Bilik Kecil

Aku selalu punya bilik kecil di tempat itu. Tempat kumenuangkan keramaian dalam sunyi yang memabukkan.

 

Aku tidak pernah ingat hari pertama aku bekerja di kantor itu. Bahkan kubikel yang aku kuasai, kursi yang aku duduki, ataupun komputer yang aku gunakan sehari-hari. Aku hanya ingat, aku selalu memiliki bilik kecil, tempat aku menghilang dari hiruk pikuk orang-orang yang mengejar ambisi dan menjadikan politik kantor sebagai udara yang mereka hirup setiap saat.

Bilik kecil itu hanyalah dua; toilet dan perpustakaan.

Di toilet, aku bisa menuangkan sampah-sampah hasil tekanan kantor dan caci maki yang menggunung di balik sikap datarku yang tenang, sembari sesekali berusaha tebak suara, tebak kaki, atau tebak rumor tentang orang-orang yang keluar masuk ke dalam toilet.

Di perpustakaan, aku bisa menemui sepi dengan lebih leluasa. Hanya suara lembaran kertas dibolak-balik yang mengusik acara kencan kami. Segala kata-kata ekspresi dari rasa depresi beradu dengan kata-kata yang menguar dari majalah maupun buku yang kubaca. Tiba-tiba saja, kemudian semuanya hilang tak berjejak. Menyenangkan.

Dua bilik kecil itu kemudian menjadi saksi bagaimana pikiran dan hati akhirnya bekerjasama dan memberi keputusan padaku untuk hijrah ke tempat lain.

Peristiwa selanjutnya adalah acara resign dan hari pertama di kantor yang baru. Tentunya kali ini pun aku tak terlalu menaruh peduli apakah kedua agenda tersebut termasuk sesuatu yang harus aku ingat dengan khusus dalam hidupku ataupun tidak. Tapi aku sekali lagi memiliki hal yang aku ingat tentang bilik kecil; di kantor-kantorku yang baru dan selanjutnya, aku tidak memiliki bilik kecil seperti kantorku yang pertama, karena sekarang bilik kecilku punya mata, mulut, hati, jiwa dan nama.

Teman seprofesi yang menyenangkan adalah bilik kecil yang eksklusif, mewah, private, bahkan bisa menawarkan berbagai solusi.

Senang rasanya bisa berbagi bilik kecil, dimana kami bisa melakukan petualangan  menjelajah ruang pikir dan berbagai kantung rasa, lalu sama-sama bersembunyi seolah kami hanya sedang bermain petak umpet dengan realitas yang pedas.

Ada kalanya bilik kecil yang lama pergi, dan datanglah bilik kecil yang baru.

Namun, semua bilik kecil selalu sangat berarti bagiku.

Di hidup ini, aku memilih untuk memiliki dan menjaga begitu banyak bilik kecil yang menawarkan kunci dan pintu masuk.  Aku butuh memasuki bilik-bilik kecil itu, dan menjadi bilik kecil bagi orang lain.

Mari bersembunyi sejenak, bercumbu dalam gelap, membungkam kegaduhan, dan menertawakan fantasi sebelum akhirnya memasuki kembali ruang besar bernama kenyataan.

The end.


One thought on “Bilik Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s