Is He the One?

I thought the time has cured me. In fact, it just freezes me.


Kamu laki-laki yang tak pernah berhenti mencari, persis sepertiku. Kita mencari bayang-bayang. Kita mencari satu sosok diantara ribuan sosok yang ada. Kita pun terus melangkah bersama tanpa pernah saling cerita, hingga kemarin. Kita saling berbicara.

“Aku merasa He’s the one for me.” Kataku meradang di derai tangisku.

Kamu menatapku tak percaya. Kamu memang selalu percaya bahwa aku tak serapuh itu untuk cinta, tapi sekarang kamu berjumpa dengan sisi diriku yang lain.

“Kenapa kamu bisa merasa begitu?” Tanyanya datar dengan ekspresi heran.

So many years I can’t cry for love. But seeing him in a glance makes me cry easily. I don’t want to lose him, but in fact I never have him.”

“Sayang, itu hanya romantisme masa lalu.” Katanya melogika.

“Kalo memang begitu, kenapa rasa sakit ini masih sesakit dahulu?” Tandasku lirih.

Kamu lalu hanya menggeleng-gelengkan kepalamu, kamu tak setuju denganku, tapi kamu tahu penjelasan apapun hanya akan semakin menyakitiku. Kamu pun membiarkanku menangis selama beberapa saat.

“Mudah bagi orang untuk bilang cinta dan merasa seseorang itu memang belahan hatinya, jodohnya apapun itu. Tapi sekaligus, orang pun juga bisa meragu tentang seseorang disaat cinta sudah menyapa dan ambang pernikahan sudah dekat. Kamu tahu kenapa?” Tanyanya.

Aku hanya bisa menggeleng. Pedih di mataku membuat otakku buyar. Hatiku pun terlalu berantakan untuk bisa meraba-raba maksud pertanyaannya.

“Karena orang yang benar-benar merasakan cinta selalu ingin memberi, lupa kalau cinta sewajarnya saling memberi.” Katanya lembut penuh penekanan.

“Aku tak mengerti.” Sahutku bingung.

“Kamu mencintai dia. Kamu menemukan cinta tumbuh begitu saja saat bersamanya. Sehingga kamu melakukan apa saja untuk bisa membuatnya jadi milikmu, dengan begitu kamu bisa terus memberikan cintamu padanya sepanjang hidupmu. Tapi pada suatu hari nanti, hidup akan menyadarkanmu, cinta darimu saja tak cukup untuk menghidupkan dua hati.” Katanya panjang lebar.

Aku terdiam.

Just forget it and move on.” Pintanya.

What about if he is the one for me?” Tanyaku linglung.

Lalu kamu tersenyum dan memelukku sesaat hingga tangisku mengering.

“Kalau benar dia ‘he’s the one’-nya kamu, dia enggak akan membuatmu menunggu selama ini. Paling tidak dia akan menjadikan kehadiranmu kali ini sebagai kesempatan kedua.” Jawabnya lembut menyentuh.

Aku mulai mengerti dan mengangguk-angguk,  “Tapi enggak fair kan buat dia. Dia cuman ingin berteman denganku, sementara aku enggak bisa jadi temannya karena perasaanku ini.”

“Kalau kamu disalahkan, apakah itu juga fair? Cinta datang begitu saja, sayang. Begitu juga cinta yang ada di hatimu.” Sahutnya cepat dan tegas.

Aku terdiam lagi mencoba memahami kata-katanya.

“Aku tahu aku bukan the one-nya kamu, walaupun kamu selalu bersamaku, karena kamu tega membuatku berjuang keras nyariin kamu di midnite sale, neleponin kamu sampai pegel baru kamu mau curhat sama aku, dan mesti kalang kabut ngadepin mood-mu yang suka semaunya itu.” Candanya renyah.

Aku pun mau tak mau tertawa.

“Kalau gitu, jangan-jangan he’s the one-nya aku tuh kamu?” Selorohku asal.

Tiba-tiba kamu terdiam. Raut mukamu pucat. Sorot matamu meredup.

“Sayang, is it right?” Tanyaku hati-hati.

Lalu kamu mendongak dan tersenyum, “Tadinya aku berharap begitu. Tapi setelah aku tahu kamu bukan untukku, aku memilih untuk terus menemani kamu sampai kita menemukan pasangan kita masing-masing. Is it wrong?”

“Kamu menebak hatiku semaumu sendiri, tanpa pernah menanyakannya padaku. Tapi kamu memang benar-benar mengerti aku. Thanx a lot kamu menemukan sendiri jawaban dariku pun tetap mau berada di sampingku.”

Kamu mengangguk dan tertawa lebar, “tapi kamu enggak perlu melakukan pilihan seperti yang aku ambil saat ini, kalau kamu memang enggak sanggup, sayang.”

Aku mengangguk-angguk dan akhirnya tersenyum. Lalu kami pun saling tertawa.

Anyway, kalau ternyata akhirnya aku mau nerima kamu, kamu mau nggak?” Celotehku.

“Buat apa? Aku cuma mau jadi the best for last in someone’s life.” Jawabnya tenang.

“Aku mau deh jadiin kamu begitu.” Candaku ringan.

Sorry ya sayang, tapi gak kebayang deh kalau mesti nemenin kamu berburu sepatu di midnite sale sepanjang hidup aku.” Sahutnya penuh tawa.

Aku pun tertawa. “Thanx, sayang.”

Kami pun berpelukan selama beberapa saat. Lalu setelah aku tenang, ia melepaskanku dan menatapku erat-erat.

So honey, you must make sure that ‘he’s the one’-nya kamu bakal jadiin kamu his best for last ya.” Katanya lembut menenangkan.

Aku mengangguk kuat seiring air mataku yang telah mengering.

Kamu dan aku pun berjanji takkan lagi mencari dan mengejar sesosok bayangan.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s