A Story for Santa Claus

Sayang, udah mau natal lagi ya.

 

Di sebuah sore dalam sebuah mall yang penuh dengan dekorasi natal dan orang-orang berlalu-lalang, kamu dan aku bergenggaman tangan erat. Kita sama-sama merasakan sepi di tengah keramaian.

“Sayang, udah hampir natal lagi.” Kataku lirih dan gelisah.

Kamu tersenyum tipis.

“Kamu selalu menanti natal dengan tak sabar, sekaligus kamu takut natal juga akan berlalu sebegitu cepat.” Sahutmu dengan nada biasa walaupun tersirat ada pengertian disana.

Aku menunduk dan menerawang. Kamu menyadarinya dan makin menggenggam tanganku dengan erat.

“Aku pernah minta satu kado sama Santa Claus, tapi sampai natal tahun kemarin Santa belum juga ngasih.” Kataku murung.

Lalu sebelum kamu sempat menjawab, aku dan kamu berpapasan dengan seorang ibu berbaju glamor sedang mendorong kursi roda dimana disitu duduk anaknya yang cacat mental.

Setelah itu kita hanya saling melemparkan pandangan namun penuh arti.

“Berarti kamu masih nakal.” Ujarmu singkat.

Mau tak mau aku tersenyum lebar dan mengangkat bahu, “mungkin.”

“Kamu minta apa sama Santa Claus?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil menahan senyum.

“Aku suka senyum kamu yang seperti itu, misterius tapi malu-malu.” Katamu sambil tertawa lebar juga.

Aku memilih berpaling darimu dan mencari topik lain.

“Kita makan ketupat lagi ya nanti.” Candaku renyah.

Kamu tertawa senang. Begitulah aku dan kamu yang lebih suka mencampur aduk ritual. Saat lebaran, kita malah pergi ke luar negeri berburu eggnog.

Lalu segerombolan orang terdiri dari ibu, bapak dan anak-anak membuat kita terpisah beberapa detik. Namun setelah itu kita bergandengan lagi, dan saling tatap penuh arti lagi.

“Aku boleh nebak-nebak isi kado yang kamu minta ya?” Tanyamu jenaka dengan nada sangat ingin tahu.

Aku tetap menggelengkan kepalaku dan mengunci bibirku rapat-rapat.

“Kalau kamu akhirnya ngedapetin kado itu, apakah kamu akan benar-benar bahagia?” Tanyamu tiba-tiba tegas dan lugas.

Senyumku mendadak sirna. Kita pun saling bertatapan tajam. Aku memilih melepaskan tanganmu. Tapi tak kusangka kamu menahan tanganku.

“Kurang apa sih hidup kamu? Kamu lihat kan tadi ibu sama anaknya yang di kursi roda? Terus keluarga yang datang ke mall bareng-bareng, tapi sibuk sama gadgetnya sendiri-sendiri? Lihat juga lagi tuh, orang-orang murung yang pura-pura bahagia di balik aksesoris mereka!” Ujarmu penuh emosi.

Aku benci setiap kali kamu marah seperti itu padaku. Tapi aku bisa mengerti karena kali ini aku memang merahasiakan sesuatu darimu tentang kado natal itu.

“Kalau aku mengharapkan kado itu bukan berarti aku enggak bahagia sama yang aku punya sekarang, sayang.” Kataku lirih namun tegas.

Kamu terdiam, sepertinya kamu menyesal telah meluapkan emosimu tanpa pikir panjang sekaligus kamu tetap merasa cemas dan curiga dengan kado natal yang aku inginkan.

“Kalau akhirnya kamu ngedapetin kado itu, apakah kamu akan meninggalkanku?” Tanyamu memancing.

Aku hanya tersenyum, lalu menarikmu ke sebuah sudut dan memelukmu erat-erat. Selama beberapa saat kita saling berbagi hangat yang kadang bersiap pergi selamanya di saat aku atau kamu sedang meragu.

Lalu kita meneruskan acara jalan-jalan kita di mall. Tiba-tiba kamu berhenti untuk bertegur sapa dengan teman-temanmu, sementara aku tertambat di kerumunan anak-anak kecil yang mengelilingi santa claus.

Aku tidak meneriakkan kado yang aku inginkan dari Santa Claus. Tapi diam-diam aku merapalnya dalam hati.

Santa, dulu aku tidak bisa menyebutkan satu nama. Sekarang nama itu sudah tertera jelas di hatiku. Apakah dengan begitu Santa mau memberikan kado natal itu untukku?

The end.

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s