Di Balik Dunia Tobong

Gambar

Detak kehidupan, luapan rasa, hujan ide, tawa getir, tangis bahagia semuanya harus dituangkan dalam adonan pulen demi terwujudnya suguhan hiburan yang tak ubahnya seperti makanan, butuh pengorbanan dan waktu tak terhingga demi kenikmatan sesaat. Inilah dunia tobong.

Saya bukan seniman tulen. Banyak teman saya yang merasa dirinya seniman menjuluki saya pegawai industri. Saya tidak keberatan. Toh saya memang dalam berkarya selalu bernegoisasi dengan industri, entah karya saya, atau gaji bulanan saya tentunya. Lalu apakah dengan begitu, karya saya tidak bisa disebut karya seni?

Sekali lagi saya tidak keberatan. Namun apabila usaha saya dan teman-teman saya di bidang industri hiburan dibilang tak setara dengan usaha para seniman dalam menghidupkan dunia tobong mereka, saya keberatan.

Dunia tobong. Kita memiliki cara yang berbeda untuk menghidupkan dunia itu. Selebihnya, kita sama-sama merasakan betapa dunia nyata di balik dunia tobong sungguh tak seindah, bahkan tak segemerlap dunia tobong itu sendiri.

Seperti cerita-cerita sedih para seniman yang sungguh mengabdi pada seni, di dunia tobong mereka memiliki peran entah sebagai raja atau puteri tercantik di seantero kerajaan antah berantah, namun dalam panggung kehidupan ini, mereka hanyalah aktor malang yang demi kepulan asap di dapur harus menjalani profesi lain seperti penarik pedati atau tukang bangunan.

Saya dan teman-teman tentunya punya cerita yang walau tak serupa, namun bernafas sama. Ironi. Kita selalu memiliki ironi tragis di balik dunia tobong.

Untuk menghadirkan sajian beberapa menit saja, kita harus mengusir kantuk berhari-hari lamanya. Demi mempersembahkan hiburan yang mampu membuat penonton bahagia, kami harus menggadaikan kebahagiaan kami sendiri, entah dengan melewatkan momen bahagia bersama orang tersayang, atau menafikan kehidupan pribadi.

Pun banyak kisah hidup kelam di balik dunia tobong. Rumah tangga yang hancur. Perceraian yang alot. Anak-anak yang tak benar-benar mengenal siapa ayah dan ibu mereka. Wanita tangguh yang tak kunjung dilamar, hingga akhirnya bersembunyi di balik pilar bernama jabatan untuk menutupi kisah cintanya, yang barangkali mengecapnya pun ia tak pernah. Lelaki hidung belang yang berdalih demi penghayatan peran, lalu menghalalkan perzinahan. Wanita yang terus menelan begitu banyak pekerjaan bahkan perjalanan dinas dengan alasan demi show must go on, padahal ia menjalani semua itu untuk menanggung keperihan hatinya tatkala ia sadar, suaminya bukan jodoh yang ia harapkan. Para lelaki yang melambai dan mendamba cinta dari lelaki lain. Kehidupan hingar bingar yang semu. Isu gender yang tumpah ruah tak karuan demi begitu banyak pembenaran. Operasi plastik menjelma menjadi rahasia di balik keelokan sang aktor dan aktris. Kisah yang dimampatkan dari begitu banyak ide dengan motivasi pribadi yang terselubung. Politik dan persaingan yang dileburkan di balik topeng-topeng. Bahkan kehilangan hati nurani pun tak menjadi masalah demi terciptanya pagelaran maha sempurna. Pun akhirnya menjual jiwa demi meleburkan diri dalam dunia tobong. Lebur dan hilang seiring berakhirnya dunia tobong itu.

Saya tak mengharapkan semua itu terjadi pada saya pun teman-teman saya. Toh ada segelintir teman yang sangat bisa membedakan garis diantara panggung kehidupan ini dan dunia tobong. Teman-teman yang melarutkan diri dalam karya, tanpa pernah berkeinginan mendapat spot light layaknya seorang tokoh di dunia tobong. Saat tanggung jawab selesai, cepat-cepat ia kembali ke panggung kehidupan, entah bertemu sahabat, menggendong si anak pertamanya, atau mencumbu kembali sang kekasih. Ya, kita punya peran yang sesungguhnya dalam panggung kehidupan. Motto kehidupannya bukanlah tagline yang digembor-gemborkan dalam dunia tobong seperti Satu untuk Bersama, Oke dan Bisa, tapi motto sederhana yang sungguh riil dan menggugah hati; Anakku sudah bisa jalan! Aku mau married! Travelling is the best part of my life! dan banyak lagi tentunya.

Saya pun membatasi diri saya dan berusaha memberi waktu yang paling tidak setara antara berkarya di balik dunia tobong dan panggung kehidupan. Kalaupun ada kegagalan yang terjadi dalam panggung kehidupan, saya tidak lantas menjadikan dunia tobong itu tempat persembunyian saya. Biarlah dunia tobong hanyalah dunia tobong. Biarkan saya berperan sepenuh hati di panggung kehidupan saya sendiri.

Inilah kumpulan kain perca seumpama kita boleh menyebut dunia tobong sebagai kain utuh. Kecintaan saya pada dunia tobong tak sebesar cinta saya pada panggung kehidupan yang disutradarai langsung oleh sang Maha Pencipta. Kita bukan sekedar pelakon, kita karya-Nya nan agung.

16 Desember 2011
Untuk dunia tobong saya yang pertama, yang terangnya mulai memudar, saat orang-orang dibaliknya lebih memilih mencampur-adukkan dunia tobong dan panggung kehidupan. Ah seandainya kalian tahu, menjadi tua selayaknya seperti padi. Menjadi semakin lihai semestinya mencontoh samurai. Menjadi hebat seyogyanya makin mengakui kebesaran Sang Pencipta dan merangkul sesama dengan lebih erat.


One thought on “Di Balik Dunia Tobong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s