Satu Piano, Satu Soulmate, dan Sebuah Pernikahan di London*

Mungkin kamu tidak menduga wanita sepertiku punya impian tentang sebuah pernikahan. Memang bukan pernikahan formal yang feodal, tapi ya, impian itu ada.

Kamu tidak bisa menerima apalagi memahami penolakanku atas ajakanmu menikah. Kamu mengingatkanku kalau aku cuma punya tiga kriteria dalam memilih suami yaitu bobot, bibit, dan bebet. Kamu merasa kamu lolos dari tiga kriteria itu, dan kini mengajukan protes karena aku mengajukan tiga persyaratan tambahan yang  kujadikan alasan untuk menolak tawaranmu.

“Cinta itu tanpa syarat, nah ini kamu malah punya tiga syarat yang menurutku mengada-ada!” Serumu kesal.

Aku memilih bungkam untuk beberapa saat, memberinya kesempatan untuk meredakan emosinya.

Alexander memang pria yang mendekati sempurna. Executive muda tanpa cela. Hal itu juga yang membuatku jatuh mencintanya. Hanya saja ketika ia tak mampu memahami impianku tentang sebuah pernikahan, aku memutuskan untuk tidak melangkah ke jenjang pernikahan bersamanya.

Kamu berdeham, tampak berpikir keras dan mencoba kembali mencari tahu tentang keinginanku.

“Aku enggak ngerti kenapa kamu minta piano sebagai mas kawin. Kalau kamu minta rumah atau mobil, aku lebih bisa mengerti. Paling enggak minta saja sebagai hadiah ulang tahunmu, aku akan lebih bisa memahaminya. Tapi kalau untuk mas kawin…” Gumammu bingung.

Kamu tidak menyelesaikan kalimatmu, pertanda kamu memang benar-benar tak mengerti akan keinginan diriku yang satu ini.

“Apa susahnya menyebut piano sebagai mas kawin?” Jawabku penuh tanya.

“Sayang, itu gak lazim. Apa kata orang tuaku nanti?” Sahutmu panik.

Aku enggan membalas kata-katanya lagi, aku pun memilih diam.

“Terus kamu bilang, kamu cuman mau menikah sama soulmate kamu, emang aku bukan soulmate kamu?” Tandasmu tajam.

Aku menggelengkan kepala dengan tegas tanpa menatapnya.

“Kalau kamu soulmate-ku, kamu akan mengerti kenapa aku butuh piano sebagai mas kawin.” Jawabku ringan dan datar.

Lalu kamu menghempaskan dirimu di sofa dengan keras. Kamu marah sekaligus makin bingung dengan diriku.

Okay, last wish. Kamu menginginkan sebuah pernikahan di London, terus keluarga dan rekan bisnis kita di Jakarta mau dikemanain? Enggak bisa kan maksa mereka semua datang ke London?” Tanyamu ketus dengan emosi yang labil.

“Emang mereka juga mau ikutan nikah?” Sahutku cepat dan tangkas.

Lalu kita saling bertatapan tajam.

“Kalau kamu enggak bisa memahami tiga syarat sederhana ini, bagaimana kita bisa mengarungi kehidupan seumur hidup kita? Please let me go.” Pintaku lembut namun lugas.

“Apakah ada seseorang yang bisa memahami tiga permintaanmu itu?” Tanyanya hati-hati.

Aku memalingkan tatapanku darinya. Lalu seraut wajah itu muncul jelas di angan-anganku. Bima. Laki-laki sederhana bergaya konservatif namun selalu memiliki ide dan gagasan yang hebat.

“Ada. Hanya saja, aku tidak tahu dia akan menawarkan sebuah pernikahan kepadaku atau tidak.” Jawabku sendu.

Kamu pun sekali lagi meledak penuh amarah. Kamu mendekatiku dan terus memaksaku mengatakan siapa laki-laki itu. Aku hanya diam membisu.

Lalu kita mengakhiri hari itu dengan rasa amarah yang menggantung, sesal yang tak utuh, dan cinta yang menggelayut lemah, dan dengan cara itu pulalah kita juga mengakhiri hubungan kita.

***

Alexander.

Aku yakin Lophey mencintaiku. Aku takkan tinggal diam menerima begitu saja keputusan sepihak darinya. Sehingga aku memutuskan untuk mencari tahu tentang tiga keinginan Lophey. Awalnya aku tidak bisa menebak siapa laki-laki yang sekiranya bisa memahami keinginan Lophey itu, sampai suatu hari aku bertemu dengan Bima yang sedang asik menikmati alunan piano di sebuah kafe.

“Apa menariknya mendengarkan permainan sebuah piano?” Tanyaku memancing.

“Piano hanya punya satu warna suara, tidak seperti keyboard atau organ. Tapi piano lebih bisa membuatmu melayang ke alam imajinasimu.” Jawabnya datar namun penuh penghayatan.

“Kalau seseorang menginginkan piano buat mas kawinnya, artinya apa?” Tanyaku lugas.

Bima tersentak dari lamunannya dan menatapku lekat-lekat.

“Kalau kamu tidak mau menikahinya, paling tidak bantu aku memahami tiga keinginannya supaya aku bisa mempersuntingnya.” Jelasku dengan lugas pula.

Kami pun saling bertatapan dengan tajam. Lalu dia mengangkat bahunya dan memalingkan wajahnya dariku.

“Piano. Lophey ingin menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anaknya kelak dengan alunan piano darinya. Kalau seseorang bisa menjadikan musik sebagai kebutuhan primer, itu berarti pemenuhan kehidupan kearah yang lebih baik. Tak ubahnya seperti kriteria bebet.”

Aku terkesima dengan penjelasan yang sederhana namun sungguh tak terduga sebelumnya olehku.

“Lophey juga ingin ketika tua nanti bisa terus bermain piano untuk suami, anak-anak dan cucunya.” Lanjut Bima masih dengan pandangan menerawang ke suatu titik. Barangkali ada Lophey di benaknya itu.

“Tak kusangka Lophey berpikir sejauh itu.” Kataku mengambang.

Soulmate. Lophey cuma mau memastikan ia menikah bukan karena desakan sosial, kepatuhan tradisi, ataupun pertimbangan umur.” Kata Bima lugas.

Lalu Bima menatapku seolah ingin memeriksa seberapa jauh aku bisa memahami penjelasan darinya. Aku mengangguk tegas, karena aku pun mulai bisa memahami keinginan Lophey.

“Menikah dengan soulmate, tak ubahnya seperti kriteria bobot. Harkat dan martabat seseorang dinilai tak lagi dari darah biru atau status sosial, tapi pemikiran yang terbuka dan maju.” Jelas Bima lagi.

Lalu Bima terdiam, barangkali memberiku waktu mencerna. Dan sebelum Bima beranjak ke penjelasan selanjutnya, aku pun mendahuluinya.

“Dan pernikahan di London, tak ubahnya seperti bibit. Bibit tak lagi hanya berarti asal muasal seseorang, tapi bagaimana seseorang menghargai keberadaan dirinya sebagai individu sekaligus makhluk sosial, yang mana seseorang punya hak untuk memilih apa yang diinginkannya, dan ketika hal itu bertentangan dengan keinginan keluarga besar atau masyarakat, bukan berarti ia melawan semua itu.” Jelasku panjang lebar.

Bima mengangguk tegas.

“Lophey tidak pernah muluk-muluk, sebaliknya ia sangat realistis dan berpikir secara esensi, begitupun mengenai kehidupan pernikahan yang ia harapkan kelak.” Sahut Bima masih dengan nada menerawang.

Lalu untuk beberapa saat kami terdiam dalam buaian alunan piano. Sesaat itu pula aku makin bisa memahami keinginan Lophey.

“Kenapa kamu mengatakan semua ini padaku, apakah kamu tak ingin menikahinya?” Tanyaku pelan namun tegas.

Bima tersenyum lebar seolah menertawakanku.

“Aku bisa menjelaskan alasan Lophey menginginkan ketiga hal itu, tapi belum tentu aku yang benar-benar bisa memahami alasan itu.” Jawab Bima ringan.

Aku pun ikut tertawa lebar. Barangkali Bima benar-benar tak ingin menikahi Lophey, itu berarti aku masih punya kesempatan besar untuk memiliki Lophey.

Lalu aku mengucapkan terimakasih pada Bima. Dan baru beberapa langkah, Bima menghentikanku.

“Aku suka persaingan yang sehat. Sekarang kita fifty-fifty.” Kata Bima tenang namun tajam.

Mau tak mau aku tersenyum dan mengangguk. Tantangan yang menarik.

The end.

*Cerpen ini sesuai permintaan pembaca @munggur, telah dijadikan Cerber.

Check it out: Satu Piano, Satu Soulmate, dan Sebuah Pernikahan di London [1]


5 thoughts on “Satu Piano, Satu Soulmate, dan Sebuah Pernikahan di London*

  1. satu soulmate dalam cinta segitiga berbalutkan piano dan berlatar di london…

    jennifer lophey bakal pilih yang mana ya…? dua-duanya? atau tidak sama sekali, ya?

    ditulis dong terusannya…

    1. oh. padahal para pembaca ingin tahu (baca: penasaran) siapa lelaki yang bakal dipilih si lophey…

      kalau cuma sampai segitu doang itu seperti duduk di restoran, lalu dihadapkan pada menu makanan untuk dipilih. trus ga ngapa2in kemudian pulang. masih lapar dong…

      dilanjutkan ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s