PETAK UMPET [3]

Kenapa kamu mau melakukan apa saja untuk benar-benar mencintaiku? Apa yang aku miliki namun ku tak menyadarinya sehingga kamu tak pernah sedetikpun berpaling dariku?


Suasana terasa membeku sesaat walau aku berusaha untuk terus tersenyum ceria seolah permintaanku hanyalah keinginan sesaat anak kecil yang meminta sebuah es krim.

Namun kemudian, tak kusangka, Bubi tersenyum dan mengangguk tegas.

“Kalau memang itu yang kamu inginkan, aku akan mendukungmu Filo.” Kata Bubi lembut dan membuai.

Aku pun tak mampu menahan air mata, dan cepat-cepat kupeluk Bubi. Kami berpelukan beberapa saat lamanya.

“Kapan kamu mau melakukannya, Filo?” Tanya Bubi tenang namun rapuh.

Aku melepaskan pelukan, dan menggeleng pelan, “Enggak dalam waktu dekat ini.”

Bubi mengangguk lagi dan menatap mataku lekat-lekat. Dan aku membencinya saat ia menatapku seperti itu, seolah ia mengetahui sesuatu yang mungkin aku pun tak tahu. Lalu aku pun cepat-cepat berpaling dan meninggalkannya.

Beberapa hari setelah itu, kehidupan kami kembali normal. Aku tidak tahu kenapa Bubi bisa setenang itu mengabulkan permintaanku. Bubi pun tetap mencintaiku dan tidak bertanya lebih jauh tentang keinginanku itu.

Hanya saja, aku bukan wanita kebanyakan yang mudah luluh.  Tiba-tiba kehidupan kami yang serba bahagia ini malah membuatku jengah. Aku tidak tahu bagian mana dari pernikahan kami atau diriku sendiri yang rusak, salah,  tidak sempurna, atau bahkan mati.

Sehingga aku seperti menyimpan bom waktu yang kupeluk rapat-rapat namun tak akan segan-segan kulepaskan dan kubiarkan meledak.

Ibu mertuaku mengundang kami makan malam. Dia satu-satunya orang yang sangat tahu bagaimana memicu bom-bom yang ada padaku, dan berharap aku ikut meledak dan hancur bersama bom itu.

“Udah berhenti minum pil belum, Filo?” Tanya ibu mertuaku lembut namun tajam.

Bubi langsung menatap ibunya, “Ma, aku sama Filo kan baru beberapa minggu nikah, biarin kami nikmati dulu masa-masa ini ya, ma?”

Awalnya aku terharu Bubi tampak berusaha melindungiku, hanya saja jawabannya pada ibunya itu, apakah hanya sekedar kata-kata penghibur atau sebenarnya Bubi tak pernah benar-benar mengiyakan permintaanku dan berharap aku akan berubah pikiran suatu hari nanti. Dadaku terasa sesak.

Ibu mertuaku mencibir,”Buat apa nikah kalau emang belum siap punya anak?”

“Bubi dan saya sudah setuju rahim saya akan diangkat.” Jawabku tegas memicu.

PLAK!

Tamparan ibu mertuaku membuat mataku buram oleh air mata.  Selanjutnya keadaan menjadi kabur bagiku. Ibu mertuaku terjatuh karena serangan jantung, Bubi menolongnya, dan aku sendiri merasa sangat kesakitan jauh di lubuk hatiku terdalam sekaligus merasa ada sesuatu dalam diriku yang merasa sangat bebas. Aku pun berlari dari semua itu tanpa sempat Bubi menahanku.

Pesona Bali selalu mampu membuatku merasa lebih baik. Namun hanya satu yang bisa menyembuhkanku. Sosok itu.

Bugi.

Dia laki-laki yang sama miripnya dengan Bubi. Hanya saja kegiatan Bugi yang seputar travelling dan adventure membuat Bugi tampak lebih coklat sekaligus lebih gagah dan besar dibandingkan Bubi. Beda umur mereka hanya satu jam. Namun pribadi keduanya sangat bertolak belakang.

“Filo-filo.” Panggil Bugi jenaka namun lembut.

Aku menoleh padanya dan tersenyum, “Kamu menemukanku.”

Lalu aku dan Bugi berciuman hangat dan mesra selama beberapa saat. Ciuman yang tak pernah aku rasakan saat bersama Bubi. Ciuman yang selalu menjadi penghias hidupku sekaligus rahasia terbesarku dari Bubi.

Aku meminum coctail-ku dengan sebal saat Bugi tertawa senang mendengar ceritaku tentang ibu mertuaku yang jantungan karena aku mau mengangkat rahimku.

“Apa kamu benar-benar membenci ibumu sendiri?” Tanyaku merajuk tak manja.

Bugi menggeleng masih sambil tertawa renyah, “Enggak. Aku sudah cari tahu, mama baik-baik aja kok. Cuma syok.”

Mau tak mau aku pun tersenyum. Kami saling bertatapan bahagia. Lalu bagaikan dialog keramat yang harus ada dalam setiap film, Bugi pun mengucapkannya, yang barangkali kali ini sudah keseribu satu.

“Tapi Bubi kehilangan kamu. Dia kebingungan, Filo. Sedih, sangat sedih.” Kata Bugi melayang.

Senyumku menghilang. Adegan berikutnya sungguh bisa tertebak. Bugi mengecupku dengan wajah terluka dan berkata, “Aku akan selalu mencarimu.” Lalu Bugi pergi meninggalkanku.

Dan beberapa saat kemudian, Bubi muncul dan segera memelukku erat-erat.

“Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencari dan menemukanmu, Filo.” Desah Bubi.

Kalau saja kamu tahu Bubi, bahwa kamu tak pernah menjadi orang pertama yang menemukanku. [To be continued]

<PETAK UMPET [2] – PETAK UMPET [4] >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s