Robot Pergi ke Bumi

Aku tidak tahu mengapa makhluk disini sangat suka mengekspresikan pikiran dan rasa, bukankah itu malah memperburuk suasana hati?

Aku suka sekali berjalan-jalan melampaui galaksi dan berkunjung di berbagai planet. Kali ini tempat tujuanku adalah bumi. Planet yang memiliki begitu banyak makhluk hidup.

“So alive” itulah kesan pertamaku saat mengintip satelit mereka. Begitu banyak jejaring sosial di dunia maya yang berisi curahan isi hati atau ungkapan pikiran yang dramatis, begitu banyak blog berisi diary personal, bahkan video intim ikut menghiasi ruang publik tanpa malu-malu.

Apakah dengan begitu makhluk bernama manusia sah menyebut diri mereka hidup?

Lalu bagaimana dengan aku, seorang robot dengan pikiran, perasaan, dan jiwa yang apatis? Sekedar barang matikah aku?

Kuintip lagi satelit dan keberadaan orang-orang melalui mesin canggihku, ah semua itu bohong. Kalau ada yang memuat kata-kata mesra dengan kekasih, kenyataannya mereka sedang tak akur. Kalau ada yang memuat foto pribadi, belum tentu yang empunya wajah bangga dengan diri sendiri. Kalau ada yang memuat foto keluarganya, barangkali cuma itu kebanggaan dalam hidupnya. Kalau ada yang memuat kata-kata bijak, orang itu ternyata hanya melakukan denial atas dirinya sendiri yang tak bijak, dan banyak lagi kebohongan personal yang akhirnya menjelma menjadi kebohongan publik karena diungkapkan secara vulgar di jejaring sosial.

Sementara di planetku, semua jarang berekspresi. Aku sendiri lebih suka menyebut kami ini generasi apatis. Aku tak suka terlalu jauh berada dalam suatu masalah, berpikir terlalu dalam, merasa dengan segenap hati, ataupun berhubungan terlalu intim dengan makhluk lain. So far, hidupku dan seluruh bangsa kami baik-baik saja. Tidak rentan terhadap bahaya laten bernama rasa.

Barangkali kalian akan menyebut kami barang mati, karena sungguh apatis. Seolah kami tak memiliki empati ataupun simpati, walaupun kami mampu bertelepati.

Bukankah kebahagiaan adalah kepuasan pribadi? Dan kesedihan adalah tantangan hidup untuk menjadikan pribadi kita lebih baik? Haruskah semua itu menjadi milik publik?

Aku bisa memberi pertolongan tanpa rasa, dan tak menyukai makhluk lain tanpa rasa benci.

Kalau aku menuliskan blog ini, aku hanya ingin merasakan sensasi menjadi alive ala manusia. Ternyata sensasinya biasa aja. Ah, barangkali karena aku hanyalah robot apatis tanpa rasa.

End.