Fana itu indah, seperti cinta…

Pengin ada yang jagain…


Aku dan ayahku seperti bulan dan bintang. Saling menemani dan melengkapi tanpa bertukar banyak kata. Ayahku selalu bisa memahamiku tanpa perlu bertanya apapun padaku. Sementara aku, tanpa meminta aku tahu ayahku akan selalu ada disana menjagaiku.

Di suatu senja yang fana, kami berbincang.

“Ayah, aku jatuh cinta.” Kataku ceria namun sendu.

Ayah tersenyum dan menatapku lekat-lekat.

“Aku tahu, cantik.”

Aku tersenyum senang. Aku selalu suka saat Ayah memanggilku cantik, dan saat Ayah berjalan bersamaku dan menggandeng tanganku karena membuatku selalu merasa bak seorang puteri kerajaan.

“Tapi Ayah, perasaan ini terasa menyesakkan.”

Ayah mengangguk tegas dan tampak berpikir.

“Aku capek dengan semua ini, Ayah. Aku cuma pengin sedikit saja bisa ngerasain bahagianya cinta, tanpa keraguan dan ketakutan, atau trauma kehilanganku di masa lalu.”

Ayah langsung memelukku lama sekali. Rasanya semua beban rasa terangkat. Air mataku pun urung jatuh.

Lalu perlahan-lahan Ayah melepaskan pelukannya dariku, dan memegang kedua bahuku erat-erat sambil mengalunkan kembali suara hangatnya serta melantunkan kata-kata filosofis nan menyentuh.

“Kamu akan jatuh dan bangkit lagi. Ayah yakin itu. Kamu hanya perlu kesabaran untuk menunggu sang waktu menuntunmu pada seorang pria yang tepat.”

“Aku capek menunggu, Ayah.” sahutku merajuk tegas.

Ayah membelai kepalaku untuk menenangkanku sambil berkata lembut, “Siapa yang menyuruhmu menunggu? Waktu itu akan datang dengan sendirinya. Kamu hanya perlu menjalani hidup dengan bahagia sampai waktu itu tiba, Cantik.”

Aku terdiam. Aku merasa kali ini Ayah hanya berkata-kata klise seperti orang lain, dan tak mau memberikan apa yang kumau.

Ayah lalu menatapku tajam sekaligus lembut.

“Kamu puteri kesayangan Ayah. Ayah hanya akan melepaskan dan memberikan tanganmu pada pria yang tepat, Cantik. Ayah ingin kamu bahagia. Bukan hanya sekedar mendapat pasangan hidup, lalu beroleh kehidupan yang mandeg tanpa cinta.”

Aku mengangguk, namun masih terdiam.

Tak terasa malam yang menghampiri kini akan berganti dengan pagi. Ayah menggenggam erat tanganku.

Air mataku perlahan jatuh.

“Perasaan ini masih sangat menyakitkan untukku, Ayah. Perasaan menjadi seseorang yang ditinggalkan, perasaan kehilangan yang teramat sangat, perasaan yang membuatku juga membenci semua orang yang kusayangi.”

Ayah merangkulku dan berkata dengan lirih penuh tekanan, “Maafkan Ayah telah membuatmu jadi seperti ini, Cantik.”

Aku mengangguk-angguk cepat sambil terisak untuk meyakinkan Ayah bahwa tak sepenuhnya semua itu salah Ayah.

“Bukan dengan memiliki seseorang kamu bisa menyembuhkan lubang di hatimu tentang rasa kehilangan, Cantik. Tapi dengan cinta yang ada di jiwamu. Teruslah jatuh dan mencinta sampai kamu tahu pada siapa kamu akan memberikan cintamu sepenuhnya, Cantik. Dan di saat itulah, lukamu akan sembuh dengan sendirinya.”

Aku menatap Ayah lekat-lekat. Ayah mengangguk kuat untuk meyakinkanku.

Tiba-tiba Ayah tertawa keras, “Ayah masih ingat betapa keras kepalanya kamu kalau menolak cowok yang kurang ajar sama kamu, Cantik.”

Aku pura-pura cemberut dan melipat tangan.

“Tapi Ayah jadi tahu kamu bisa menjaga diri kamu sendiri, dan kelak saling menjaga dengan soulmate kamu, Cantik.”

“Ih, Ayah sok gaul deh. Pake bilang soulmate-soulmate segala!” Sahutku manja.

Kami tertawa selama beberapa saat, bercanda tentang sesuatu yang tidak penting namun membuat bahagia.

Pagi pun menjelang, pelangi muncul dengan indah. Aku tahu Ayah harus segera pergi.

Ayah memelukku erat-erat.

“Ayah akan selalu menjagamu, Cantik.”

Aku mengangguk sambil tersenyum getir.

Lalu Ayah menghilang seiring dengan Pelangi yang berlalu pergi, tergantikan sinar matahari yang menusuk tajam, membangunkan orang-orang sepertiku dari dunia mimpi yang fana namun nyata.

The end.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s