Aku Bukan Gadis Museum

Tidak ada lagi masa lalu yang ingin kusimpan.

Kamu adalah salah satu donatur terbesar barang-barang antik di museumku.  Ada surat cinta masa lampau dengan kertas yang sudah kekuning-kuningan. Baju klasik yang aku pakai saat pertama kali berkencan denganmu. Serta sederet kisah yang terwakilkan oleh berbagai barang yang menjadi saksi bisu diantara kita berdua. Sebongkah batu Kristal menjadi pralambang sebongkah hatiku untukmu.

Tidak ada barang-barang antik di masa lalu yang sehebat barang-barang darimu. Awalnya aku menyukai semua itu, walaupun kamu kemudian berhenti menjadi donatur untuk museumku.

Lalu tren bisnis berubah haluan. Museum tak lagi menarik untuk kebanyakan orang dan juga untukku. Aku kini lebih suka sesuatu yang terus-menerus baru. Ada tantangan dan keuntungan yang lebih menarik.

Aku mulai berniat untuk mengubah museumku barangkali menjadi galeri seni yang bisa selalu update lebih sering daripada museum, atau butik pakaian, atau gerai franchise junk food. Fresh, bukan?

Di saat itulah, kamu datang kembali mengunjungi museumku.

Kamu menawarkanku beberapa barang, ah tapi ternyata hanya barang-barang lapuk yang aku tahu persis para pelanggan setiaku pun pasti tak ingin berkunjung demi melihat barang-barang itu. Aku pun tak lagi tertarik dengan barang-barang darimu. Entah kenapa, nilai dan sisi historis barang-barang darimu itu terhitung nol.

Kedatanganmu membuat tekadku menjadi bulat untuk menutup museum ini, dan menjadikan tempat ini sebagai sebuah tempat usaha baru yang mampu menampung hal-hal terbaru pula.

Kamu sedih dan kecewa. Sama sekali tidak menyangka aku bisa setegas ini menutup museumku,dan mengobral semua barang-barang darimu. Hanya ada satu barang yang tak kunjung laku, yaitu sebongkah batu Kristal. Dengan cuma-cuma akhirnya kuberikan pada penjual barang bekas yang mampir di garage sale yang kuadakan. Kamu terlihat patah hati. Lebih patah hari daripada aku yang dulu patah hati karenamu.

Maafkan aku. Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan untukmu.

Lalu kamu tak mau pergi demi menyaksikan aku yang mengubah museum itu untuk akhirnya menjadi sebuah gerai kopi. Franchise dari sebuah gerai kopi internasional yang sejak dulu selalu menjadi favoritku.

Banyak orang datang dan pergi, mereka membawa begitu banyak nuansa dan cerita baru yang tentunya lebih menarik. Aku berharap akan ada seorang pengunjung yang nantinya bisa berbagi denganku menjalankan bisnis baruku.

Lalu kamu menghilang di bawah deraian hujan deras. Sementara aku menyesap secangkir cappuccino hangat dari baristaku, memalingkan mukaku darimu kearah seseorang yang baru saja masuk gerai kopiku.

The end.


2 thoughts on “Aku Bukan Gadis Museum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s