Jatuh Cinta

Aku ingin bisa jatuh mencinta seperti dulu. Sepenuh hati tanpa ada ketakutan ataupun pengorbanan yang rapuh.

 

Kamu selalu ada. Sama seperti saat ini ketika aku dengan mata berbinar-binar bilang padamu, ‘Aku jatuh cinta.’

Kamu tersenyum tipis. Entah apa yang ada di benakmu, aku pun enggan mencari tahu, karena aku lebih suka memikirkan dirinya.

“Then what?” Tanyamu singkat dengan lonjakan emosi yang sedikit membuatku bertanya-tanya.

Aku mengangkat bahu, dan pertanyaanmu selalu menyadarkanku akan sesuatu.

“Kalau saja aku bisa mencintai seperti dulu. Walaupun terasa menyakitkan, tapi sepertinya aku lebih tahu kalau diriku benar-benar menginginkannya.” Jawabku datar.

Kamu menatapku penuh arti, tapi sekali lagi aku memilih tak memikirkannya.

“Mungkin bukan kamu yang salah atau luka masa lalu kamu. Dia yang belum bisa meyakinkanmu.”

Aku tersenyum tipis dan getir, “Aku berharap begitu.”

Lalu aku dan kamu terhanyut dalam diam selama beberapa saat, sampai akhirnya aku memutuskan untuk tertawa. Kamu menatapku dengan senyum penuh artimu.

“Jatuh cinta kok melo gini ya? Harusnya aku tuh sibuk milih-milih baju, terus nanya opini kamu tentang dia, atau nerocos tentang kegantengan atau kebaikan si doi. Terus kamunya harusnya nanya-nanya tentang dia, ngejahilin aku, atau minta makan-makan.” Kataku riang.

Kamu tergelak. Entah kenapa aku merasa lega mendengar tawamu. Senyum lebar pun menghias wajahku.

Lalu kamu dan aku tak sengaja saling bertatapan. Ada sesuatu di mata kamu. Sesuatu yang sebenarnya aku sudah menduganya. Aku pun cepat-cepat memalingkan muka dan memilih menunduk.

Ada rasa hangat menjalar di hatiku. Ini bukan karena dia, tapi kamu.

Aku cepat-cepat beranjak pergi, tapi kamu menahan tanganku, dan membuat langkahku terhenti.

“Aku menyayanginya. Aku tidak tahu apakah kisah ini akan memiliki sebuah awal atau tidak, saat ini yang ada di hatiku cuma dia.” Jelasku lembut penuh penekanan.

Kamu tersenyum tipis dengan tatapan mata terluka.

“Aku mengerti.” Katamu singkat.

Kamu lepaskan tanganku dengan perlahan. Lalu kamu membiarkanku pergi dengan suara binatang malam yang nyaring namun sendu.

Kamu diam-diam telah mencuri hatiku jauh sebelum aku jatuh cinta padanya.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s