PETAK UMPET [2]

Kamu orang yang aku inginkan tapi kehidupan kita bukanlah yang aku harapkan akan terjadi dalam hidupku. Aku seperti aktor dengan peran yang tidak tepat dalam sebuah skenario yang indah.

Aku mendengar suara langkah kaki Bubi yang bergegas kesana-kemari untuk mencariku semakin lama semakin menjauh dari tempatku bersembunyi. Kali ini aku memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku dan berpura-pura bahwa kali ini memang aku tidak bermaksud bersembunyi.

Langkah Bubi seketika terhenti dan raut mukanya tampak kaget dan heran saat ia melihat aku sedang membuat teh dengan paras muka santai.

“Filo, kamu… Kamu tadi kemana, kok tiba-tiba lari begitu aja? Kupikir kamu sembunyi.” Tanya Bubi gagap namun tegas.

Aku tersenyum dan menyodorkan secangkir teh pada Bubi. Bubi menerimanya, namun matanya masih terus mengawasiku.

“Tadi aku cuma tiba-tiba ngerasa mual jadi aku cepet-cepet ke toilet.” Jawabku santai dengan akting meyakinkan.

Bubi masih memandangku tak percaya sekaligus ada rona khawatir di matanya.

“Mual?” Tanya Bubi singkat penuh harap.

“Bukan mual itu. Aku masih minum pil, Bubi. Mungkin masuk angin.” Sergahku cepat-cepat.

Lalu Bubi mendekatiku dan memelukku erat-erat. Barangkali wanita lain akan merasa bak di langit ke tujuh kalau dipeluk sebegitu hangat oleh pria seperti Bubi, tapi aku merasa kebas.

Bubi lalu berbisik, “Kalau ada apa-apa, kasih tahu aku ya, Filo. Please.”

Aku mengangguk pelan.

Hari pertama memasuki kehidupan pernikahan setelah bulan madu yang membuaiku kulewati dengan gundah. Aku tahu apa yang akan terjadi. Ternyata ini bukan hanya sindrom menjelang hari pernikahan.

Hari kedua terasa melegakan karena Bubi sudah masuk kantor sementara aku masih cuti. Cepat-cepat aku pun bergegas memasukkan beberapa baju termasuk netbook kesayanganku ke dalam tas ransel. Aku ingin pergi ke pantai untuk bercengkerama dengan diriku sendiri.

Tepat disaat aku membuka pintu apartemen, Ibu mertuaku muncul dengan dandanan rapi jali sekaligus mewah dan tentu saja rambut sasak yang menanjak tinggi serta tatap mata tajam.

“Ibu?” Kataku ternganga kaget.

“Kamu enggak persilahkan ibu masuk?” Tanya Ibu mertuaku singkat tak menyenangkan.

Bagai terhipnotis, aku segera membawa ibu mertuaku masuk ke dalam apartemen dan kami pun terjebak dalam pembicaraan empat mata dengan teh panas mengepul percuma karena ibu mertuaku sepertinya lebih tertarik menginterogasiku.

“Kamu mau pergi kemana tadi?” Tanya ibu mertuaku sinis menggelitik.

“Jalan-jalan ke mall.” Jawabku jelas namun tak memuaskan.

“Kayaknya itu bukan kostum kamu ke mall. Omong-omong, kapan kamu mau berhenti minum pil dan punya anak? Ingat, Bubi itu kan anak laki-laki ibu yang paling ibu harapkan.” Tandas ibu mertuaku.

Pagi mendadak menjadi buram dengan suara gemuruh menjengahkan bagiku. Tiba-tiba aku merasa sangat marah dan muak.

“Bu, saya… Saya-“ Lidahku mendadak membatu.

“Ibu tahu kamu itu masih pengin jalan-jalan kesana kemari, potret sana-potret sini, bebas kayak burung, dan selalu sembunyi dari hal-hal penting dalam hidup. Jangan kira ibu enggak tahu siapa kamu yang sebenarnya. Tapi bagaimanapun juga kamu sudah menikah. Bubi sangat mencintai kamu. Dengan begitu, kamu punya tanggung jawab baru, Filo.” Jelas ibu mertuaku panjang lebar namun tak sedikitpun kata-katanya yang ingin kupahami.

Aku hanya bisa menunduk, dan tak lama kemudian ibu mertuaku beranjak pergi.

“Filo, ibu pulang dulu. Ibu tahu, kamu pasti segera ingin runaway, iya kan? Kali ini kamu mau bersembunyi dimana? Huh, Ibu enggak ngerti kenapa Bubi suka dengan permainan kamu ini.” Kata ibu retorik.

Aku terperangah diam, tak menyangka ibu mertuaku sangat mengerti kebiasaanku selama ini.

Lalu selepas ibu mertuaku pergi, hanya satu hal yang ada di benakku.

Bubi pulang dengan muka berseri. Saat yang tepat untuk merusak hidup Bubi seperti ibunya yang dengan kejam memporak-porandakan hariku dan pastinya masa depanku nanti.

“Bubi, aku mau mengangkat rahimku.” Kataku cerah ceria tanpa perasaan. [To be continued]

< PETAK UMPET [1] – PETAK UMPET [3] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s