PINTU PUTAR

Aku suka menyesap cappucino panas saat aku duduk di sofa sembari memandang ke arah pintu putarku.


Pintu. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan eksistensi barang bernama pintu, sampai aku menemukan kunci pintuku sendiri.

Dulu kunci itu kulempar jauh-jauh. Aku berharap kunci itu mengenai kamu atau dia, supaya kalian tahu betapa kalian sangat berarti dan berpisah dengan kalian menjadi luka yang teramat sangat untukku. Tapi ternyata kunci itu melambung jauh melewati kalian dan lenyap dalam tumpukan barang yang padat dan jengah.

Sekarang tiba-tiba kunci itu terserak keluar dari kolong yang gelap, tepat disaat aku menginjakkan kakiku ke ubin yang dingin.

Pelan-pelan kuambil kunci itu dan selama sesaat aku terpaku diam. Tak mengerti haruskah aku berpura-pura tak menemukannya lalu kulempar saja lagi, atau kusimpan baik-baik di suatu tempat yang suatu saat nanti aku bisa lupa dimana aku menaruh kunci itu.

Tiba-tiba, ada ketukan terdengar di pintu.

Aku tidak beranjak.

Ketukan itu terdengar lagi, dan semakin lama semakin sering.

Aku mulai melangkah.

Ketukan itu tak kunjung berhenti.

Akhirnya, aku membuka pintu itu.

***

Tidak. Aku tidak mempersilahkan orang itu masuk. Terlebih dulu, aku mengganti pintuku dengan pintu putar.

Lalu aku siapkan sofa tepat di depan pintu putar itu, dan sebuah mesin kopi di sebelahnya. Dan aku duduk diam disitu menyesap secangkir cappucinoku.

Aku melihat seorang laki-laki masuk. Ia tersenyum padaku dengan riang. Aku pun tersenyum padanya. Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, ia terseret pintu putarku dan keluar lagi, lalu buru-buru masuk lagi seiring dengan ritme pintu putarku itu.

Ia kembali tertawa lebar dan seolah bertanya bagaimana ia bisa menghentikan pintu putar itu dan duduk bersamaku di sofa. Aku hanya tertawa. Lalu ia terus berputar-putar disitu.

Tiba-tiba ada seseorang lagi masuk dan ikut dalam arus pintu putarku. Dia tidak seaktif seseorang sebelumnya dalam berputar-putar. Tapi cukup membuatku tersenyum pula.

Apakah aku menikmati permainan pintu putarku?

Sama sekali tidak.

Hanya saja kali ini aku tidak ingin terburu-buru menerima tamu, apalagi menjadikan tamu itu menjadi penghuni tetap disini. Sekaligus aku juga tidak ingin menjadi penentu atau pemegang kunci.

Aku memberi kesempatan pada semua orang untuk melewati pintu putar itu dan melangkah masuk sendiri.

Namun baiklah, aku akan mengangkat cangkirku kalau memang aku menghendaki seseorang masuk. Lalu aku akan menunggu bagaimana seseorang itu menghentikan pintu putarku dan menyisakan orang-orang lain di sisi luar.

Hanya saja kali ini, aku memang tidak membuat pintu putarku memiliki kunci.

The end.

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s