PEREMPUAN NINGRAT [7]

Mencintai adalah sebuah pilihan. Pengorbanan adalah ketulusan yang spontan dari konsekuensi mencintai. Apakah aku harus menggadaikan semua itu demi gelarku semata?


Selama satu hari aku memilih tidak keluar dari kamar. Pertanyaan ibu tidak mampu kujawab. Sementara ayah dan ibu tampaknya juga sengaja membiarkanku sendiri. Hingga sore ini, rumah terasa terlalu sepi, tidak seperti biasanya.

Aku keluar dari kamar dan mendapati teras kosong. Tidak ada ayah maupun ibu yang biasanya bersantai dan menikmati teh hangat di kala sore menjelang. Hanya ada bibi yang dengan sigap mendekatiku.

“Non, mau minum teh hangat ya? Bibi buatin ya.” Tanya bibi dengan sopan khas ala pembantu yang tidak hanya bekerja pada ayah dan ibu, namun mengabdi seumur hidup dengan keikhlasan.

Aku tersenyum mengangguk, “Boleh, bi. Terimakasih. Tapi ayah dan ibu kemana ya, bi?”

Bibi tampak salah tingkah dan kemudian menunduk dalam diam. Itu pertanda bibi tidak boleh bilang apapun mengenai kepergian orang tuaku. Aku mengerti.

“Ya udah, bibi bikin teh saja. Saya tunggu di teras ya.” Kataku sabar.

Lalu aku beranjak pergi ke teras.

Selama beberapa jam kemudian sambil menikmati secangkir teh hangat, aku mempertimbangkan untuk memberitahu Rakata Ziyu tentang apa yang terjadi padaku dan keberadaanku sekarang, namun aku ragu. Kubiarkan Rakata Ziyu menunggu penjelasan dariku, penjelasan yang tak mungkin kuberikan saat ini.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Langkah kaki yang selalu terburu-buru namun tidak menjejak mantap. Langkah yang tak asing bagiku.

“Ajeng!” Seru laki-laki itu dengan lantang.

Aku menoleh dan tak salah lagi. Bagas. Ia tersenyum lebar menatapku. Lalu kami berpelukan sekedar sopan santun yang basi.

Bagas tak seperti dulu lagi. Ada sesuatu yang berubah dari dirinya, entah apa itu. 3 tahun kami tidak berjumpa. Ia menikah meninggalkanku, dan sekarang ia sudah bercerai. Begitu yang aku dengar dari pakde Suryo.

“Cepat sekali kamu dengar tentang kepulanganku, atau kamu hanya sekedar mampir secara kebetulan?” Tanyaku ringan namun sinis.

Bagas tergelak,”Kamu masih seperti dulu, jeng. Terlalu kritis dan dingin.”

Aku tersenyum simpul, “Apa kabar kalau begitu?”

Bagas tersenyum senang dengan sedikit keramahan dariku.

“Kamu pasti sudah dengar kalau aku sudah bercerai. Aku duda yang ingin mendapatkan cinta lamaku.” Jawabnya mantap namun gamang.

Aku mengangguk-angguk tidak jelas sambil menyesap tehku.

Tak kusangka, Bagas mendekatiku lalu mencondongkan tubuhnya kearahku, dan menatapku lekat-lekat.

“Ajeng, aku tidak mau banyak berbasa-basi denganmu. Kamu tahu dari dulu pakde Suryo selalu mendukung hubungan kita. Dan kamu sekarang pulang membawa aib. Dengan pernikahan, kita bisa membahagiakan semua pihak, dan aibmu pun akan tertutupi. Bagaimana, jeng?” Tanya Bagas dengan lantang dan lancang.

Aku terkesiap dengan kata-kata Bagas. Entah apakah dulu aku pernah salah menilai dan mencintainya, ataukah perceraian telah mengubahnya dengan telak.

“Lalu bagaimana dengan kebahagiaanku?” Tanyaku tenang.

“Aku tahu kamu selalu mencintaiku bukan? Itulah mengapa kamu akhirnya tidak mau terikat dan memilih menjadi kekasih gelap orang lain?” Jawab Bagas dengan pertanyaan-pertanyaan fantasinya.

Aku berdiri karena tak bisa lagi menahan kesal yang teramat dalam.

“Bagas, aku tahu konsekuensi dari perbuatanku. Aku memilih hidup satu atap dengan laki-laki itu karena aku mencintainya. Buat apa buru-buru menuang komitmen dalam hitam diatas putih kalau akhirnya kamu mengkhianati komitmen itu sendiri dengan perceraian?” Tandasku tajam.

Bagas tak mau kalah. Ia tampak geram.

“Cinta apa yang bisa membuat seseorang mengkhianati ayah ibu dan gelar keningratannya sendiri kalau bukan nafsu semata?” balas Bagas tanpa logika.

“Pengorbanan untuk melepas segala atribut keduniawian untuk cinta itu sendiri.” Jawabku datar namun beringas.

Lalu terdengar suara berdeham ayah di belakang kami. Aku dan Bagas langsung menoleh dan menunduk kearah ayah. Ibu berdiri di belakang ayah.

“Bagas, kalau kamu memang tahu dan mengerti tentang gelar keningratan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, tentunya kamu tahu tata cara melamar seorang wanita berdarah biru bukan?” Tanya ayah tenang dan mengusik.

Bagas tampak salah tingkah dan hanya mampu mengangguk perlahan. Begitulah Bagas. Dia selalu menjadi kesayangan pakde Suryo, namun tak pernah mampu meraih sedikit pun hati ayah.

“Pulanglah.” Kata ayah singkat.

Bagas langsung bergegas pulang.

Lalu ayah mendekatiku dengan air muka yang arif dan bijak.

“Ayah dan ibu baru saja pulang dari Jakarta. Kami sudah bertemu dengan lelaki bernama Rakata Ziyu.” Jelas ayah dengan tenang dan lugas.

Aku hanya bisa menatap ayah. Takjub. [To be continued]

PEREMPUAN NINGRAT [8] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s