Siapa yang beruntung? – Jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.03

Kata ibu saya, yang nantinya menikah dengan saya akan merasa beruntung, sementara saya berpikir sebaliknya.

Ibu saya berkomentar terus menerus bahwa saya ini sebagai wanita pekerja sangat sensitif dalam hal terkait urusan rumah tangga – saya belum menikah so it refers to nurturing, kitchen matters and so on, sehingga ibu saya menilai saya tahu apa yang harus saya lakukan demi memenuhi kebutuhan bersama.

Saya tidak terlalu bangga dengan pujian itu, karena saya malah berpikir sebaliknya. Ya barangkali nurturing people for only a few days berbeda dengan yang harus ngurusin tiap hari dengan komitmen seumur hidup. Itulah mengapa saya tampak sempurna di mata ibu saya, yang saya kunjungi hanya di saat-saat saya cuti dan libur hari raya.

Kalau mau berbesar rasa sedikit, barangkali saya ini punya bakatlah untuk bisa menjadi pendamping yang okay, tapi apalah arti bakat tanpa kemauan.

Saya ini wanita aneh yang bisa menjadi sangat entertaining dan nurturing, tapi saya wanita tanpa garansi yang bisa pergi kapan saja dan butuh waktu untuk diri sendiri.

Saya bukan tipe wanita normal yang bisa berbasa-basi di acara keluarga terlalu sering, tidaklah seorang wanita yang selalu bisa jadi konyol dan meracau dengan suara aneh di depan anak kecil, bukan anak berbakti yang bisa selalu mendengarkan keluh kesah begitu saja, suka menghabiskan waktu di kedai kopi mahal, dan begitu banyak kekurangan yang merupakan dampak dari kesenangan saya memuja-muja apa yang namanya privacy.

Tapi bukan berarti saya tidak mau menikah dan bertoleransi.

Setelah melihat film I Don’t Know How She Does It, saya makin tahu bahwa kehidupan pernikahan itu memang butuh komitmen tingkat tinggi, untuk itu diperlukan tak sekedar kekasih, gigolo, atau lelaki mapan, namun seorang partner untuk bisa bahu membahu dalam komitmen tersebut.

Saya pun jadi sadar bahwa keanehan yang ada pada diri saya, barangkali hal  umum, toh manusia memang tidak ada yang sempurna bukan? Toh banyak orang yang memiliki kekurangan namun tetap terlihat seksi, seperti Johny Depp yang cool tapi creepy, Shak Rukh Khan dengan tariannya yang kadang agak bikin doi norak, dan banyak lainnya. Mungkin saja Susi, si isteri Tukul, memang menganggap bibir suaminya seksi.

Pada akhirnya, beruntung atau tidak beruntung, kitalah yang menentukan. Toh kita tak lagi hidup di jaman Siti Nurbaya, atau memilih jodoh layaknya kucing dalam karung, atau memilih dari daftar nama yang disodorkan orang tua kita seperti lotere dan ketika membukanya kita mendapat pilihan ‘anda kurang beruntung’.

Sebagai wanita masa kini, saya enggan bersembunyi di balik karier saya untuk menutupi status jomblo saya. Saya tidak takut menikah. Saya hanya seperti layaknya seorang pengunjung di theme park, yang harus mengukur nyali sendiri sebelum naik roller coaster.

Barangkali sekarang saya belum beruntung mendapatkan partner dalam hidup saya, tapi paling tidak perbolehkan saya merasa beruntung karena tidak terjebak dalam omongan tetangga atau tuntutan sosial.

Are you lucky?

Menelusuri Jejak Patah Hati – jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.01

Jawaban Itu Kamu – jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.02


One thought on “Siapa yang beruntung? – Jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s