Forgive Me, I Miss Him

Aku tak lagi nyaman saat kita terperangkap dalam satu ruang dan waktu. 

Saat pertama kali aku bertemu denganmu, banyak kata yang identik dengan dirimu; pelabuhan, tempat tinggal, muara, dan dunia. Terpikir olehku, aku akan berhenti jatuh dan mencintai saat aku dan kamu saling memiliki.

Kamu pria ideal. Begitulah pendapat keluarga dan teman-temanku. Aku pun tak meragukan dirimu. Kamu membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung. Pun kamu juga menyelamatkan aku dari banyak kisah tak berujung.

Lalu kamu dan aku mulai berjalan bersama. Aku merasakan kehidupan super normal yang sangat didambakan banyak isteri di dunia ini. Kamu amazing. Sebagai seorang wanita bolehlah aku juga menerima banyak sisi dari seorang pria, kamu menjadi ayah saat aku bingung dan terluka, menjadi suami saat kita harus bahu membahu mengerjakan banyak hal terutama untuk persiapan masa depan kita kelak, menjadi kekasih saat aku ingin hujan cinta, sekaligus menjadi seorang gigolo di ranjang.

Hanya saja, semua yang indah tak bisa selamanya indah. Too good to be true.

Kamu membuatku berhenti menulis. Kamu bisa menjadi apapun dengan sempurna, kecuali satu. Kamu tak pernah bisa menjadi inspirasiku. Kamu tak ubahnya tokoh utama dalam film Hollywood atau pangeran dalam dongeng yang indah pada suatu waktu dan harus segera dibekukan dengan kata the end, happily ever after.

Bukan karena aku menginginkan kehidupan penuh konflik, tapi kamu membuatku berhenti berimajinasi. Kamu fantasi yang telah terwujud. Imaginasi yang tervisualisasikan dengan utuh. Terlalu sayang untuk kuporak-porandakan, pun terlalu indah untuk kumiliki selamanya.

Saat tak ada keberanian untuk memutuskan sesuatu tentang kita, dia datang dalam kehidupanku. Dia memberiku begitu banyak huruf yang bisa aku susun menjadi begitu banyak tulisan. Kadang dia menjelma menjadi banyak kisah yang menarik hingga bisa kurangkai menjadi sebuah bunga rampai yang indah. Inspirasi tiada henti.

Hanya saja dia adalah inspirasi. Tak lebih.

Buatku kamu dan dia tak ubahnya yin dan yang, saling melengkapi demi keseimbangan yang kubutuhkan. Sementara banyak teman kita bilang ini tak adil buatmu; membuatku terdesak, dan merasa menyimpan banyak rahasia, hingga akhirnya ku tak lagi nyaman bersamamu.

Hingga suatu malam, saat akhirnya kamu mampu mengurungku dalam suatu waktu, aku tak bisa lagi menahan diri untuk bilang, “Forgive me, I miss him”.

Lalu kamu memelukku erat-erat, tak pernah melepaskanku pergi lagi. Walaupun dengan begitu kamu sadar kamu tak lagi memilikiku sepenuhnya.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s