PEREMPUAN NINGRAT [8]

Aku adalah seorang individu yang bebas sekaligus anggota keluarga ningrat yang memiliki banyak kewajiban klise untuk tujuan keningratan itu sendiri. Menikah termasuk diantaranya.


Ayah tak berkata apa-apa lagi padaku mengenai kepergiannya ke Jakarta. Sementara aku masih membisu karena takjub sekaligus bingung. Lalu ayah pun berlalu pergi. Kini hanya ada aku dan ibuku. Aku dengan masih menunduk mencoba mencari tahu kegelisahan yang tiba-tiba membuatku gundah.

“Ibu, apakah ayah dan ibu meminta pertanggungjawaban dari Rakata Ziyu?” Tanyaku lirih menjerit.

Ibu tersenyum tipis. Ada getir di kedua matanya, namun ibu selalu pintar membawa diri. Tak sedikitpun emosi yang beliau hamburkan tanpa alasan yang kuat.

“Rakata Ziyu tidak bersalah, buat apa kami menggugat dia? Kami hanya ingin mengenalnya.” Jawab ibuku ringan penuh penekanan.

Ayah dan ibuku selalu punya berbagai cara menangani masalah yang sungguh diluar dugaan banyak orang, termasuk aku. Aku tidak siap menanggung jawaban ibu yang tak mampu kupahami.

Ibu pun mengerti lalu katanya, “Pertemuan diantara kami, membuat ayah dan ibumu ini paham kenapa kamu sangat mencintai laki-laki itu, sekaligus alasan kamu tidak menikah dengannya. Selesaikanlah apa yang harus kamu selesaikan dengan dirimu sendiri dulu.”

Aku mengangguk dan menatap ibu lekat-lekat, “tapi biarkan aku pulang ke Jakarta, bu.”

Ibu menggeleng tegas dengan tatapan tajam.

“Bagaimanapun juga kamu harus mempertanggungtanggungjawabkan perbuatanmu pada keluarga besar kita. Waktumu hanya 1 minggu sebelum rapat keluarga. Rakata Ziyu atau Bagas.”

Aku terperangah kaget. Tiba-tiba hidupku hanya akan ditentukan dalam hitungan hari.

“Tapi bu-“ Sergahku cepat dan emosional.

“Semua tindakan ada konsekuensinya, kamu tahu itu.” Kata ibu melembut namun mengancam agar aku tak memberontak lebih jauh lagi.

Ibu berlalu pergi, saat aku hanya bisa tercenung seorang diri sehingga tak menyadari kehadirannya.

“Ajeng.” Sapanya hangat sekaligus meragu.

Aku menoleh dan sekali lagi hidup memberiku kejutan di hari ini. Rakata Ziyu berdiri tak jauh dariku, tampak tampan dan penuh kharisma seperti biasanya.

Semilir angin dan pemandangan yang hijau tak membuat hatiku yang berantakan membaik. Bahkan Rakata Ziyu yang kini ada disampingku sekalipun.

“Maafkan aku, semuanya jadi kacau.” Kataku lirih mendayu.

Rakata Ziyu menggeleng, “Semua ini harus terjadi agar kamu dan aku benar-benar bisa berpikir lebih serius tentang kita dan diri kita masing-masing.”

“Aku menikmati bentuk hubungan kita selama ini, dan belum berniat untuk mengubahnya. Aku yakin kamu pun pasti begitu.” Tandasku lembut.

Kami saling bertatapan lekat, ketika tiba-tiba sebuah pukulan menghantam wajah Rakata Ziyu.

“Laki-laki kurang ajar!” Teriak Bagas yang tiba-tiba muncul dan tampak sangat kesal.

Rakata Ziyu berdiri dan menatap Bagas tajam.

“Akhirnya kita bertemu. Kamu pasti Bagas.” Kata Rakata Ziyu tenang penuh penekanan.

Bagas tampak sedikit terkesiap mengetahui Rakata Ziyu menyebut namanya seolah sudah mengetahui sesuatu tentangnya.

“Kamu boleh memukulku lagi kalau kamu memang tidak pernah berbuat kesalahan pada Ajeng.” Sambung Rakata Ziyu menggeretak lembut.

Bagas pun perlahan menurunkan tangannya, walaupun masih menatap Rakata Ziyu dengan penuh amarah dan kebencian.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menikahi Ajeng.” Geram Bagas.

“Aku rasa tidak ada satu pun dari kita yang akan dipilih Ajeng.” Timpal Rakata Ziyu lirih dan sedih.

Bagas mengernyit tak mengerti dan menatapku tajam. [To be continued]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s