubah. Bubi selalu ceria, optimis dan sangat mampu membuat hidupku terasa lebih hidup dengan kelucuan dan kesederhanaannya. Karpet merah terbentang luas di hadapanku. Laki-laki hebat itu pun akan jadi milikku selamanya.

Namun, tiba-tiba perasaanku mengharu biru. Kali ini rasanya aku ingin bersembunyi selamanya, membiarkan Bubi lelah mencariku dan kemudian meninggalkanku saja.

Tak sadar aku terisak dan menggigil di balik semak. Lalu wajah itu muncul dihadapanku. Bubi.

Kali ini tak ada tawa riang atau sorak sorai saat Bubi menemukanku. Bubi pun segera memelukku erat-erat. Selama beberapa saat kami menikmati kesunyian yang bergemuruh.

Lalu pelan-pelan kulepaskan pelukan Bubi. Kami bertatapan. Mataku basah namun matanya yang kering tampak terlihat lebih sedih.

“Bubi, aku enggak pengin kamu nemuin aku. Tadi aku gak sadar kalau nangis-“ Cerocosku lugu tanpa simpati.

“Ssstt… Kamu gak usah jelasin, aku tahu.” Potong Bubi tegas namun menenangkan.

Lalu Bubi menarikku dan membawaku ke sebuah bangku di taman. Selama beberapa saat Bubi menungguku sampai air mataku mengering.

“Filo, kamu kenapa?” Tanya Bubi lembut.

Aku menatap mata Bubi lekat-lekat. Bubi memberiku tatapan meneduhkan dengan bola matanya yang biru jernih.

“Bubi, kalau aku ternyata enggak bisa jadi seseorang yang kamu harapkan di kehidupan pernikahan kita nanti gimana?” Tanyaku lugas dengan ragu mendera.

Bubi mengusap pipiku dan tersenyum.

“Aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu. Kamu berada di sisiku itu sudah lebih dari cukup buatku, Filo.” Jawab Bubi tenang.

“Bubi, selama ini tiap kali aku bersembunyi, kamu selalu menemukanku. Tapi aku merasa ada beberapa bagian diriku yang masih bersembunyi. Dan aku enggak yakin kamu akan berbahagia saat menemukannya.” Ungkapku sambil menunduk dalam-dalam.

“Apapun itu, ijinkan aku untuk mencari dan menemukannya, Filo. Lalu biarkan aku mengajakmu untuk terus bermain sepanjang hidup kita.” Kata Bubi dengan sangat lembut.

Kami pun lalu berpelukan sangat lama. Air mata menetes lagi di pipiku. Bubi memang selalu bisa mengurai kegelisahanku dan menjahit segala keraguan hingga tertutup rapi. Tapi ada sesuatu yang tertinggal dalam benakku, yang tak tersentuh Bubi, dan aku pun belum tahu apakah itu.

JUST MARRIED.

Begitulah plat mobil yang membawa aku dan Bubi dari gedung resepsi menuju bandara.

Satu peristiwa besar dalam hidup terlewati. Riang rasanya hatiku saat senyum bahagia orang-orang yang kami sayangi mengiringi aku dan Bubi dalam pernikahan kami. Bubi juga tampak sangat bahagia.

Bulan madu ke London pun membuat awal kehidupan pernikahan kami menjadi sangat sempurna. Selintas semuanya tampak baik-baik saja. Tidak ada keraguan atau kegalauan yang muncul sedetik pun dalam benakku. Barangkali benar kata orang tua, saat menjelang pernikahan, kita akan menjumpai saat-saat ragu yang menguji hati.

Sesampainya di rumah baru kami, tumpukan kado warna-warni makin membuai hati dengan segala kemanisan aroma pernikahan.

Satu per satu kami buka kado itu.

“Wow, nampan kristal?! Today and still nampan?!” Teriak Bubi takjub.

Aku tertawa, “Jangan gitu dong, Bubi. Mungkin mereka kira kita akan sibuk bermesraan terus sampai lupa beli nampan.”

Bubi tertawa juga sambil mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala. Lalu ia meraih kado lain lagi. Sementara aku selesai membuka satu buah kado dan aku mematung sambil menatap nanar isi kado itu.

Diary sekaligus album untuk mencatat perkembangan bayi.

Bubi melihat isi kado itu dan tampak excited. Lalu ia pun segera meraih diary album itu dan membuka-bukanya dengan senang.

“Bubi dan Filo kecil, lucu pasti!” Teriak Bubi senang.

Aku memalingkan muka dan beranjak pergi cepat-cepat. Bubi tampak kaget dan segera mengejarku. Sebelum Bubi melihatku, aku segera menyelinap masuk ke ruang kecil di bawah tangga. [To be continued]

PETAK UMPET [2] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s