Jejak yang Sama

Sekarang aku tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kita sayangi berteriak keras-keras di depan kita ‘aku mau pergi, aku mau pergi, aku mau pergi’ sementara ia terus menggenggam erat tangan kita.

 

Melihat dirimu tak ubahnya melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Ada semangat, ambisi, optimisme sekaligus tekad yang nekat tercampur aduk sempurna. Matamu yang berbinar penuh antusias persis seperti mataku waktu itu.

Suaramu yang menggelegar dan menggelora saat mengucapkan rencana hidupmu persis seperti teriakanku waktu itu. Menghujam tajam tanpa sedikitpun memberi ruang bagi yang mendengarkan untuk mati perlahan.

Lalu ada harapan terselip yang tersirat tipis dalam kata-katamu untuk memancing ekspresi muka tak ingin kehilangan dari wajahku tentangmu, atau kata-kata dariku yang menahanmu pergi. Persis sama dengan harapanku waktu itu pada dirinya.

Hanya saja kali ini, aku tak lagi berada di posisi itu. Kamu kini duduk di hadapanku dan menjelma menjadi hantu diriku dari masa lalu.

Pedih.

Ternyata sangat menyakitkan berada di posisi itu.

***

Kini aku tahu bagaimana perasaan dia saat beberapa tahun yang lalu aku meneriakkan rencana hidupku kencang-kencang di hadapannya.

Ada senang membuncah saat melihat kamu dengan optimis menjejakkan kakimu menuju masa depan. Ada sedih karena aku tahu jalan hidup akan membuat kita menjadi pribadi yang berbeda, yang barangkali saat kita bersua kembali, kita tak lagi pribadi yang sama dan bisa saling menerima seperti saat ini. Ada sakit tak terperikan saat perpisahan menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Namun, menahanmu pergi juga bukanlah sesuatu yang bijak untuk kulakukan.

Barangkali itulah perasaan dia saat melepasku pergi menjemput impianku.

Lalu aku makin tak mengerti mengapa slide ini mesti diputar kembali dalam kehidupanku. Apakah ini cara hidup memberitahuku betapa selama ini aku keras tak hanya pada diriku sendiri, tapi juga pada orang-orang yang pernah menyayangiku?

Salahkah aku dengan impian-impianku? Ataukah aku harus tetap yakin bahwa suatu hari nanti akan ada pria yang bisa memahami alasan aku mesti meraih impianku sebelum akhirnya memasuki gerbang realita bernama pernikahan?

Lalu seperti dia, aku akan memilih diam. Tak sedikitpun aku ingin memberatkan langkahmu, pun sama sekali aku tak ingin berpura-pura sangat bahagia dengan rencana hidupmu.

Terbanglah.

Hati akan memilih sendiri. Kamu hanya akan kembali padaku, dan aku akan menunggumu, kalau kita satu hati.

Biarkan waktu yang mengiringi hati aku dan kamu untuk menemukan jawab itu.

Ini jejak yang sama tentang sepenggal kisah dalam hidupku di masa lalu, namun kalau aku masih boleh berharap, aku kali ini menginginkan akhir yang bahagia.

The end.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s