PETAK UMPET [4]

Tak pernah sepenuh hati mencintaimu. Hingga aku berharap cupid menarik anak panahnya dariku, atau meniadakan hari valentine.

Dari sejak pertama Bubi mengucapkan kata cintanya padaku, hari Valentineku selalu semarak dengan pernak-pernik klise ala Valentine. Kadang aku berharap tidak ada lagi hari Valentine agar rasa bersalahku pada Bubi bisa sedikit berkurang.

“Filo, selamat hari valentine.” Bubi mengecupku mesra lalu menyodorkan sebuah kotak beludru. Satu lagi cincin berlian yang hanya akan menjadi onggokan tak berguna di ruang hatiku.

Seperti biasanya, aku akan pura-pura antusias, memakai cincin itu, dan mengecup Bubi sambil membisikkan kata I love you. Namun kali ini tanganku mematung, mulutku terkatup rapat.

Bubi sangat mengerti aku.

“Filo, kamu kenapa?”

Aku terdiam selama beberapa saat. Sampai akhirnya, aku tak mampu menahan kata-kataku sendiri.

“Bubi, kali ini kita ngerayain Valentine sama Bugi yuk.” Desakku kuat.

Bubi tampak kaget lalu menggeleng perlahan.

“Aku enggak tahu dimana Bugi, Filo. Kenapa kamu tiba-tiba pengin ketemu Bugi?” Tanya Bubi bingung.

Aku hanya bisa menunduk. Bubi lalu memelukku.

“Aku juga kadang kangen sama Bugi, tapi dia enggak pengin kita temuin. Aku rasa dia sekarang udah bahagia dengan kehidupannya, Filo.” Kata Bubi lembut menghibur.

Barangkali kalau gadis lain akan mengurungkan niat untuk memikirkan laki-laki lain saat dipeluk dan dihibur oleh Bubi. Hanya saja, aku merasa semua ini sesuatu yang terlalu manis. Indah di permukaan.

Aku tak pernah bisa menemukan Bubi seutuhnya.

“Bubi, aku pengin ngelewatin malam valentine ini sendiri.” Desahku lirih namun tajam menghujam.

Bubi melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat.

“Kenapa, Filo? Kamu kenapa?” Tanya Bubi dengan nada perih.

Air mataku menetes. Aku lelah dengan semua ini. Buat Bubi selayaknya hidup itu mesti sederhana dan normal. Semua harus memiliki alasan dan tujuan yang jelas. Namun, Bubi suka lupa akan pentingnya sebuah makna.

“Akhir-akhir ini aku merasa kamu tak pernah menganggapku ada, Filo.” Kata  Bubi datar dengan emosi terluka.

“Kenapa kamu bisa bilang gitu, Bubi?” Tanyaku spontan.

Bubi menggeleng pelan, lalu ia memaksakan senyum lebar.

“Enggak. Enggak kenapa-kenapa. Ya udah, kalau kamu mau sendiri enggak apa-apa. Aku mau nengok Mama aja kalau gitu.” Jawabnya sempurna.

Itulah Bubi. Ia tak pernah benar-benar bisa jujur membuka dirinya padaku. Ia lebih suka berakting semua baik-baik saja, meninggalkan peran orang tertuduh, tersangka, dan terbukti bersalah padaku untuk kumainkan.

Bubi melangkah pergi. Tak sedikitpun aku ingin menahannya, sebaliknya aku merasa sangat lega.

Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe kesayangan Bugi, tanpa mengharapkan bisa bertemu dengannya. Handphone kumatikan. Aku hanya berharap bisa sedikit saja merasa tenang.

Lalu aku menemukan sosok Bugi disana.

“Aku selalu disini tiap hari Valentine, berharap suatu hari kamu melewatkan satu hari Valentinemu bersama Bubi, dan memilih bersamaku.” Katanya ringan penuh perasaan.

“Keinginanmu kali ini terkabul, dong?” Candaku renyah. Entah kenapa setiap kali bersama Bugi, aku merasa sangat lepas dan nyaman.

“Apa yang membuatmu akhirnya meninggalkan Bubi, Filo-filo?” Tanya Bugi.

“Your soul is perfectly dark. I love you so much then.” Kataku lembut dengan tatapan penuh canda.

“Jawaban yang seksi.” Katanya tersenyum jenaka.

“You never hide anything inside of you.” Lanjutku kali ini dengan sedikit serius.

“It’s the part of being human.” Sahutnya tak kalah cepat.

Kami saling bertatapan. Lalu Bugi meraih dan menggenggam tanganku.

“That’s why, aku menerima tawaran menjadi pemegang saham sekaligus direktur disini. Aku enggak akan kemana-mana lagi, Filo.” Katanya penuh arti.

Aku tersentak.

“Maksud kamu?” Tanyaku berusaha tenang.

“I want you to stay with me.” Katanya penuh penekanan.

Mencintai dan hidup bersama Bugi adalah impianku selama ini, namun aku pun tak siap melepas Bubi secepat ini. [To be continued]

 < PETAK UMPET 3PETAK UMPET 5 >


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s